
...58...
"Kita bukan mau nyuruh lo ini dan itu. Tapi kita mau berteman sama lo." Zeli mengatakan niat awal dirinya dan Gina menemui Alena. Jangan pikir mereka akan berteman dengan gadis bertompel dan culun. Ini hanya rencana untuk mendekati Vans, hanya itu.
"Hah? Teman?" Bibir Alena sedikit terbuka. Gendang telinganya tidak salah dengar bukan? Dua gadis yang cukup terkenal mau berteman dengannya? Ini tidak bisa dipercaya. Ini sebuah mimpi yang tak akan bisa menjadi nyata.
Gina yang melihat Alena yang hanya melongo semakin kesal. Meladeni seorang gadis cupu memang sangat menguji kesabaran. Sedangkan, Zeli menunggu dengan harapan jika Alena mau berteman dengan mereka. Ayolah, siapa yang tidak tahu jika Alena adalah teman dekatnya Vans. Mendekati Vans secara lansung sungguh tidak mungkin karena pria itu sangat cuek dengan gadis lain, kecuali Alena.
"Gimana?" tanya Zeli denga tidak sabaran.
"Gue ngak salah denger?"
"Ya enggak lah, telinga lo masih berfungsi kan," sosor Gina dengan sedikit meninggikan suaranya. Zeli segera menyentuh lengan Gina agar tidak terbawa emosi. Yah, begitulah sifat Gina lebih cepat marah dengan emosi yang tak beraturan. Sangat berbeda dengan Zeli yang bisa menahan amarah dan bersikap lebih sopan.
"Ya, telinga gue masih berfungsi tapi kayaknya kalian yang lagi sakit." Alena mulai tenang dan menatap ke dua gadis yang selalu mengganggunya dengan lekat. Tentu saja ia tidak bodoh, ia sangat mengenal sifat Gina dan Zeli. Ia yakin jika kedua gadis itu menawarkan pertemanan karena menginginkan sesuatu.
"Sakit? Kami tidak sakit sama sekali, Lena. Kami hanya ingin berteman sama lo." Zeli menyakinkan Alena. Ia mengira Alena akan menerima perteman yang ia tawarkan dengan cepat. Akan tetapi, perkiraannya malah meleset, malah ia dan Gina ditanyain seperti orang yang sedang di interviwe pekerjaan.
"Rasanya itu hal yang mustahil bagi kalian. Berteman dengan gadis culun seperti gue? Kalian tentu tidak mau malu karena diejek dan dihina karena berteman sama gue." Alena masih tidak percaya.
"Zeli, mending kita pergi dari sini. Udah culun, sok belagu lagi. Di kasi emas malah dibuang," sinis Gina yang hampir kebakaran jenggot. Perkataan Alena berhasil membuat harga dirinya tergores. Gadis culun itu sangat jual mahal untuk menerima tawaran pertemanan dari dirinya dan Zeli.
"Lihat, adakah orang yang ingin berteman tapi bersikap seperti itu?" Alena melirik sekilas ke arah Gina.
__ADS_1
"Jangan masukkan kata-katanya ke dalam hati, Lena. Gina memang seperti itu tapi percayalah kami tulus ingin berteman sama lo." Zeli masih berusaha membujuk Alena. Ingin sekali rasanya saat ini ia mencubit Gina yang sudah mengacaukan rencana mereka.
"Gina,Jaga sikapmu!" tegur Zeli dengan mata melotot, yang hanya di respon dengan wajah kesal Gina.
"Apa yang sebenarnya kalian inginkan? Kalian tidak perlu berpura-pura baik sama gue. Gue kenal kalian, tidak mungkin kalian menawarkan pertemanan tanpa menginginkan sesuatu dari gue." Alena menyuarakan apa yang ia pikirkan, di mana wajah Zeli seketika menjadi pias. Alena yang ia anggap bodoh ternyata bisa menebak niat mereka dengan mudah.
