The Secound Choice

The Secound Choice
Lima puluh Satu


__ADS_3

"Jeruk peras saja deh." jawab perempuan berjilbab yang dari tadi tidak melepaskan tangan kanannya menutup hidung dan mulutnya


"Kamu kenapa sih?" tanya Fauzi heran


"Bakso komlitnya satu, satu bakso kosong, jeruk peras satu dan timun serutnya satu. Ada lagi, Mas?" tanya pramusaji setelah membacakan catatannya. Fauzi memgacungkan jempolnya, lalu pramusaji itu pun pergi


"Mas, kunci motor mana?"


"Ini!" Fauzi menepuk saku celananya


"Pinjem sebentar!" pinta Yoli


"Kamu mau kabur?"


"Enggak. Udah deh, Mas. Siniin kuncinya ...." Fauzi pun merogoh saku celananya dan berdiri dari tempat lesehan tersebut.


"Mas mau kemana?"


"Mau anterin kamu!" ucapnya berjalan lebih dulu beberapa langkah. Yoli tidak banyak bertanya lagi, gadis itu mengikuti langkah suaminya


Yoli mengambil kunci motor dan membuka bagasinya, mengambil sebuah plastik kresek bertuliskan nama minimarket yang biasanya ada disetiap kota di Indonesia.


Fauzi memperhatikan kelakuan istrinya, setelah mengeluarkan benda bertali yang ada di dalam plastik tersebut dan menggunakannya, akhirnya Yoli bisa bernafas dengan lega.


"Masker! Kenapa? Mas bau banget ya?" Fauzi mengangkat kedua tangannya bergantian, membaui pangkal lengannya yang diolesi deodoran sehari yang lalu.


Yoli hanya menggeleng dan melihat kearah tempat mereka duduk tadi,

__ADS_1


"Makanannya sudah datang, Mas!" ucapnya


Fauzi makan sangat lahap, entah karena bakso itu enak atau karena perutnya yang benar-benar sudah kosong melompong.


Sementara Yoli hanya menikmati jeruk dingin yang ada di hadapannya.


"Ini bakso kosongnya kok nggak disenggol, Sayang?"


"Mas makan saja!" jawab Yoli pula


"Kenyang!" ucap laki-laki itu mengelus perutnya


"Mas sih! Pesannya sampai dua porsi begitu!"


"Kan satunya buat kamu. Biasanya kan makannya seperti itu."


"Buru-buru banget sih. Sini dulu lah. Mas masih capek." Laki-laki itu malah selonjoran memijat kakinya yang sebenarnya hanya akting


"Kenapa ninggalin mas sendiri, Dek?" setelah mengulur waktu akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulut Fauzi


Yoli salah tingkah, ini sebabnya dia mengajak suaminya buru-buru pulang. Kalau dirumah ada pintu kamar yang bisa ia kunci rapat-rapat untuk menghindari laki-laki itu


"Mas salah apa?" Fauzi kini mendekatkan dirinya, menangkap tangan Yoli yang terus saja memegang maskernya.


Yoli kini menunduk, airmatanya yang ia tahan sedari tadi akhirnya tumpah lagi.


"Sayang ... Jangan buat mas bingung seperti ini. Apa ini ada hubungannya dengan bunda? Apa bund mengatakan sesuatu padamu?" Fauzi menerka semua kemungkinan yang paling mendekati sebab kenapa istrinya sampai pergi dari rumah tanpa pamit.

__ADS_1


Yoli diam, gesturnya menunjukkan jawaban dari pertanyaan barusan.


"Tugas kita sekarang yakini Bunda, kalau kita berdua sudah saling cinta, Dek. Jangan seperti ini. Bukankah kamu sendiri yang mengatakan kalau sudah mencintai Mas! Apa namanya ini? Kenapa Mas ditinggalkan!" nada bicara Fauzi sedikit naik


"Lebih baik kita bercerai saja, Mas." ucap Yoli secara mengejutkan


"Apa??!" lelaki itu tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Diawal-awal pernikahan kata-kata yang baru saja keluar dari bibir perempuan berjilbab itu sangat ia nantikan. Tapi, gadis itu bisa bertahan menerima segala perlakuan tidak dianggap olehnya. Sekarang, disaat semuanya indah justru kalimat itu yang keluar.


Fauzi mengambil dua lembar uang dari dompetnya dan meletakkannya diatas meja.


"Kita pulang sekarang!!" laki-laki itu menggenggam erat lengan istrinya dan menariknya menuju parkiran.


.


.


.


.


.


.


Like komen dan vote ya, kitik dan sarannya ditunggu. Maaf keun ke typoan saya yang hakiki ya

__ADS_1


__ADS_2