
...43...
Taksi yang mereka tumpangi akhirnya sampai di depan sebuah mall pusat perbelanjaan kota. Bangunan yang jauh lebih besar berkali-kali lipat dari pada salon yang barusan mereka kunjungi.
Vans lagi-lagi mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti mengapa Alena membawa ia ke sini. Akan tetapi, yang pasti Alena akan melakukan sesuatu. Tanpa menunggu lama, Alena kembali menarik tangan Vans untuk masuk ke dalam mall. Ia harus segera menyelesaikan misinya hari ini. Ia sudah tidak sabar melihat hasil pekerjaannya.
"Mall? Untuk apa kita ke sini?" cecar Vans dengan cemas. Mereka tengah berjalan beriringan menuju sebuah toko.
"Ya, untuk belanja, memang untuk apa lagi?" jawab Alena dengan antusias.
Vans merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang tunai dan menyerahkannya pada Alena. Tentu saja, ia laki-laki gentel yang akan membayar belanjaan gadis yang bersamanya. Mau ditaruh dimana wajahnya kalau sampai Alena membayar sendiri apalagi membayar belanjaaannya. Tadi saja, biaya salon dibayar oleh Alena. Vans akan segera mengganti uang tersebut setelah sampai di rumah karena ia sama sekali tidak membawa Credit Card.
Namun, Alena menolak uang yang diberikan oleh Vans. Ia menggelengkan kepalanya sembari mengembalikan uang tersebut.
"Tidak perlu, gue bawa Credit Card. Lo ngak perlu sungkan karena ini bagian dari misi gue karena udah kalah taruhan," jelas Alena dengan menunjukkan Credit Card yang ia goyang-goyangkan di depan wajah Vans.
"Tetep aja, mau ditaruh dimana muka gue yang sebagai cowok dibayarin sama cewek," sanggah Vans.
"Ya taruh aja di tempatnya. Ngak ada kok yang minta lo taruh muka lo di atas rooftop," ejek Alena dengan tertawa lucu.
"Bukan gitu maksud gue, Buko."
"Lo ngak perlu ngerasa gitu sama gue. Lebih baik bibir lo di gembok bentar. Telinga gue jengah banget denger lo yang protes dari tadi."
"Iya-iya tapi lo jangan aneh-aneh. Gue sabar karena lo temen gue."
Hati Alena merasa tercubit perih saat mendengar kata teman yang keluar dari mulut Vans. Ada rasa sakit di ulu hatinya. Namun, ia tidak mengerti mengapa ia merasa sakit hati saat Vans menyebut dirinya hanya sebagai teman? Padahal semua itu memang benar.
"Masuk yuk!" ajak Alena saat ia sudah sampai di sebuah toko softlane. Ia tidak mau mengerti dengan perasaannya yang entah semakin hari semakin aneh.
Wajah Vans terlihat takut saat memasuki toko tersebut. Perasaannya yang tidak enak terbukti, padahal ia sudah mengatakan pada gadis bertompel itu untuk tidak melakukan hal-hal yang aneh. Akan tetapi, sepertinya Alena memang sengaja ingin membuat ia mati serangan jantung.
__ADS_1
Alena segera mendekat ke arah petugas toko, meninggalkan Vans yang masih menelisik toko tersebut dengan wajah ketakutan, seakan pria itu sedang berada di dalam rumah hantu.
"Mbak, ada softlane buat penderita sakit mata rabun jauh ngak?" tanya Alena pada petugas toko.
"Iya, Nona. Berapa ukuran minus anda?" balasnya dengan ramah.
"Oh, bukan saya yang mau make Mbak tapi temen saya, yang itu." Alena menunjuk ke arah Vans.
"Ya udah, kita harus periksa dulu minus teman, Nona. Supaya kita tahu softlane mana yang cocok untuk matanya."
Alena segera berlari ke arah Vans. Seperti biasa, ia menggeret Vans persis seperti menggeret karung yang berisi penuh.
