
...26...
Gerbang besi rumah Alena langsung terbuka saat mobil Vans datang. Mobil Vans masuk dan berhenti tepat di depan pintu utama rumah besar itu.
Vans meraih paperbag makanan titipan dari sang Momy, lalu turun dari pintu. Ia berjalan dengan cepat dan memencet bel rumah, meski pintu rumah itu sedikit terbuka.
Ting!
Tong!
"Nah tuh, kayaknya Vans udah dateng!" seru Nyonya Giana dengan sangat antusias. Bahkan melompat dari sofa dan langsung meluncur menuju pintu.
Tuan Surya yang melihat kelakuan istrinya itu hanya bisa menghembuskannya nafasnya kasar, sembari menatap Alena yang tersenyum sambil mengendikkan bahu.
"Sepertinya, momymu itu sudah jatuh cinta dengan Vans," ucap Tuan Surya asal.
"Dad, jangan bilang gitu. Ayo!" Alena menarik lengan sang ayah. Keduanya berjalan bersama menyusul Nyonya Giana.
Nyonya Giana membuka pintu dengan cepat. Seperti dugaannya jika yang datang adalah Vans. Pria manis dan sangat penurut.
"Hai, Tan!" seru Vans menyapa Nyonya Giana dengan menundukkan kepalanya sebagai bentuk hormat. Nyonya Giana yang melihat Vans yang begitu sopan semakin menyukai teman putrinya itu.
"Hai, Vans, masuk dulu yuk!" ajak Nyonya Giana.
"Tidak, Tan. Kan aku ke sini mau jemput Alena. Ntar kalau masuk jadi males pulang lagi," canda Vans dengan cengiran ala kuda miliknya.
"Haaah, kamu ada-ada saja." Nyonya Giana menepuk ringan bahu Vans.
"Oh, ya Tan. Ini ada titipan makanan dari Momy. Semoga Tante suka ya?" Vans memberikan paperbag yang ia bawa, yang langsung diterima dengan senang hati oleh Nyonya Giana.
"Aduh, makasih ya Vans. Titip salam buat momymu terimakasih ya."
"Iya, Tan. Alena udah siap?"
"Udah dari satu jam yang lalu!" sosor Alena dengan nada suara yang sengaja ia tinggikan sehingga terkesan sinis dan jutek.
Vans langsung menatap ke arah Alena yang terlihat berjalan dengan pria paruh baya, yang Vans yakini pasti itu adalah ayahnya Alena.
Tatapan Vans untuk sejenak terpaku pada Alena yang berjalan begitu anggun. Dress selutut yang ia kenakan terlihat begitu indah membalut tubuh gadis itu. Rambut coklat bergelombang yang sengaja di ikat tinggi seperti ekor kuda sehingga memperlihatkan leher jenjang Alena.
Meskipun, kacamata serta tompel di pipi kiri Alena menghiasi wajah gadis itu. Namun, tetap saja kesan manis menguar dari Alena.
"Oh, jadi nama pria yang kita selamatkan itu namanya, Vans!" seru Tuan Surya yang langsung membuat lamunan Vans buyar.
Vans menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal karena malu sudah memandangi Alena dengan tatapan seperti itu.
"Hai, Om. Terimakasih sudah membawa aku pulang," ucap Vans dengan menundukkan kepala sebagai tanda hormat.
"Sama-sama, lain kali kamu jangan berenang malam-malam ya," sindir Tuan Surya bercanda, yang langsung membuat semuanya tertawa.
"Ya udah, Om, Tan. Vans sama Lena berangkat ya," pamit Vans yang diangguki oleh Nyonya Giana dan Tuan Surya.
__ADS_1
"Mom, Dad, Alena berangkat," ujar Alena kemudian mencium pipi Tuan Surya dan Nyonya Giana secara bergantian.
"Kalian hati-hati ya," pesan Tuan Surya.
Alena dan Vans berjalan beriringan meninggalkan Tuan Surya dan Nyonya Giana yang menatap kepergian mereka dengan senyum bahagia.
"Dady seneng banget lihat Alena punya teman," ungkap Tuan Surya.
"Hmmm, Momy juga. Alena bisa tersenyum tanpa beban. Satu persatu keinginan Alena mulai teruwud. Semoga harapan terbesarnya untuk sembuh juga teruwujud yang, Dad."
"Iya, Mom."
Vans membukakan pintu mobil untuk Alena. Lalu, segera berlari memutar dan masuk ke dalam mobil.
"Jangan lupa pakai self-belt," ucap Vans mengingatkan.
"Iya, sudah."
Vans mulai melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Alena.
"Tumben pake mobil?" celetuk Alena memecahkan keheningan di dalam mobil.
