
Sepi! tidak ada suara sama sekali di ruangan itu selain bunyi dari alat seperti televisi berukuran kecil. Garis bergelombang yang tampil di layarnya menjelaskan bahwa sesorang yang terbaring di brangkar itu masih memiliki nyawa.
"Bagaimana? apa sudah bisa menghubungi keluarganya?" tanya seorang laki-laki yang tampak ikut panik seperti Natasha
"Aku tidak punya nomor keluarganya. Handphone Syifa juga rusak karena terlindas mobil yang menabraknya tadi.
"Aku harus bagaimana ini, Fis!" Natasha menangis, tangannya terus mengusap telapak tangan kiri Syifa yang masih belum sadarkan diri.
"Kau tenangkan dirimu dulu. Biar aku saja yang menghubungi keluarganya. Aku keluar dulu!" Laki-laki bertubuh tinggi itu keluar dari ruangan tersebut, sekelebat doa keselamatan ia haturkan saat melihat perempuan yang selalu ia pantau itu hanya dapat terbaring saja.
"Hallo, Assalamu'alaikum. Tante ...." Laki-laki itu tampak berbicara serius.
Natasha sudah mulai tampak tenang. Gadis itu sekarang duduk disebelah sahabatnya sambil terus menatap monitor.
"Kau memang benar-benar tidak mengizinkan aku pulang ya, Fa!"
"Jahat sekali! Ayo bangunlah!! Jangan seperti putri tidur begini!" Natasha sedikit mengguncang lengan sahabatnya, namun sama sekali tidak ada respon.
"Anastasha! ada beberapa polisi yang ingin meminta keterangan mu!" Hafidzh masuk kembali kedalam ruangan itu.
"Oh, dimana mereka?" Hafidzh menjawab dengan menunjukkan tangannya
"Bisakah kau tetap disini menjaga sahabatku? Bagaimana kalau dia tiba-tiba sadar dan tidak ada orang disini!"
"Iya, kau pergilah. Aku akan di sini sampai keluarganya tiba!" Anastasha heran
"Kau sudah berhasil menghubungi mereka? Bagaimana bisa?"
"Aku mengenal ibunya!" jawab Hafidzh, Natasha keluar dengan banyak pertanyaan di benaknya,
"Aku harus meminta penjelasan! bagaimana bisa dia mengenal ibu Syifa, tapi tidak pernah menyapa Syifa barang sekali pun!" ucap gadis itu dalam hati.
Natasha pun berbicara dengan beberapa polisi berseragam dengan rompi biru tua membalut tubuh mereka.
Natasha memberikan kesaksian. Gadis itu menahan tangisnya. Dari keterangan polisi ternyata pengemudi mobil itu sedang dalam keadaan mabuk.
"Aku harap temanku segara sembuh. Saya serahkan semuanya kepada bapak-bapak. Besok mungkin keluarga dari Syifa akan sampai kesini. Selanjutnya saya serahkan kepada mereka saja. Terimakasih banyak, Pak!" Anastasha menjabat tangan ketiga polisi itu bergantian.
Setelah mereka pergi, Natasha kembali masuk ke dalam ruangan tempat Syifa di rawat. Sebelum gadis itu membuka pintu, sayup-sayup terdengar suara seseorang membaca al-qur'an. Merdu sekali ... benar-benar memberi ketenangan bagi setiap yang mendengarnya.
__ADS_1
Anastasha membuka pintu ruangan dengan perlahan. Di lihatnya teman nya satu profesi itu duduk di sebelah Syifa, tanpa memegang apapun. Anehnya, laki-laki itu menitikkan air mata.
Anastasha mendekat, Hafidzh segera menghapus cairan bening yang tidak sengaja jatuh itu.
"Kenapa kau menangis? Apa kau mengenal temanku?" tanya Natasha heran
"Bagaimana kau bisa melantunkan bacaan Al-Qur'an tanpa memegang buku?" Pertanyaan demi pertanyaan diterima laki-laki itu.
"Aku hanya teringat ibuku. Aku hanya membaca ayat al-Qur'an yang aku hafal saja." jawab Hafidzh lalu bangkit dari tempat duduknya.
\=\=\=\=
"Hm ... kau dimana? Apa mau aku jemput?"
"Tidak, Bang. Kau disana saja. Aku akan segera ke kantor polisi, akan ku buat hancur laki-laki pemabuk itu!" suara dari balik sana terdengar begitu geram.
