The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Maling


__ADS_3

...51...


Vihan sedang duduk di sofa dengan kertas-kertas dan juga laptop di atas meja. Malam ini, ia terpaksa mengerjakan tugas kuliahnya di ruang tamu karena jaringan yang ada di kamarnya sedang buruk.


Suara pintu terbuka dan juga derap kaki mendekat tidak dipedulikan oleh Vihan. Ia pikir pasti itu pelayan atau satpam. Jari-jemari Vihan terus menari di atas keyboard laptop dengan kefokusan yang tinggi. Sampai akhirnya ucapan seorang pelayan wanita merusak konsentrasi Vihan.


"Tuan Muda, ada orang yang menyelinap masuk."


"Ck, paling itu satpam. Pergilah, jangan ganggu aku," kesal Vihan tidak peduli dengan perkataan sang pelayan.


"Tidak mungkin satpam, Tuan Muda. Aku tidak pernah melihat satpam setampan dia. Aku pikir dia Maling," bujuk sang pelayan dengan wajah cemas.


"Maling," lirih Vihan melirik sekilas ke arah sang pelayan yang terlihat sangat cemas dan takut. Jika benar yang menyelinap masuk rumah adalah maling pasti dia akan menggondol barang-barang berharga di rumah ini. Ia tidak bisa membiarkan hal itu, sepertinya tidak ada salahnya jika ia melihat maling itu.


Vihan segera bangkit dari duduknya dan mengambil sebuah tongkat golf yang biasa di letakkan di samping lemari jam.


"Ayo, tunjukkan di mana maling itu. Sekali dia masuk dalam rumahku. Maka, dia tidak akan keluar dengan selamat," titah Vihan menyuruh pelayan tersebut mengantar dirinya.


Sang pelayan mengangguk dengan cepat. Lalu, berjalan dengan perlahan. Di mana Vihan mengekor di belakang pelayan itu dengan perasaan campur aduk. Keduanya berjalan dengan sangat pelan hingga derap langkah kaki mereka tidak terdengar sedikit pun.


Vihan mengeratkan genggaman tangannya pada tongkat golf yang kini diangkat ke atas dan di sampirkan dibahu kiri. Ia melihat sosok bayangan pada sinar lampu yang menyala. Itu artinya mereka sudah dekat dengan sang Maling. Dada Vihan semakin bergemuruh, pasalnya baru kali ini ia akan melawan seorang Maling. Biasanya ia hanya berkelahi dengan preman kampus saja.


"Tuan Muda, itu dia," lirih sang pelayan dengan menunjuk ke arah siluet yang sedang berjalan dengan perlahan pada area ruangan rumah yang gelap. Karena merasa takut, pelayan tersebut berlari dan bersembunyi di balik tubuh Vihan.


"Hei, kenapa kamu bersembunyi di belakangku? Cepat jalan di depan!" seru Vihan dengan nada memerintah.


"Tuan Muda, aku sangat takut. Bagaimana jika maling itu membawa senjata dan lansung menembakku di tempat?"


Sial, apa yang dikatakan oleh pelayan ini benar juga. Kalau kayak gini aku juga takut. Batin Vihan dengan menelan salivanya paksa, sementara di keningnya sudah terlihat buliran keringat dingin yang merembes. Karena ketakutan dan tidak ingin menjadi sasaran pertama. Vihan segera berlari dan bersembunyi di belakang sang pelayan.


"Hah, Tuan kenapa kamu bersembunyi di belakangku?" tanya Pelayan tersebut dengan takut dan heran. Di sini yang wanita adalah dirinya. Seharusnya yang menghadapi Maling itu adalah Vihan sang majikan, makanya ia melapor pada pria muda itu.


"Aku tidak bersembunyi, ini adalah sebuah strategi." Vihan memberikan alasan pada sang pelayan agar pelayan itu tidak curiga jika ia merasa takut. Oh, ayolah harga diri seorang Vihan sangat tinggi. Tidak mungkin ia ketahuan takut pada Maling oleh pelayan rumah sendiri.

__ADS_1


"Strategi macam apa ini, Tuan? Seharusnya Anda yang berada di depan bukan saya," protes pelayan tersebut dengan jari yang menggigil ketakutan.


