The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Jam pelajaran


__ADS_3

...36...


Bel masuk berbunyi dengan nyaring dan keras, menandakan jika jam pertama akan segera dimulai. Para Guru yang sudah datang karena jadwal mengajar pagi segera keluar dari Ruang Guru dan berjalan menuju kelas ajaran masing-masing.


Sementara di dalam kelas, para murid malah berdecih dan mengumpat kesal karena jam menguras kepala dan sangat melelahkan akan segera dimulai. Rasanya, mereka ingin bolos dan menikmati nongkrong di cafe-cafe langganan. Namun, ada pula sebagian yang senang dengan pelajaran yang akan segera dimulai karena mereka punya Maindsheet datang ke sekolah memang untuk belajar.


Seorang guru dengan senyum manis masuk ke dalam kelas XA yang lansung menghentikan semua aktivitas para murid. Semua murid yang ada di kelas tersebut langsung duduk dengan rapi di kursi masing-masing. Tidak terkecuali Vans dan Alena yang memperbaiki posisi duduk mereka sembari sesekali melempar senyum dan saling pandang.


"Ekhmmm, lo sama Si Gadis Cupu udah naik tingkat jadi jadian yah?" tanya teman sebangku Vans yang selama ini selalu cuek dan tidak peduli. Akan tetapi, jiwa penasaran dalam dirinya seketika bangkit, saat melihat dua makhluk cupu itu terlihat begitu akrab dan saling melempar senyum sejak tadi, persis seperti orang yang lagi kasmaran.


Vans menatap teman sebangkunya dengan wajah cukup terkejut. Tumben-tumben sekali teman sebangkunya yang selalu menghina dan selalu bersikap acuh itu kini peduli tentang apa yang ia lakukan.


"Enggak kok, gue sama Alena cuma temenan. Ngak semua cowok sama cewek kalau deket berarti pacaran," balas Vans dengan santai. Ayolah, dia bukan sosok pendendam walaupun pria di sampingnya memperlakukan dirinya dengan tidak baik.


"Bagus deh."


"Maksud lo?"


"Ya bagus, setidaknya kalau lo ngak pacaran notifikasi pesan group sekolah di hp gue ngak akan membludak karena berita tranding topik dengan judul 'Dua murid cupu akhirnya jadian'." Teman sabangku Vans tersenyum mengejek. Sedangkan, Vans memilih untuk tidak peduli dan tak memasukkan ucapan teman sebangkunya yang selalu menyakitkan itu ke dalam hati. Seperti yang baru saja dikatakan oleh Alena untuk tidak mendengarkan perkataan orang lain, yang hanya bisa mengomentari dan menghakimi.


"Selamat pagi, semua!" seru sang guru sambil membuka buku yang ia bawa.


"Selamat pagi, Bu!" jawab semua murid dengan serempak.


"Silahkan buka buku paket kalian halaman 35. Ibu akan menjelaskan materi tersebut. Jadi, tolong perhatikan dengan seksama karena setelah ini, Ibu akan lansung memberikan tugas berkala pada kalian."

__ADS_1


"Baik, Bu," balas seluruh murid dengan nada tak semangat karena mendengar kata tugas di akhir kalimat sang guru.


Pelajaran pun dimulai dan berjalan dengan begitu lancar. Sebagian murid memperhatikan dengan seksama, tidak terkecuali Vans dan Alena yang begitu memperhatikan penjelasan guru. Sementara sebagian yang lain, memilih untuk tidur, bergosip, bahkan ada pula yang main ponsel di bawah meja agar tidak terlihat oleh sang guru.


Alena yang duduk pada kursi paling belakang, melirik ke arah Vans yang duduk di tepi jendela tepat di barisan bangku kedua sehingga ia hanya bisa menatap punggung lebar pria itu.


Vans terlihat sangat serius memperhatikan penjelasan guru yang ada di depan. Sorot matanya terlihat menatap lekat dan tajam. Tanpa sadar, Alena terus menatap ke arah punggung pria itu. Seolah-olah ada magnet yang menarik tatapannnya sehingga tidak bisa berpaling. Ia merasa, menatap Vans sangatlah nyaman dan tidak membosankan. Padahal, ia hanya menatap punggung Vans.


Prak!


