
...25...
Nyonya Hana terlihat sangat sibuk di dapur. Tiga pelayan yang membantunya sampai kewalahan karena perintah dari sang majikan. Belum lagi, Vihan dan Tuan Ferdy yang ikut menjadi korban yang ditugaskan merapikan meja makan.
Sejak tadi, kedua pria itu terus saja mengeluh karena terkena omelan serta perintah dari Nyonya Hana tiada henti.
"Hei, Vihan. Itu garpunya kenapa pake yang itu. Ambil garpu yang Momy beli kemarin di LA. Itu garpu sederhana banget, malu nanti dilihat sama Alena!" seru Nyonya Hana dari arah dapur sambil membawa beberapa makanan di tangannya.
Vihan menghembuskan nafasnya kasar. Sejak tadi ia belum selesai karena masalah garpu. Sudah tiga kali ia bolak-balik hanya untuk mengganti garpu. Tuan Ferdy yang melihat wajah kesal putraa sulungnya hanya tertawa lucu.
"Dady, dari pada ketawa-ketawi kek kuntilanak nyasar, mending Dady ambilin gelas yang kemarin Momy beli di Australia. Gelas ini terlalu polos untuk dilihat sama Alena!" titah Nyonya Hana, yang lansung membuat Tuan Ferdy gigit jari karena ia juga kena imbasnya.
"Ayo, kalian cepat sedikit. Tamu spesial mau dateng ke rumah!" seru Nyonya Hana pada ketiga pelayannya yang langsung kocar-kacir mempercepat pekerjaan mereka.
Mereka diperintah ini dan itu, seperti yang akan bertamu adalah seorang presiden. Di mana semuanya harus terlihat sempurna. Di mulai dari tata letak alat makan, lalu bunga hias, dan banyak lagi lainnya. Namun, siapa yang berani membantah Ratu Rumah ini. Bahkan, Tuan Ferdy sekalipun tidak bisa membantah perintah sang istri.
"Mom, ini terlalu berlebihan tau ngak," protes Vihan yang mulai sedikit lelah sembari meletakkan garpu di atas meja.
"Berlebihan bagaimana?" tanya Nyonya Hana dengan memasang tanduk, yang langsung membuat Vihan bergidik ngeri dan kabur dari dapur.
"Hhhh, dasar anak itu. Sudah dibilang Alena mau datang malah protes. Alena itu gadis spesial karena dia sudah menyelamatkan Vans. Jadi, jamuannya harus terkesan mewah dan sempurna," gumam Nyonya Hana pada dirinya sendiri.
Vans yang sudah siap segera turun dari kamarnya. Saat melewati meja makan, ia di buat melongo dengan pemandangan di depannya. Pasalnya, meja makan yang selama ini ia gunakan kini di sulap menjadi meja makan ala hotel bintang lima. Semua tertata dengan begitu rapi dan indah. Bahkan, pelaratan makan kesayangan sang Momy dikeluarkan dari brangkas rumah. Sepertinya, Alena adalah tamu yang sangat spesial.
"Huhhh, gila Dad. Momy mengubah pangeran menjadi pelayan," gerutu Vihan yang terdengar dari bawah tangga.
"Jangankan pangeran. Raja di rumah ini, Momy ubah jadi pengrajin gelas. Huhhh, Dady sangat lelah terus di suruh mengganti gelas dan mengelapnya," sahut Tuan Ferdy yang sedang bergosip dengan putra sulungnya.
"Kita sudah seperti akan menyambut presiden saja. Semuanya harus sempurna dan terlihat mewah."
"Kamu tahulah momymu, dia sangat lebay dan alay. Padahal, Dady sudah tawarin buat makan malam di restauran bintang lima tapi dia malah ngancam Dady bilang malam ini tidur diluar sama nyamuk."
__ADS_1
Vans yang mendengar obrolan kedua pria tersebut tertawa dengan lucu, mendengar saudara dan ayahnya yang sedang kesal karena kelakuan sang Momy, membuat perut Vans terasa digelitik ribuan ulat.
"Ha ... Ha ..., kasihan sekali kalian," ujar Vans menertawakan Vihan dan Tuan Ferdy yang terlihat sudah penuhi dengan keringat.
"Jangan menertawakan kami Vans. Seharusnya kamu yang mengerjakan ini semua, malah kita yang harus jadi korban," kesal Vihan.
