
...78...
"Ya udah, kalau lo ngak mau nyuapin gue. Gue ngak akan makan. Biarin aja gue kelaparan dan besok mungkin gue bakal sakit tapi gue ngak peduli. Itu bukan salah gue tapi salah lo karena lo ngak mau nyuapin gue," putus Vans mutlak dengan wajah kesal dan cemberut. Ia melipat kedua tangan di depan dada serta memalingkan wajah.
Alena melipat bibirnya dalam melihat sifat kekanak-kanakan Vans. Kenapa pria itu tidak peka dan mengerti jika ia sedang berusaha untuk menyingkirkan rasa terlarang di antara pertemanan mereka. Ia bersikap biasa saja agar perasaan yang tumbuh perlahan menghilang. Namun, Vans bertingkah seolah-olah ia adalah gadis yang sangat istimewa di dalam kehidupan pria itu.
Melihat Alena yang hanya diam membuat Vans semakin kesal. Apakah permintaannya terlalu besar sampai Alena tidak mau memenuhinya? Vans menghembuskan nafas kasar. Lalu, bersiap beranjak untuk pergi.
"Tunggu," sergah Alena membuat gerakan Vans terhenti. Ia menatap ke arah gadis bertompel yang memasang wajah pasrah.
"Tetap duduk di sana. Gue bakal suapin lo," putus Alena dengan lesu. Tentu, ia tidak bisa membiarkan perut pria yang ia cintai tidur dengan lapar.
"Kalau lo ngak ikhlas, ngak usah," balas Vans dengan menahan senyumnya. Ia masih menarik ulur agar Alena membujuk dirinya lagi.
"Ck, udah deh jangan ngomong macem-macem. Kalau, gue ngak ikhlas udah dari tadi gue masuk kamar." Alena meraih garpu dan sendok.
"Ikhlas kok wajahnya kayak orang ngak suka gitu. Udahlah, kalau lo ngak mau juga ngak papa. Gue bisa kok tidur dengan perut kosong."
__ADS_1
"Terus gue harus gimana?"
"Ya senyum dikit donk. Muka lo jelek kalau kayak gitu."
"Lo banyak maunya. Padahal tinggal makan doang."
"Omlet telurnya ngak bisa gue cerna kalau ekspresi lo kayak ibu tiri gitu."
"Oke, oke. Gue senyum." Alena menarik kedua sudut bibirnya naik ke atas hingga menciptakan lengkungan indah dan lebar meskipun terkesan di paksakan.
Vans tergelak senang melihat senyum Alena yang seperti senyum pepsodent. Ia sangat senang setelah mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia sangat senang melihat senyum Alena. Jika, gadis itu cemberut dan sedih ia merasa dunianya menjadi mendung. Seolah matahari bersembunyi di balik senyum manis gadis bertompel itu.
Vans menegakkan tubuhnya dan duduk dengan manis kembali. Lalu, membuka mulut lebar-lebar saat suapan potongan omlet telur dari Alena menghampiri mulutnya.
"Sekarang lo puas?" kekeh Alena merasa lucu dengan tingkah manja Vans.
"Mmm, puas banget," jawab Vans cepat sambil mengunyah.
__ADS_1
"Habis ini lo lansung tidur. Ini juga udah malam. Besok setelah pulang sekolah kita mulai buat acara kejutan buat Raline."
"Emang lo udah punya ide?" Wajah Vans berubah serius.
"Udah, cuma begituan gampang kok. Gue pikir kita akan buat kejutan di taman kota yang ada di samping sekolah aja. Biar ngak ribet, pokoknya besok gue jamin Raline bakal jadi pacar lo."
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komentar
Gift
__ADS_1
vote
tip