The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Misi


__ADS_3

...40...


Jam pulang akhirnya tiba. Setelah melewati waktu yang cukup panjang untuk belajar, kini semua murid berhamburan keluar dari gerbang sekolah. Terlihat wajah berseri dan begitu lega dari masing-masing wajar mereka.


Begitupula dengan Vans dan juga Alena yang baru saja keluar dari dalam kelas. Keduanya tengah berjalan beriringan melewati lorong yang panjang.


"Emang kita mau kemana sih, Len? Jangan sok misterius gitu deh," ujar Vans sambil mengeratkan tali ransel di bahunya.


"Udah, lo tinggal nurut aja sama gue. Gitu aja banyak omong," timpal Alena yang belum ingin memberitahu kemana ia akan membawa Vans. Akan tetapi, yang pasti semuanya akan berubah.


"Jangan bilang, lo mau nyulik gue?" tuduh Vans asal dengan menunjuk wajah Alena dengan jari telunjuknya.


"Hadeeeh, jangan mikir ketinggian. Ya kali gue mau nyulik cowok kayak lo." cibir Alena dengan tawa tertahan. Sejak pagi, bibirnya terus saja tertawa dan berbicara. Semua itu terjadi karena ada Vans di dekatnya. Pria itu tidak pernah berhenti untuk tidak meledek dan menganggu dirinya. Ada saja yang membuat ia kesal dan senang. Rasanya, hari-harinya semakin berbeda. Ada warna pada cerita yang dulu tak pernah bisa ia rasakan. Namun, kini semuanya terasa begitu indah dan begitu menyenangkan.


Alena menoleh ke samping. Terlihat wajah Vans yang tertekuk. Ia tahu, jika temannya ini sangat kesal karena ia tidak memberitahu kemana ia akan mengajak Vans. Namun, jika ia beritahu sekarang hal itu tidak akan menjadi sebuah kejutan.


Vans dan Alena akhirnya sampai di parkiran. Vans segera menggeret sepedanya dan memberikan helm pada Alena. Akan tetapi, Alena malah meletakkan kembali helm tersebut.


"Pake helmnya!" seru Vans dengan mata melotot.


"Kita ngak akan naik sepeda. Sekarang lo ikut gue, katanya penasaran gue mau ajak lo kemana, ayo!" Alena lansung menarik tangan Vans keluar dari parkiran sekolah. Namun, Vans segera menghentikan langkahnya sehingga tubuh Alena mundur kembali ke belakang. Alena memutar tubuhnya menatap Vans dengan menghembuskan nafas kasar.


"Asal narik aja, sepeda gue gimana? Gitu-gitu tuh sepeda mahal tahu," sebal Vans dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Ya udah biarin aja. Siapa juga yang mau ambil sepeda punya lo. Lo tinggal suruh supir atau siapa kek buat ambil ke sekolah. Pokoknya kali ini lo harus nurut sama gue. Katanya, lo mau dapetin Raline kan?" Alena menyilangkan kedua tangannya di depan dada, di mana alisnya terangkat ke atas.


Wajah Vans seketika berbinar mendengar penuturan Alena. Jika saja, gadis di depannya ini mengatakan hal itu sejak awal. Sudah pasti, ia akan ikut dengan suka rela.


"Kenapa ngak bilang dari tadi sih, Buko," pekik Vans dengan mengacak rambut Alena gemas. Sementara hatinya saat ini tengah berbunga-bunga. Alena yang melihat perubahan ekspresi Vans memutar kedua bola matanya malas. Giliran disebutin nama Raline, pria di depannya ini lansung semangat dengan wajah berbinar. Sedangkan, saat ia yang mengajak pria itu pergi, wajah Vans terlihat cemberut denga bibir yang mengerucut, persis seperti pantat ayam yang baru bertelur.


Hati Alena sedikit merasa tercubit melihat semangat Vans yang begitu menggebu-gebu. Seolah pria berkacamata di depannya baru saja menjadi pemenang sebuah kejuaraan. Entah rasa tidak suka apa yang menelusup ke dalam hatinya, Ia pun tidak tahu.


Rasa aneh apa ini? Batin Alena dengan menyingkirkan perasaan tersebut. Misinya sekarang adalah membantu Vans untuk mendapatkan Raline.


Klep!


Vans menjentikkan jarinya di depan wajah Alena sehingga Alena tersentak bersamaan dengan lamunannya yang buyar.


Alena segera masuk ke dalam taksi. Di mana Vans lansung menutup pintu taksi dan berlari memutar. kemudian masuk ke dalam taksi dan duduk tepat di samping Alena.


"Jalan, Pak!" seru Vans.


Supir taksi tersebut lansung menjalankan mobil sesuai dengan instruksi sang penumpang.


"Sekarang katakan, Len. Kita mau kemana?" tanya Vans lagi, yang membuat Alena merasa sedikit kesal.


"Giliran gue sebut Raline aja lo lansung tancap gas," sungut Alena dengan membuang pandangannya keluar jendela taksi.

__ADS_1


"Ya jelas, gue cinta sama Raline. Sangat cinta malah, gue ngak sabar bisa jadi pacar Raline. Lo inget, kalau gue jadian sama Raline, gue bakal kasi lo pajak jadian. Selama sehari gue akan nurutin semua keinginan lo. Lihat, gue baik banget kan? Biarpun lo kalah taruhan sama gue, gue tetep kasih keuntungan sama lo," ujar Vans dengan begitu bahagia. Tanpa dia tahu, raut wajah Alena yang semakin kesal.


Kenapa sih, saat mendengar Vans menyebut nama Raline aku jadi ngerasa ngak nyaman? Sebenarnya aku kenapa sih? Engak-enggak ... lihat Alena, Vans sangat bahagia. Ini karena kamu sebel aja sama dia, oke. Batin Alena dengan mengulum senyum paksa.


"Gue pegang janji lo. Lo denger ya, untuk satu hari ini lo harus dengerin semua perkataan gue, jangan ngelawan atau pun ngedebat gue."


"Siap, Buko. Demi Raline apapun akan gue lakuin," ujar Vans dengan mantap.


"Pak, jalan sesuai instruksi dari saya!" seru Alena pada supir taksi yang langsung mengangguk.


...----------------...


...****************...


jangan lupa


like


komentar


gift


vote

__ADS_1


__ADS_2