The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Bully 2


__ADS_3

...6πŸ‰...


Alena duduk sendiri pada meja pojokan kantin. Ia melahap makan siangnya tanpa memperdulikan tatapan sinis dari para siswa maupun siswi lainnya.


Ia sudah biasa dikucilkan seperti ini. Bersekolah selama tiga bulan tidak membuat seseorang ingin berteman dengan dirinya. Jangankan berteman, hanya duduk di sampingnya semua murid memilih untuk pergi. Seolah mereka jijik dengan dirinya. Hanya karena penampilan cupu dan sederhana membuat semua murid memilih menjauhi Alena.


Misalnya saja seperti sekarang. Lihatlah, semua meja makan kantin hampir penuh oleh murid-murid yang membludak. Hanya tinggal meja makan yang ia tempati masih kosong. Tidak ada satupun murid yang bersedia duduk setara dengan dirinya. Mereka semua lebih memilih untuk membungkus pesanan mereka dan makan di tempat lain.


Yah, begitulah nasib seorang murid cupu yang seolah tidak ada di antara mereka. Oleh sebab itu, banyak murid dengan penampilan yang sama memilih untuk keluar dari sekolah dengan pergaulan yang sangat keras.


Alena meletakkan sendok dan garpu setelah makan siangnya habis. Sekarang perutnya terasa sangat kenyang. Alena meraih beberapa lembar tissu dan mengusap sisa-sisa makanan di bibirnya.


Dari arah depan, dua orang gadis dengan gaya mewah dan anggun duduk tepat di depan Alena dengan memasang wajah sinis terkesan merendahkan.


Alena menatap datar gadis di depannya yang bernama Gina dan juga tangan kanannya Zeli. Ke dua gadis populer di sekolah ini setelah Reline. Meski sama-sama populer, tetapi kedua gadis itu adalah musuh bebuyutan. Tidak jarang, fans-fans mereka sampai bertengkar hanya karena merasa idola mereka lebih baik.


Alena memperbaiki kaca mata bulat yang menghiasi wajahnya. Lalu bangkit dari duduknya dan hendak pergi. Namun, ujung seragamnya langsung di tarik oleh Gina. Alena menghembuskan nafasnya perlahan, entah apa lagi yang akan dilakukan Gina untuk menganggu dirinya.


Kedua gadis dengan gaya angkuhnya itu menganggap jika Alena adalah boneka mereka. Namun, sampai detik ini mereka belum berhasil membuat Alena tunduk di kaki mereka.


"Eh, cewek culun. Gue denger lo punya temen baru ya, sama-sama satu spesies kayak lo. Culun, cupu, dan tolol," hina Gina melangkah ke depan Alena dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Sementara Zeli tersenyum tipis.


"Kayaknya, Alena si cewek culun sekarang makin berani, sampai tidak mau menjawab hinaan dari lo, Gin. Oh, gue lupa jika gadis ini bisu, alias bibir tembok," ucap Zeli dengan perkataan yang tak kalah menyakitkan.


"Zel, kita bakal apain dia ya?" Gina mengelus dagunya yang lancip, seolah sedang berpikir.


"Lo, ngak ada kapoknya, Lun. Udah, lo tinggal turuti keinginan kita untuk jadi babu. Maka, kita ngak akan gangguin lo lagi," Zeli mengelus jijik bahu Alena.

__ADS_1


Namun, Alena yang diajak bicara hanya diam seperti patung. Seolah-olah dia tidak mendengarkan perkataan dua gadis parasit yang ada di sekitarnya. Gina dan Zeli dibuat geram oleh Alena. Setiap kali mereka mengganggu Alena, maka mereka juga mendapatkan respon yang sama.


Alena tidak marah ataupun melawan mereka. Gadis dengan kacamata, serta tompel di pipi itu hanya diam seperti patung. Itulah alasan mengapa Gina dan Zeli tidak pernah bisa membuat gadis patung itu tunduk di kaki mereka.


"Eh, bibir lo itu di jahit ya? Atau emang lo ngak bisa ngomong," geram Gina yang mulai kesal.


"Lo ngomong ngak, atau gue sobek mulut lo," hardik Zeli yang juga kesal. Dengan jahatnya, Zeli mengarahkan tanganya untuk memukul bibir Alena. Ia sudah tidak tahan lagi dengan respon Alena.