Suara benda jatuh lansung membuat lamunan Alena buyar seketika. Seluruh mata menatap ke arah sumber suara, begitupula dengan sang guru yang lansung menatap tajam pada murid perempuan yang dengan gerakan cepat memungut ponselnya yang jatuh.


Murid perempuan yang duduk tepat di depan meja Alena tersebut tersenyum kaku dengan wajah takut.


"Maaf, Bu. Ponsel saya jatuh dari kolong meja," bohong murid perempuan tersebut berusaha menyelamatkan diri.


"Saya tidak ingin melihat wajahmu, sekarang keluar dari kelas saya, dan kamu tidak bisa mengikuti kelas saya selama tiga kali ke depan," lanjut sang guru menatap tajam dan tidak suka pada murid perempuan tersebut, yang hanya menunduk dengan air mata yang sudah mengalir dari kedua sudut matanya. Murid tersebut berjalan keluar dari kelas. Semua murid kini menatap sang guru dengan wajah takut. Takut jika apa yang menimpa murid perempuan tersebut terjadi pada mereka. Para murid yang tidak memperhatikan seketika lansung menegakkan tubuhnya dan menatap ke arah sang guru yang kembali menjelaskan.


"Okeh, penjelasan selesai. Apa ada yang ingin bertanya sebelum saya memberikan tugas?" tanya sang guru menutup penjelasannya.


"Tidak ada, Bu!" jawab murid dengan serempak, yang membuat sang guru menggangguk.


Sang guru mulai menuliskan tugas di papan tulis, yang langsung membuat sebagian murid meringgis membaca soal yang lansung membuat otak kecil mereka terpelintir. Padahal, sudah mendengar penjelasan materi tapi sepertinya otak mereka hanya seujung kuku sehingga materi yang diberikan terasa tidak nyambung dengan tugas yang diberikan.


"Hanya dua soal. Silahkan kalian kerjakan sesuai dengan materi dan rumus yang sudah ibu berikan. Saya menunggu kalian menyerahkan tugas ini sampai jam istirahat," pesan sang guru dengan menunjukkan senyum ramah. Lalu, bergegas keluar dari kelas.

__ADS_1


Semua murid menghembuskan nafasnya lega setelah sang guru yang terlihat begitu ramah tapi aslinya killer itu keluar dari kelas. Namun, sedetik kemudian semuanya memberengut kesal sambil memukul buku tulis mereka karena tugas yang diberikan.


Akan tetapi, tidak dengan Alena yang lansung mencoba mengerjakan tugas tersebut dengan serius. Dua murid perempuan segera menghampiri Alena dengan memasang senyum termanis milik mereka.


"Hai, Alena. Udah kelar belum tugasnya?" tanya salah satu murid bernama Ceri dengan sok akrabnya. Bahkan dia merangkul bahu Alena tanpa jijik.


Alena menatap kedua teman sekelasnya itu dengan datar. Yah, beginilah jika ada maunya, maka mereka akan mencarinya dan bersikap baik untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Setelah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, maka mereka akan pergi dan kembali ke sifat aslinya yang selalu menghina dirinya.


"Belum, gue lagi ngerjain," jawab Alena tanpa mengalihkan fokus pada dua soal yang ada di hadapannya.


"Nanti kalau udah selesai, lo bagi-bagi ya jawabanya sama kita-kita. Gue mumet banget tau ngak Alena lihat tugas yang menguras otak," ujar salah satu teman yang lainnya yang bernama Dita dengan wajah puppy eyesnya yang membuat Alena muak.


"Iya," jawab Alena patuh. Ia tida ingin ribut dengan dua teman sekelasnya, mereka pasti akan marah dan membully dirinya jika ia tidak menuruti kemauan kedua gadis itu. Biar pun sejujurnya ia tidak mau membagi jawaban yang sudah susah-susah ia pikirkan, malah ia berikan gratis pada dua gadis sok berkuasa itu.


Setelah mendengarkan jawaban Alena. Ceri dan Dita segera pergi dengan tawa senang. Di pikiran mereka kini masalah mereka sudah terselesaikan. Mereka tidak perlu lagi susah-susah memeras isi kepala mereka karena ada Alena yang akan membagi jawabannya.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa like


koment


gift

__ADS_1


vote


tips


__ADS_2