The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Kenyataan yang pahit


__ADS_3

...63...


Sementara wajah Raline semakin memerah karena pujian Vans. Tatapannya terpaku pada Vans yang terlihat salah tingkah, dan saat Vans tidak sengaja menoleh ke arahnya. Tatapan mereka seketika bertaut. Di mana aksi tatap-tatapan terjadi begitu saja. Keduanya larut dalam pesona wajah yang disuguhkan. Kedua mata mereka tak bisa berkedip sekalipun. Tatapan satu sama lainnya sungguh sangat menghanyutkan. Bola mata indah Raline yang begitu memikat membuat Vans betah berlama-lama untuk memandanginya. Begitu pula dengan Raline yang sangat mendamba wajah Vans yang semakin terlihat tampan dalam posisi sedekat ini.


Perlahan, wajah Raline bergerak maju sedikit demi sedikit, mengikis jarak antara wajahnya dengan wajah Vans. Entah keberanian itu ia dapatkan dari mana? Ia pun tak tahu.


Wajah Raline semakin dekat dengan wajah Vans. Hanya tinggal satu centimeter lagi maka kedua bibir mereka akan menyatu. Namun, tiba-tiba wajah bertompel Alena yang sedang tertawa ringan membentur ingatan Vans, hingga Vans menarik wajahnya dengan cepat.


Vans menyugar rambut dan wajahnya dengan pelan. Hampir saja, ia berciuman dengan Raline. Untung wajah Alena menyadarkan ia agar tidak melakukan hal itu. Berbeda dengan Raline yang terlihat kecewa dengan penolakan Vans. Ia juga malu, kenapa ia hampir mencium Vans. Sungguh, ia suda mempermalukan dirinya sendiri.


"Sorry, Ral. Gue ngak bermaksud barusan," ujar Vans meminta maaf dengan nada bicara gugup.


"Iya, ngak papa kok, Vans." Raline menganggukkan kepalanya cepat. Berusaha menghilangkan rasa malu yang sedang melanda dirinya.


"Kita lanjut ya, lo lupain aja yang barusan terjadi." Vans menyalakan mesin mobilnya kembali melanjutkan perjalanan.


"Iya."


"Untung aja tadi, wajah Alena yang ketawa terlintas di pikirin gue. Jadi kita ngak melewati batas," hembus Vans mengalihkan topik pembicaraan.


Raline meremas dengan kuat jari-jari tangannya satu sama lain. Lagi-lagi Alena dan selalu saja tentang Alena. Vans terus saja membicarakan soal gadis bertompel dan berkacamata itu. Sudah buruk rupa, genit lagi. Tidak ada kelebihannya sama sekali. Akan tetapi, dia terus menjadi penggangu.


"Sepertinya lo lagi mikirin Alena," timpak Raline dengan memasang wajah sebiasa mungkin. Padahal sebenarnya ia sudah sungguh sangat kesal. Ada dan tidaknya gadis buruk rupa itu selalu membuat ia kesal.


"Iya, sebenernya tadi gue mau anterin dia pulang tapi karena mobil lo lagi di pinjem sama temen-temen lo, yah jadi dia suruh gue buat anterin lo. Sebenernya gue sedikit khawatir lihat Alena duduk sendiri buat nunggu supirnya." Jujur Vans.


Raline semakin terbakar api cemburu. Vans ternyata begitu perhatian pada gadis buruk rupa itu. Ingin sekali saat ini ia mencaci-maki Alena dan menyuruh gadis itu untuk menjauhi Vans.


"Lo ngak suka kan sama Alena?" Satu pertanyaan yang keluar dari mulut Raline membuat Vans tertawa lucu.


"Ha ... Ha ..., gue sama Alena cuma temenan. Sahabatan ngak lebih kok."

__ADS_1


"Tapi kalian dekat banget."


"Ya wajar kan, seorang sahabat dekat dengan sahabatnya sendiri. Lo cemburu, ya?" canda Vans dengan melipat bibirnya dalam.


"Ngak lah, gue ngak punya hak buat cemburu." Ralien menyangkal hal itu. Padahal, ia sudah habis terbakar api cemburu. Akan tetapi, ia masih punya harga diri.


Vans tersenyum kecut. Dari raut wajah Raline, ia bisa menebak jika gadis itu cemburu. Itu terlihat dari senyum Raline yang dipaksakan.


...----------------...