"Kalau abang tidak keberatan tolong jemputlah Papa. Mungkin nanti sore Papa dan Mama akan sampai. Aku berangkat lebih dulu setelah mendapat kabar, jadi tidak sama sampainya." jelasnya pula
"Baiklah. Tolong jangan bertindak di luar kendali. Semuanya sudah terjadi, biarkan Allah yang membalas semuanya. Yang terpenting sekarang adalah kesembuhan Syifa."
"Iya, aku tau."
"Siapa, Fis?"
"Adiknya Syifa! Dia sudah di sini."
"Apa dia minta di jemput? biar aku saja yang menjemputnya. Bolehkah aku meminjam mobilmu?" Natasya mengusap kotoran matanya, gadis itu tadi tertidur.
"Tidak perlu. Dia langsung ke kantor polisi katanya. Kau tidurlah lagi! Baringkan disini saja, biar gantian aku yang disana." Hafidzh berdiri.
Laki-laki itu masuk ke dalam kamar mandi, tak lama kemudian keluar dengan bagian ubun-ubun yang tampak basah.
Hafidzh membentang sajadah berukuran kecil yang ia ambil dari dalam tasnya. Laki-laki itu shalat malam di samping brangkar Syifa yang masih terdiam.
"Anastasha! kalau aku membaca Al-Qur'an, Apakah kau merasa terganggu?" tanya laki-laki itu setelah selesai mengerjakan shalat.
"Sama sekali tidak, Fis. Aku juga sering mendengarkan Syifa mengaji. Silahkan! Aku sama sekali tidak terganggu." gadis itu justru tersenyum.
"Kau benar-benar sopan, Fis. Kau tau aku bukan penganut agama yang sama dengan kalian. Sebenarnya ada apa denganmu? kenapa kau ada disini? Kalau kau mengenal Syifa kenapa kau tidak pernah menyapanya?" pertanyaan itu berkecamuk di hati Anastasha tapi dia benar-benar merasa lelah hari ini. Akhirnya memutuskan untuk bertanya nanti saja.
__ADS_1
\=\=\=\=
"Awas kau! Kalau terjadi apa-apa pada saudaraku. Aku yang akan menjadi malaikat mautmu!" Akmal mengepalkan tinjunya. Seorang polisi berbadan sama besar dengannya menahan laki-laki itu untuk berhenti memukul pengemudi mobil yang membuat celaka kakak kandungnya.
"Bawa dia kembali ke sel. Tolong! Jangan bertindak berlebihan, Pak." ucap polisi tadi.
"Berlebihan apanya! karena dia kakakku sampai sekarang tidak sadarkan diri!!" Wajah Akmal merah, laki-laki itu benar-benar marah.
***
"Apa sebenarnya yang terjadi dokter? kenapa sampai sekarang dia belum sadar juga?"
"Ini aneh! Memang tangan dan kedua kakinya patah, tapi itu seharusnya tidak membuat dia terus tertidur seperti ini. Luka di kepalanya juga hanya luka luar Tapi sepertinya dia tidak punya semangat untuk bangun." jelas dokter itu kepada Hafidzh dan Anastasha.
"Apa patah hati bisa menjadi penyebabnya, Dokter?" Akmal tiba di rumah sakit tepat waktu, dia menyimak penjelasan dari dokter tersebut.
"Tidak menutup kemungkinan!" jawab dokter tanpa ragu
"Sial! Akan aku pindahkan dia ke Papua sana! biar dia jauh-jauh dari Syifa!" Akmal mengambil handphone di dalam saku celananya. Hafidzh mencegah nya.
"Lihat kakakmu! Duduklah disana! Jangan menyalahkan orang lain, ini semua sudah takdir Allah." Akmal terdiam, di pandangnya wajah pucat saudara perempuannya itu.
Akmal mendekat, lalu duduk di samping brangkar.
"Dasar bodoh! menyebrang jalan saja kau tidak bisa! bagaimana mungkin papa mengizinkanmu pergi sampai sejauh ini!
Bangun, Ipeh! Buktikan kau juga bisa bahagia tanpa si bangsat Fauzi itu!" Akmal mencengkram lengan Syifa. Air matanya tumpah.
"Kak! bangunlah kak. Apa kau tidak mau mengajakku keliling Munchen? kita sudah lama tidak bertemu kan? apa kau tidak merindukan aku." Bahu Akmal naik turun seitama dengan tangisnya yang tak bersuara.
"Syifa orang yang kuat! Dia akan bangun, aku yakin dia akan bangun." Anastasha ikut menangis, perempuan itu berdiri di sebelah kaki Syifa semantara Hafidzh menepuk-nepuk pundak laki-laki berbadan atletis itu.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy reading gaes🥰