"Ini, silahkan di periksa, Mbak!" seru Alena dengan menekan bahu Vans untuk duduk di sofa.
"Lena, lo mau ngapain gue?" tanya Vans yang semakin takut.
"Ssstttt, diam aja dan nurut." Alena meletakkan jari telunjuknya di bibir Vans dengan wajah mereka yang kini berjarak hanya dua centimeter.
Vans menelan salivanya paksa, saat wajah Alena berada sangat dekat dengan wajahnya. Ia merasa seluruh tubuhnya membatu dan terjebak pada kedua mata indah Alena yang begitu memikat. Entah apa yang menarik dirinya hingga ia merasa tenggelam jauh ke dalam bola mata indah itu.
Alena perlahan menjauhkan wajahnya karena Vans sudah tidak lagi menolak dan memberontak. Ia menarik nafas dalam karena jantungnya mulai berdetak tidak karuan lagi. Jantungnya benar-benar membuat ia repot karena saat berdekatan dengan Vans jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Seolah-olah siap keluar dari rongga dadanya.
Petugas toko mulai memeriksa kedua mata Vans. Setelah semuanya selesai, sang petugas toko memasangkan soflane yang cocok untuk kedua mata Vans.
"Selesai, sekarang buka matanya!" titah petugas toko dengan senyum mengembang.
Alena yang berdiri tepat di depan Vans, merasa sangat tidak sabaran. Ia sangat penasaran melihat Vans tanpa memakai kacamata.
Setelah mendengar instruksi dari sang petugas toko. Vans mulai membuka kelopak matanya dengan perlahan. Siluet Alena yang terlihat buram semakin jelas saat kedua matanya terbuka dengan sempurna.
Vans mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru toko. Ia tersenyum senang dengan perasaan tidak percaya. Vans mengangkat tangannya menyentuh area wajahnya yang selalu memakai kacamata. Namun, kini benda besar itu tidak terpasang di wajahnya dan ia bisa melihat dengan jelas.
__ADS_1
"Gue bisa melihat tanpa kacamata," ucap Vans dengan senang. Ujung hidungnya tidak lagi merasa berat karena kacamata yang selalu ia pakai. Sungguh softlane ini membuat ia merasa menjadi pria normal.
Alena bertepuk tangan dan berjingkrak. Ia juga tak kalah senangnya melihat Vans yang terlihat sangat bahagia. Vans terlihat sangat berbeda tanpa memakai kacamata. Penampilan cupu kini mulai tersingkirkan. Setelah membayar pada kasir, Alena dan Vans keluar dari toko tersebut.
Toko selanjutnya adalah toko baju, ia akan merubah penampilan Vans sampai ke akar-akarnya tanpa melewatkan sesuatu apapun.
Wajah Vans tidak lagi murung ataupun kesal. Wajahnya terlihat sangat semringah dan bahagia. Ia sangat senang karena tidak perlu memakai kacamata lagi.
Alena memilihkan beberapa baju yang menurutnya sangat cocok untuk Vans. Sejak tadi, gadis itu sangat sibuk dan sering mengacuhkan Vans yang hanya mengekor di belakangnya dengan beberapa paperbag di tangan pria itu.
Setelah selesai memilih baju, Alena bergegas menuju toko sepatu dan juga aksesoris, membeli barang-barang pendukung untuk penampilan Vans. Jangan di tanya Alena begitu pintar memilih dan memilah barang-barang fashion untuk Vans, dan hal itu berhasil mengundang rasa curiga Vans.
Alena sangat tahu tentang fashion tapi kenapa dia berpenampilan seperti ini. Rasanya sangat tidak mungkin seorang gadis cupu dan culun bisa memilih pakaian styles seperti ini. Apa Alena sengaja berpenampilan seperti ini? Batin Vans sambil menatap Alena yang masih sibuk memilih model jam tangan pria.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komentar
gift
vote
tips.
Yok biar othor makin semangat ini... dan biar grazy UP terus🥰
__ADS_1