"Heh, di sini yang menjadi majikan itu aku bukan kamu. Berani kamu memerintahku?"


"Tapi, Tuan."


"Sekali lagi kamu protes aku dorong kamu pada maling itu, sekarang jalan."


"Tuan---"


"Jangan banyak omong."


Sang pelayan akhirnya pasrah dan menuruti perintah Vihan karena takut dengan ancaman majikannya itu. Dengan perlahan sang pelayan berjalan dengan langkah takut dan ragu-ragu. Sementara di belakangnya Vihan sedang bersiap siaga memasang ancang-ancang untuk lari. Jikalau Maling itu hendak menembak ke arahnya.


Klek!


Lampu ruangan itu tiba-tiba menyala. Dengan gerakan cepat Vihan mengayunkan tongkat golfnya ke arah Maling tersebut.


"Stop!" teriak suara bass yang begitu familiar hingga membuat tongkat golf Vihan melayang di udara.


Vans menatap kesal kepada Vihan. Untung saja ia segera menyalakan lampu, jika tidak pasti sekarang ia sudah berada di rumah sakit karena kepala yang bocor terkena tongkat golf.


"K--kau Vans?" ulang Vihan dengan ekspresi yang masih tidak percaya. Suara pria itu memang Vans, tetapi tubuh serta penampilannya sama sekali bukan Vans.


"Ada apa ini?" seru Tuan Ferdy yang sedang berlari menuruni anak tangga. Di mana Nyonya Hana mengekor di belakang sang suami.


Langkah Tuang Ferdy dan Nyonya Hana seketika berhenti dengan tatapan menelisik ke arah pria yang cukup asing di mata mereka. Namun, juga familiar di waktu yang bersamaan.


"Ada apa? Kenapa kalian melihatku seperti itu? Aku tahu, kalian pasti merasa aneh melihat styleku tapi aku ini Vans bukan Maling," sindir Vans menjelaskan siapa dirinya.


"Waw, aku sampai tidak mengenali adik manjaku." Vihan merangkul Vans dengan wajah bahagia sekaligus tida percaya. Ia benar-benar merasa senang dan pangling melihat penampilan baru Vans.


"Ya ampun, putraku sangat tampan!" jerit Nyonya Hana dengan berjingkrak dan melompat kesenangan, seperti seorang fans yang bertemu dengan sang idola.

__ADS_1


Sedangkan, Tuan Ferdy menutup mulutnya dengan tangan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa sangat konyol karena tidak bisa mengenali putranya sendiri.


Vans menjadi salah tingkah dengan pujian keluarganya. Jangankan, Nyonya Giana yang tidak mengenali dirinya. Bahkan, keluarganya sendiri juga tidak mengenali dirinya dengan penampilan seperti ini.


"Kamu masih waras kan, Vans?" seloroh Vihan dengan tertawa ringan.


"Kamu pikir aku gila, dasar kambing. Kamu yang tidak waras mengira pria setampan ini adalah maling," sinis Vans dengan meninju bahu kakaknya itu.


"Itu bukan salahku tapi salah pelayan itu." Vihan menunjuk ke arah samping. Namun, pelayan yang ditunjuk sudah tidak ada di tempat, alias kabur.


"Pembohong, kamu menunjuk udara kosong."


"Sudahlah, Jangan bertengkar terus. Vans, Mom mau bertanya, Bagaimana bisa penampilanmu ...."


"Alena." satu nama yang disebutkan oleh Vans membuat semuanya semakin antusias.


"Jadi Alena yang membuatmu jadi seperti ini?" tanya Vihan.


"Iya, ini rencana Alena."


"Sungguh, style pilihan Alena sangat luar biasa," puji Tuan Ferdy. Tentu saja ia sangat mengenal style sang putra yang terlihat sangat cocok karena dirinya sendiri juga bergelut di bidang Fashion. Satu yang bisa ditangkap oleh Tuan Ferdy. Jika Alena bukan gadis sembarangan. Mungkin, penampilan gadis itu terkesan culun tapi Tuan Ferdy yakin itu hanya kedok untuk menutupi jati diri.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar


gift

__ADS_1


vote


tips


__ADS_2