Di sisi lain, Alena perlahan membuka kedua matanya yang terasa berat. Kedua matanya terasa lengket, seolah diberikan lem. Kepalanya terasa masih pening dan berat. Seolah batu sedang menindih kepalanya.


"Auu," ringgis Alena dengan tubuh yang terasa nyeri. Seluruh sendi dan engselnya terasa kaku dan pegal. Persis seperti yang ia rasakan setelah selesai kemoterapi.


Alena mengedarkan pandangannya. Di mana pemandangan ruangan putih dengan satu sofa yang berada di samping pintu. Alena menatap tubuhnya yang ternyata tengah tertidur di atas brangkar. Bau obat-obatan yang menyengat menyeruak ke lubang hidungnya. Ia yakin jika sekarang ia berada di rumah sakit.


Klek!


"Syukurlah kamu sudah sadar," ujar wanita itu yang diyakini Alena adalah dokter. Namun, satu pertanyaan yang terpikirkan di kepala kecilnya. Siapa yang sudah membawanya ke sini?


"Dengan kondisimu yang seperti ini, seharusnya kamu tahu, stres tidak baik untuk kesehatanmu. Hal itu akan membuat penyakitmu akan sering kambuh." Dokter tersebut memeriksa denyut nadi Alena.


"Siapa yang membawaku ke sini, Dok?" tanya Alena to the poin.


"Temanmu."


"Vans." Itu lah satu nama yang akan keluar jika Alena mendengar kata teman.


"Tidak, mereka dua orang gadis. Untung mereka membawamu tepat waktu."


"Gadis?" beo Alena bingung. Ia sama sekali tidak memiliki teman perempuan. Teman satu-satunya yang ia miliki adalah Vans. Hanya pria itu yang mau menjadi temannya. Lalu, siapa ke dua gadis itu?

__ADS_1


"Dengar, kamu mengidap penyakit yang tidak biasa. Kamu harus menjaga dirimu sendiri. Jika kamu terus stres seperti ini, penyakit kanker itu bisa menggerogoti tubuhmu semakin cepat," jelas Dokter tersebut dengan ekspresi khawatir. Pasalnya, ia tahu seberapa kritisnya kondisi Alena.


"Aku sudah berobat dan katanya penyakitku akan segera sembuh, Dok. Aku sudah menjalani pengobatan di Singapura dan orang tuaku mengatakan jika penyakit kanker ini semakin mengecil," sangkal Alena.


Dokter tersebut mengerutkan dahinya. Sembuh dari mana? malahan kanker itu semakin ganas menyerang tubuh kurus gadis malang ini.


"Tidak, penyakit kanker yang ada di tubuhmu mulai memasuki fase stadium akhir. Tidak ada yang baik-baik saja dengan kondisimu. Kekebalan tubuhmu semakin menurun sehingga kanker yang ada di tubuhmu semakin ganas. Maaf, aku rasa orang tuamu telah berbohong dengan kondisimu yang sebenarnya. Kamu mungkin melakukan pengobatan di Singapura. Namun, itu hanya memperpanjang hidupmu buka membuatmu sembuh. Aku mengatakan semua hal ini bukan untuk membuatmu patah semangat. Akan tetapi, kamu berhak mengetahui kenyataan ini walaupun pahit."


Air mata Alena tumpah begitu saja. Harapan dan semangatnya hancur seketika. Dunianya terasa digoncang dengan sangat hebat. Di mana matahari dalam dunianya seketika berhenti bersinar.


Ternyata semua yang dikatakan oleh kedua orang tuanya adalah kebohongan. Ia tidak pernah bisa sembuh dan akan terus terbelengu dengan penyakit ini.


Kenapa, Kenapa Dady dan Momy membohongiku? Kenapa mereka memberikan harapan palsu padaku? Seharusnya mereka mengatakan semuanya. Bukan malah membohongiku seperti ini. Aku mulai berani bermimpi dan terbang dengan bebas. Namun, sayapku dipatahkan dengan kenyataan ini, hiks ... Hiks .... Batin Alena dengan tangis yang tak terbendung.


Tangisan yang syarat akan luka dan derita. Tangisan yang begitu terdengar pilu. Tangisan kecewa dengan rasa sakit hati yang bercampur menjadi satu.


"Alena!" panggil suara gadis yang masuk ke dalam ruangan tersebut. Membuat Alena menghapus dengan cepat air mata di wajahnya. Ia menatap tidak percaya melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan ini.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar


gift


vote

__ADS_1


tips


__ADS_2