"Kita mau, lo bantu kita buat deketin Vans. Jika lo mau ngelakuin itu, kita bakal jadi teman lo. Dan ngak ada yang akan berani ngeganggu lo karena kita akan ada di sisi lo." Bukan Zeli yang menjawab, tetapi Gina. Yah, Gina memang gadis dengan tipe selalu berbicara apa yang ada di dalam pikirannya tanpa memperdulikan perasaan orang lain.
Alena mencebikkan bibirnya. Sudah ia duga bukan, jika kedua gadis itu menginginkan sesuatu darinya dan itu adalah Vans. Alena bangkit dari duduknya, menatap Zeli dan Gina dengan tajam tanpa raut ketakutan seperti sebelumnya. Jika menyangkut tentang Vans, entah kekuatan apa yang merasuki dirinya hingga mampu menatap mata orang-orang yang sok berkuasa.
"Kalian dengar baik-baik. Gue tidak akan menjual pertemanan gue dengan Vans hanya untuk mendapatkan pertemanan yang tidak tulus. Gue menolak tawaran menarik kalian. Kalian ingat ini, pertemanan itu bukan hal yang diperjual belikan. Pertemanan itu adalah hubungan yang tulus yang berasal dari hati. Gue culun, jelek, dan bodoh, tapi gue tidak akan menjual teman gue sendiri." Setelah mengatakan hal itu Alena melenggang pergi meninggalkan Zeli dan Gina.
Kedua gadis yang masih duduk itu terdiam seribu bahasa dengan lidah yang terasa kelu. Ucapan Alena barusan menusuk masuk hingga ke dalam hati kecil mereka yang lembut. Kata-kata Alena yang terdengar seperti sebuah kata-kata mutiara begitu membekas. Bahkan masih terngiang-ngiang dengan begitu jelas.
...----------------...
Vans menghembuskan nafasnya kasar. Tangannya terangkat menyentuh dada bagian kirinya yang berdegup dengan kencang. Ia yakin, jika degupan itu adalah degupan cinta. Padahal itu bisa jadi degupan karena dia berlari cukup jauh. Vans segera masuk ke dalam kafe.
Raline yang melihat kedatangan Vans segera bangkit dari duduknya dan berlari ke arah Vans. Tanpa malu dan sungkan, Raline memeluk tubuh Vans dengan erat membuat beberapa mata memandang ke arah mereka.
Vans yang sedikit canggung, segera melepas pelukan Raline dan tersenyum pada gadis itu.
"Lo ngak lama kan nunggunya?" tanya Vans dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia sedikit merasa tidak nyaman saat Raline memeluk dirinya. Mungkin, itu karena ia takut jika Raline akan mencium bau keringatnya.
__ADS_1
"Ngak kok, aku bahkan rela nungguin kamu sampai 24 jam," rayu Raline, kemudian menarik tangan Vans untuk duduk di salah satu meja. Sebelum Vans datang, ia sudah menyuruh dua temannya untuk pergi karena memang ia mengatakan pada pria tampan itu jika ia hanya sendiri.
Raline merasa sangat senang karena Vans lansung datang kemari setelah ia menelpon. Hati Raline terasa menghangat diperlakukan dengan semanis itu oleh pria setampan Vans. Buih-buih cinta mulai berserakan di hati Raline. Selain wajah tampan, ternyata Vans sangat romantis. Andai saja malam itu, ia menerima Vans, pasti ia akan diperlakukan dengan begitu istimewa. Akan tetapi, hal itu tidak ada bedanya walaupun ia sudah menolak Vans, tetapi pria tersebut masih mencintai dirinya.
"Lo mau pesen apa? Biar gue pesenin," tanya Vans membuyarkan lamunan Raline.
"Gue mau stik aja."
"Ya udah, lo tunggu di sini."
Vans segera pergi menuju meja kasir dan memesan makanan yang diinginkan Raline. Hal seperti biasa yang selalu ia lakukan di saat Raline menganggap dirinya sebagai budak.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komentar
gift
__ADS_1
vote
tips