The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Tidak boleh!!


__ADS_3

...30...


"Sayang, ini titip ya buat momy dan dadymu di rumah!" seru Nyonya Hana, menyerahkan tiga paperbag pada Alena.


"Terimakasih, Tante," balas Alena dengan tulus.


"Vans, hati-hati ya bawa mobilnya," pesan Tuan Ferdy.


"Iya, Dad. Alena pasti aku antar dengan selamat."


"Kalau perlu aku juga yang bakal kawal mereka," sosor Vihan dengan menyengir yang lansung membuat wajah Vans tertekuk.


"Aku bisa menjaga Alena, kami tidak perlu dikawal," ketus Vans yang membuat Vihan menahan tawanya. Ia hanya sengaja mengatakan hal itu untuk membuat Vans kesal, dan lihatlah adik manjanya itu langsung bertanduk dan marah jika berkaitan tentang Alena.


"Baiklah, oh ya Alena lain kali Kakak mau ajak kamu jalan. Mau ngak?" Tanya Vihan dengan tersenyum manis pada Alena. Ia ingin membuat Vans semakin kesal dan marah. Jika tidak menjahili pria manja itu rasanya tidak seru.


"Bo---"

__ADS_1


"Tidak boleh!" sosor Vans dengan cepat sebelum Alena menjawab ajakan Vihan. Ia menatap Vihan dengan tajam, yang di respon hanya dengan senyum jahil dari Vihan.


"Mending, sekarang gue anter lo pulang!" seru Vans lagi dengan menarik tangan Alena dan melenggang pergi dengan cepat dari rumahnya. Bahkan, saking terburu-burunya Alena sedikit kesusahan mengimbangi langkah Vans yang lebar dan cepat.


Tuan Ferdy dan Nyonya Hana saling melempar pandangan satu sama lain dengan dahi yang berkerut melihat tingkah Vans. Keduanya saling mengendikkan bahu, mengisyaratkan jika keduanya tidak mengerti dengan sikap Vans. Sementara Vihan sudah tertawa terbahak-bahak melihat Vans yang lansung kocar-kacir membawa Alena pergi. Padahal, ia hanya ingin menjahili Vans, tetapi reaksi Vans sungguh di luar ekspektasi.


"Vans!" panggil Alena dengan nafas yang terenggah-enggah.


Vans melepas pegangan tangannya pada pergelangan tangan Alena saat mereka sudah sampai di basemant. Wajahnya masih tertekuk dengan, semburat kekesalan yang tampak dengan jelas. Ia sangat kesal dengan Vihan yang berani mengajak Alena untuk jalan bersama. Alena adalah temannya, ia tidak akan membiarkan pria playboy seperti Vihan mempermainkan Alena. Sampai kapanpun, ia tidak akan terima hal itu.


"Masuk!" tegas Vans tanpa penolakan. Alena segera masuk ke dalam mobil setelah Vans membukakan pintu untuknya.


Vans menutup pintu mobil dengan keras, hal itu sedikit membuat Alena tersentak kaget. Ia tidak mengerti dengan Vans. Pria itu terlihat sangat kesal tapi apa penyebabnya? Tidak mungkin jika hal itu di sebabkan oleh ajakan Vihan bukan?


Vans melangkah dengan cepat. Lalu, masuk kedalam kursi kemudi. Ia segera menyalakan mobilnya dan menggiring mobil tersebut keluar dari area rumah. Kedua tangannya mencengkram stir mobil dengan erat. Di mana tatapan Vans terlihat sangat tajam pada jalanan di depannya.


Tidak ada pembicaraan ataupun lelucon selama perjalanan pulang. Keduanya hanya diam tanpa berani mengeluarkan suara sedikit pun. Alena juga memutuskan untuk tidak bertanya atau mengajak Vans mengobrol. Ia tahu, jika pria di sampingnya sedang marah, akan sangat salah jika ia bertanya sekarang. Bisa-bisa Vans akan semakin marah. Bahkan, untuk sekedar menatap ke arah Vans, Alena tidak berani melakukan hal itu. Sejak tadi, ia hanya mencuri-curi pandang dari sudut matanya.

__ADS_1


Kalau marah kek gini, dia serem juga ternyata tapi dia marah karena apa cobak? Masak gara-gara Kak Vihan nawarin aku buat jalan bareng? Unfaedah banget kan ya, batin Alena menebak-nebak alasan kemarahan Vans yang baginya tidak jelas sama sekali.


...----------------...


...****************...


Nah, kok Vans marah sih.. Ngak jelas banget deh babang Vans.


Jangan lupa


like


koment


gift


vote

__ADS_1


tips


__ADS_2