
...76...
Malam mulai semakin larut. Langit hitam tak berawan terlihat bersinar karena cahaya bulan. Di mana taburan bintang ikut meramaikan langit yang sepi. Hening dan sunyi membalut bumi. Hanya terdengar gemerisik dedaunan pohon yang saling bergesekan tertiup angin malam.
Tak!
Tek!
Tak!
Tek!
Lampu tidur yang berdiri di atas meja nakas di samping tempat tidur terus menyala dan mati. Bersamaan dengan saklar lampu yang terus dimainkan tanpa henti. Vans menatap langit-langit plafon kamar yang berwarna putih. Di mana perutnya terasa perih karena lapar. Cacing-cacing dalam perutnya terus saja memberontak dan menggedor minta makan sejak satu jam yang lalu. Ia sangat tersiksa dengan perut keroncongan yang belum sempat ia isi karena terlalu memikirkan Alena.
Seharusnya ia mematuhi apa yang dikatakan sang ibu untuk makan dulu. Namun, ia malah menolak dengan pikiran yang terus tertuju pada gadis bertompel itu. Ia sangat khawatir dan cemas pada teman gadisnya itu hingga ia tidak menyadari perutnya yang perih karena lapar. Dan kini, ia harus menanggung rasa sakit ini sendiri. Ingin keluar dan mencari makan ia tidak enak hati. Ini bukan rumahnya di mana ia bisa keluar dan ke dapur untuk mencari makanan.
"Apa gue pesen online aja ya?" gumam Vans dengan bangkit dari tidurnya dengan cepat. Jika ia tidak makan sekarang, ia mungkin akan menjadi mayat besok pagi. Vans menggelengkan kepalanya cepat, saat otak kecilnya membayangkan tubuhnya yang kaku dan mati karena kelaparan. Sungguh kematian yang tidak berkelas sama sekali.
Vans merogoh ponselnya yang ada di dalam saku celana. Berselancar melihat foto-foto makanan yang semakin membuat perutnya berbunyi dengan nyaring. Namun, langkah jari tangan Vans terhenti. Ia tidak bisa memesan makanan dari luar. Jika kurirnya datang ke rumah ini maka bel rumah akan ditekan dan semua orang akan terbangun. Pasti akan sangat memalukan jika Om Surya dan Tante Giana sampai bangun dan melihat ia memesan makanan dari luar. Tidak, ia tidak bisa memesan makanan secara online.
Vans melempar ponselnya ke sembarang arah. Lalu, kembali merebahkan tubunya dengan frustasi. Ia memegang perutnya yang semakin terasa melilit dan sangat perih. Ia harus apa sekarang? Haruskah ia pulang dan makan. Lalu, kembali lagi ke sini setelah perutnya kenyang.
"Aishh, gue lapar banget. Kalau terus ditahan gue ngak bakal kuat. Pura-pura tidur juga ngak bisa. Lambung gue udah melilit minta jatah. Kayaknya, gue bangunin Alena aja kali ya?" Pikir Vans kembali bangkit saat otak kecil dalam tempurung kepalanya menemukan solusi yang tepat.
"Tapi, pasti Alena bakal terganggu kalau gue bangunin. Ahh, udahlah dari pada gue mati kelaperan," putus Vans mutlak. Ia tidak memiliki jalan keluar selain ini. Toh, lagi pula Alena tidak akan tega bukan jika ia tidur dengan perut kosong. Vans pun keluar dari kamar dan menuju kamar Alena. Ia berharap gadis itu belum tidur meskipun fellingnya mengatakan jika Alena pasti sudah tidur karena sejak tadi gadis itu terus merenggek ingin tidur. Akan tetapi, ia tidak peduli. Ia sudah tidak tahan untuk menahan rasa lapar yang semakin melilit usus-usus halus dalam perutnya.
Vans menghentikan langkahnya di depan pintu kamar Alena. Ia sedikit ragu untuk membangunkan gadis itu. Apalagi lampu kamar Alena sepertinya sudah dimatikan itu terlihat dari lubang udara dan dari celah jendela.
Kriiuuuuuk!
__ADS_1
Perut Vans kembali bersuara. Ia mengelus perutnya dengan pelan seperti seorang ibu hamil. Di mana wajahnya tertekuk dalam menahan perih. Dengan memantapkan hati. Vans mengetuk pintu dengan pelan agar suara ketukan itu hanya terdengar oleh Alena.
Tok!
Tok!
Tok!
"Alena!" panggil Vans dengan suara rendah di sela-sela ketukan pintu. Ia berharap gadis itu cepat bangun dan membuka pintu. Ia sudah tidak tahan lagi untuk menahan rasa lapar yang semakin mendera.
Di dalam kamar Alena tengah berbaring dengan mata yang terpejam. Namun, jangan terkecoh meskipun kedua matanya terlelap. Ia sama sekali tidak bisa tidur dengan nyenyak. Tentu saja, hal itu terjadi karena Vans yang menginap di rumahnya.
Kedua mata Alena lansung terbuka dengan lebar. Saat pintu kamarnya diketuk dari luar diiringi dengan panggilan dari suara yang sangat ia kenal. Alena bangkit dan menajamkan pendengarannya.
"Vans," lirih Alena dengan mengerutkan dahi. Ia tidak salah dengar bukan jika itu adalah suara Vans. Akan tetapi, ini sudah sangat malam untuk apa Vans datang ke kamarnya di jam seperti ini.
Tok!
Tok!
Tok!
Klek!
Alena menarik daun pintu dengan perlahan. Untung ia sudah menyiapkan penyamaran setelah mandi barusan. Ia hanya ingin berjaga-jaga jika Vans datang menemui dirinya. Dan benar saja, di tengah malam seperti ini Vans sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah tertekuk dan tangan yang memeluk perut.
"Vans, lo kenapa belum tidur?" tanya Alena dengan memperbaiki posisi kaca mata yang bertengger di hidungnya.
"Sorry gue udah ganggu lo tapi ini darurat," jawab Vans.
__ADS_1
"Darurat?" Alena maju satu langkah keluar dari kamar sehingga cahaya lampu yang ada di luar kamar membuat ia bisa melihat wajah Vans yang memucat. Seketika wajah Alena berubah panik penuh kekhawatiran.
"Vans, astaga wajah lo pucat banget. Lo kenapa? Lo baik-baik aja kan? Lo sakit?" cecar Alena dengan pertanyaan beruntun. Di mana tangannya juga tidak tinggal diam untuk mengecek kondisi Vans. Ia menyentuh kening Vans mengira pria tersebut demam. Namun, perkiranannya ternyata salah. Suhu tubuh Vans tidak panas sama sekali.
Vans menangkap tangan Alena yang menyentuh keningnya. Ia menatap Alena dengan tatapan tidak enak. Namun, ia tidak bisa menahannya lagi.
"Gue ngak papa, Lena. Gue cuma laper," ucap Vans dengan mengecilkan suaranya saat mengucapkan kata lapar.
Alena menghembuskan nafasnya lega. Ia pikir Vans sakit tapi ternyata pria itu hanya lapar. Ia sedikit trauma dengan sesuatu yang bersangkutan dengan kata sakit. Ia tidak ingin Vans kenapa-kenapa apalagi bernasib sama seperti dirinya.
Alena menatap Vans dengan tatapan sendu. Sahabatnya itu menundukkan kepala tanpa berani melihat ke arahnya.
"Ya udah, kita ke dapur!" ajak Alena dengan berjalan di depan Vans.
"Oke," setuju Vans dengan nada semangat dan antusias. Ia sudah tidak sabar untuk segera makan.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komentar
gift
vote
__ADS_1
tips