"Kau tahu, kaki Dady sampai encok karena di suruh bolak-balik terus sama momymu. Bukannya membantu kamu malah tertawa," tambah Tuan Ferdy yang juga ikut kesal karena ditertawakan.
"Aku punya tugas terhormat, yaitu menjemput Alena," ledek Vans memasang wajah jelek. Lalu, segera berlalu pergi meninggalkan Tuan Ferdy dan Vihan.
"Cih, jadi supir aja bangga," decih Vihan dengan tersenyum miring. Setidaknya, malam ini untuk pertama kalinya Vans mengajak temannya datang ke rumah. Sejak dulu, Vihan tahu jika teman-teman yang berteman dengan Vans hanya memanfaatkan Vans karena adiknya adalah orang kaya.
Setiap hari Vans selalu mentraktir mereka makan. Namun, adiknya itu tidak pernah menyadari jika dia sedang dimanfaatkan. Vihan pun tidak memberi tahu ataupun melarang karena ia tida ingin Vans tidak punya teman.
Vans berjalan sambil merapikan bajunya. Kali ini ia memakai kemeja berwarna hitam putih dengan corak acak. Tidak lupa, gayanya yang selalu memasukkan kemeja ke dalam celana jins yang dia kenakan. Vans meraih kunci mobil yang tergantung di lemari kunci. Ia akan menjemput Alena dengan mobil.
"Vans!" panggil Nyonya Hana yang langsung menghampiri sang putra.
"Iya, Mom."
"Oke, Mom. Baiklah, aku pergi dulu," pamit Vans dengan mencium pipi Nyonya Hana dan beranjak pergi. Namun, belum beberapa langkah. Nyonya Hana memanggil Vans kembali.
"Vans!"
"Ada apa, Mom?" tanya Vans membalikkan tubuhnya lagi.
"Jangan bawa mobil ngebut-ngebut. Ingat, kamu itu lagi bawa Alena. Jadi, jalannya harus pelan-pelan. Jangan sampai Alena kenapa-kenapa. Kalau Alena sampai lecet kamu berhadapan sama Momy." Nyonya Hana memasang wajah seram.
Ini siapa sih anak Momy, aku apa Alena? Baru juga kenal udah posesifnya ngak ketulungan. Batin Vans.
"Iya Mom, sekalian nanti Vans kekepin Alena kayak telur dikekep sama induknya." Vans langsung melangkah pergi dengan kepala menggeleng. Ia tidak habis pikir Alena memberikan mantra apa dengan momynya sehingga sang Momy sangat menyayangi gadis itu.
__ADS_1
Vans membuka pintu kemudi mobil lalu masuk. Ia meletakkan makanan titipan untuk Nyonya Giana di kursi samping. Ia pun menyalakan mesin mobil dan mulai menggiring benda yang terbuat dari besi baja itu berbaur bersama kendaraan yang lain.
...----------------...
Alena keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah. Tepatnya di ruang keluarga, terlihat Tuan Surya dan Nyonya Giana yang sedang asik menonton. Ketika mendengar suara derap langkah kaki, keduanya langsung menoleh dan mendapati Alena yang berjalan ke arah mereka dengan wajah semringah dan terlihat sangat bahagia.
"Wah, putri Dady udah cantik nih," puji Tuan Surya, yang membuat Alena sedikit salah tingkah.
"Iya donk, Alena harus cantik, kan mau makan malam di rumah Vans," imbuh Nyonya Giana menggoda putrinya.
Wajah Alena yang putih seketika memerah seperti kepiting rebus karena malu. Alena duduk di samping sang Dady dengan wajah yang berusaha di normalkan, meski yang sebenarnya ia merasa pipinya memanas.
"Lena, kan mau makan malam ke rumah Vans, kok pake tompel sama kacamata segala?" tanya Tuan Surya yang ingin melihat putrinya tampil menjadi diri sendiri.
"Ya kan, Vans ngenal Alena dengan gaya ini, Dad. Ngak mungkin juga Alena tampil dengan gaya Lena sendiri. Nanti, Vans mikir apa?" sanggah Alena.
"Ngak papa, tapi kamu seneng temenan sama Vans?" tanya Nyonya Giana.
Alena mengangguk pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Nyonya Giana. Entah mengapa jika membahas tentang Vans, ia pasti merasa kaku dan sedikit salah tingkah.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komentar
gift
__ADS_1
vote
tips