Alena menahan tangan Zeli yang berusaha ingin menggapai bibirnya. Ia tidak ingin penyamarannya akan terungkap. Bagaimana jika Zeli menarik tompel palsunya, bisa-bisa semua murid akan mengetahui identitasnya.


Semua mata dan fokus kini tertuju pada tiga gadis yang sedang bertengkar itu. Namun, tidak ada satupun yang berani untuk melerai. Apalagi untuk membantu Alena yang di serang oleh siswi populer. Mereka hanya menonton sembari menikmati cemilan. Seolah-olah sedang menonton acara tinju.


Merasa semakin kesal dan geram. Zeli mendorong tubuh Alena hingga tubuh Alena terjengkang dan jatuh membentur kaki meja.


Bisa Alena rasakan tulang punggungnya yang terasa sakit akibat benturan tersebut. Alena menahan ringgisan yang keluar dari bibirnya. Sehingga desisan kesakitan teredam dengan bibir Alena yang bungkam.


Rahang Alena mengetat dengan sempurna. Lagi-lagi Gina dan Zeli merundungnya dengan kejam. Seolah keduanya tidak ada lelahnya untuk menyakiti dirinya.


Alena segera bangkit, menatap kedua gadis itu dengan penuh amarah. Lalu, segera berlari dengan menubruk bahu Zeli begitu saja. Alena memilih untuk pergi, dari pada melawan dua gadis jahat itu.


"Culun! Berani sekali lo nabrak gue!" teriak Zeli marah.


Namun, lagi-lagi Alena pura-pura tuli dan terus berlari keluar dari kantin. Ia tidak ingin lagi dibulli oleh Gina dan Zeli. Alena terus berlari tanpa henti menuju kelasnya. Ia tidak memiliki tempat yang paling aman selain kelas.


Alena menghempaskan bokongnya ke kursi, lalu menjatuhkan kepalanya di atas meja. Seketika, tangis Alena luruh. Isakan tangis yang menyayat hati terdengar memenuhi kelas yang sepi.


"Hiks ... Hiks ...."

__ADS_1


Alena terus meluapkan emosinya dengan menangis karena dengan menangis bisa membasuh amarah, rasa sakit, dan juga kekesalan.


Ia bisa saja melawan kedua gadis itu, memberikan mereka pelajaran yang sepantasnya. Namun, ia sadar di sini ia hanya menjadi penonton alur kehidupan. Bukan, sebagai tokoh utama dalam sebuah kehidupan.


Ia masuk ke sekolah ini, hanya sekedar mewujudkan impian kecilnya yang sangat sederhana. Melihat manusia lain bahagia, sedih, dan berinteraksi satu sama lain. Hal itu karena sejak kecil ia hanya hidup di lingkungan rumah. Saat anak lain pergi pagi-pagi untuk sekolah, ia hanya bisa melihat hal itu dengan tatapan penuh ingin.


Ia tidak seperti orang lain. Ia memiliki masalah tersendiri dalam hidupnya. Kehidupannya begitu terikat dengan rumah. Bahkan, untuk belajar orang tuanya menyewa guru les yang didatangkan ke rumah atau biasa di sebut, Home Schooling.


Semua hal itu berakhir, saat umurnya genap 17 tahun. Saat orang tuanya mengadakan acara ulang tahunnya secara sederhana. Alena meminta satu permintaan untuk masuk sekolah seperti gadis-gadis sebayanya.


Setelah melewati banyak drama serta penolakan dari kedua orang tuanya. Alena berhasil membujuk orang tuanya untuk memberi izin. Alena juga memilih untuk menutupi identitas serta jati dirinya, dengan mengubah penampilannya menjadi cupu. Hal itu, ia lakukan agar orang-orang di sekitarnya tidak terpengaruh dan mengingat dirinya, di saat takdir menghampiri.


Ia hanya ingin dikenal dengan Alena, si gadis cupu. Awalnya ia merasa bahagia, dan berharap bisa mendapatkan seorang teman. Namun, harapan kecilnya pupus karena murid-murid di sekolah ini malah memusuhi dan merundungnya. Mereka semua hanya menganggap murid culun sepertinya, hanya seonggok kotoran yang bisa di injak sesuka hati.


"Lo, nangis?" tanya suara lembut, yang langsung membuat Alena menghentikan tangisannya.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar


gift

__ADS_1


vote


__ADS_2