"Bukan tumben, tapi sering," jawab Vans dengan tatapan fokus pada jalanan di depannya.
"Tapi, lo selalu menggunakan sepeda saat ke sekolah." Alena menatap ke arah Vans. Untuk sejenak ia kagum dengan garis wajah Vans yang terlihat mempesona saat pria itu sedang fokus menyetir.
"Ya, kan jarak antara rumah gue ke sekolah ngak terlalu jauh. Jadi, buat apa pakai mobil. Selain pemborosan bensin juga jadi pencemaran udara. Itung-itung gue mengurangi polusi lah." Vans tertawa ringan mendengar alasan yang keluar dari bibirnya sendiri.
"Pelit?"
"Iya, pelit buat beli bensin, kan. He ... He." Alena ikut tertawa.
"Ngak lah, aku suka pakai sepeda karena juga bikin sehat dan menyenangkan. Kamu pasti juga suka kan main sepeda?" Vans melirik sekilas ke arah Alena. Namun, wajah gadis itu terlihat muram dan sedih.
"Gue ngak pernah naik sepeda. Gue ngak bisa," Ungkap Alena jujur. Memang benar, ia tidak pernah main sepeda, jangankan main sepeda main lompat tali saja ia tidak pernah.
"Masak iya?" ucap Vans tidak percaya. Bagaimana mungkin anak orang kaya seperti Alena tidak pernah main sepeda? Bukankah hal itu adalah sebuah kemustahilan?
"Kan, gue udah bilang tadi," sungut Alena menatap Vans kesal. Pria di sampingnya sungguh sangat menyebalkan.
"Ihh, gitu aja marah. Ntar cepet mati lo kalau sering marah-marah," ledek Vans. Namun, berhasil membuat wajah Alena semakin sedih.
"Emang iya, bentar lagi gue bakal mati," lirih Alena.
"Apa?" tanya Vans yang merasa ia salah dengar.
"Ngak ada, lo fokus aja nyetir!" ketus Alena yang langsung membuang wajahnya karena air mata tumpah begitu saja dari pelupuk matanya. Ia tidak ingin Vans melihat ia menangis.
"Iya, bawel!"
"Jangan panggil bawel, gue ngak suka." Alena mencubit ringan lengan Vans.
__ADS_1
"Auuuu, sakit," ringgis Vans sambil tertawa. Berada di samping Alena selalu membuat ia bisa tertawa dengan kelakuan Alena yang sangat menggemaskan baginya.
"Makanya jangan suka ngeledek."
"Sumpah, ya. Ternyata lo galak juga. Bahkan, lebih serem dan galak dari Bu Anggrek," cibir Vans menggoda Alena.
"Ya jelas, orang Bu Anggrek panutan gue," balas Alena dengan jawaban yang tidak diduga oleh Vans.
"Sepertinya lo salah memilih panutan, Lena. Tapi, lo tahu ngak apa bedanya lo sama Bu Anggrek?"
"Apa?"
"Kalau Bu Anggrek itu galaknya jelek, kalau lo galaknya cantik dan manis."
Wajah Alena langsung bersemu merah seperti buah tomat yang matang. Ia tidak menduga jika Vans memujinya seperti itu. Padahal ia sangat jelek dengan tompel dan kacamata bundar ini.
"Gombal," cibir Alena menyembunyikan rasa senang yang tengah bergejolak di dadanya.
"Ye, lo jangan baper ya. Soalnya gue udah punya Raline," ucap Vans dengan percaya diri.
"Cih, belum diterima gayanya sombong banget."
"Ya, lo ngak lupa kan sama kesepakatan kita. Lo harus berhasil buat Raline suka sama gue."
"Oke, tapi dengan syarat lo harus turutin semua perkataan gue. Gue yakin dalam dua minggu Raline bakal nempel sama lo," ujar Alena dengan mantap dan yakin, meski jauh di lubuk hatinya ada sesuatu yang mencubit ulu hatinya. Akan tetapi, entah apa itu ia pun tidak tahu.
"Oke, Buko."
"Buko?"
"Bu komandan."
Alena langsung tertawa mendengar kepanjangan yang di sebutkan oleh Vans. Pria di sampingnya selalu saja memanggilnya dengan nama yang berbeda setiap saat. Namun, ia tidak memungkiri jika ia merasa senang.
Vans yang melihat Alena tertawa juga ikut tertawa. Seolah-olah tawa renyah gadis itu menular padanya. Apalagi saat Alena tertawa mata gadis itu menyipit dan hampir tertutup, sungguh pemandangan yang sangat lucu.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
koment
gift
vote
tips
__ADS_1