
Hafidzh berpamitan dengan Ustadzh teman kuliah Abinya tersebut. Ummi juga ikut mengantarnya ke depan rumah. Sambutan mereka benar-benar sangat ramah untuk kesan pertama kali bertemu
"Sampaikan salam saya 'Assalamu'alaikum' kepada Abi mu." ucap Ustadzh itu
"Insya Allah, Ustadzh" jawab Hafidzh lalu mengucap salam dan berjalan menuju mobil yang sudah menunggunya beberapa menit lalu
Langkahnya sedikit melambat saat berpapasan dengan perempuan berniqab yang berjalan semakin dekat dengan rumah yang baru saja ia tinggalkan.
Gadis berniqab tersebut menangkupkan kedua tangannya, ramah menyapa tamu dari ayahnya tersebut. Hafidzh membalasnya dengan tersenyum sekilas dan melanjutkan jalannya.
"Mungkin bukan saatnya lagi aku menolak. Abi dan Eyang putri juga akan merestui karena keponakan Ummi juga asli Indonesia." batin Hafidzh saat tubuhnya sudah duduk sempurna di belakang pengemudi
Semua ini memang sudah ada dalam dugaannya sebelum berangkat ke Koln waktu itu. Rasanya alasan Abi untuk ia gantikan menjadi pemandu jamaah umroh bukan suatu hal yang sangat urgent sehingga tidak bisa di tinggalkan.
Doa Eyang putri juga seolah makbul. Disaat wanita itu benar-benar menginginkan cucu satu-satunya segera menikah, sebelum ia mencarikan calon yang cocok anaknya Dzaki memberikan kabar baik itu.
Mungkin untuk yang terakhir kalinya, Hafidzh memberanikan diri melawan hatinya untuk melihat Syifa sekali lagi. Dan juga untuk memastikan keadaan perempuan yang sebenarnya sudah bertahta dalam hatinya sejak lama itu. Kebetulan pula ada alasan yang tepat agar kedatangannya tidak mencolok. Maklum saja, mungkin keberadaan atau kehadirannya disana saat itu sama sekali tidak diharapkan oleh Syifa.
"Kita langsung ke hotel, Pak?" tanya supir membuat Hafidzh kembali kealam sadarnya
"Oh iya. Kita ke Hotel sekarang." jawab Hafidzh
\=\=\=\=
Syifa merebahkan tubuhnya setelah makanan yang ada di meja kursinya habis dan dibawa kembali oleh pramugari.
__ADS_1
Gagalnya menikmati bakmi spesial ala food court yang ada di Soekarno Hatta membuatnya merasakan nasi ayam yang disajikan dari maskapai itu sangat enak.
Syifa menatap langit-langit pesawat. Angannya terbang kembali mengulang pertemuan tidak terduga antara dia, Ayah dan juga Bunda Fauzi tadi.
"Alhamdulillah, Bunda benar-benar kelihatan berbeda. Semoga Bunda sehat terus." batinnya
"Kalau saja tadi aku menanyakan kabar Fauzi pasti Bunda akan semakin percaya kalau aku sudah baik-baik saja. Tapi, ah ... Rasanya lebih baik aku tidak mengetahui kabarnya sama sekali. Aku juga berharap jangan sampai bertemu dengannya lagi. Aku tidak tau apakah aku akan kuat menekan rasa yang ada dalam diri ini"
Akhirnya pesawat yang Syifa tumpangi mulai mengurangi ketinggian. Sabuk pengaman kembali para awak gunakan. Syifa memandang kota Medan dari balik jendela.
"Iam back, Medan!" ucapnya
Setelah sabar menunggu, akhirnya kedua kaki Syifa menginjak tanah kelahirannya. Tempat ia dididik dan dibesarkan.
Kopernya ia tarik dan segera berjalan meninggalkan bandara.
"Kau lebih baik memberitahu orang lain dari pada memberitahu kami hah!!!" ucap perempuan yang tidak lain adalah Mama Juna
"Mama." Syifa benar-benar terkejut melihat Mama Juna dan Papa Adzka berada disana
"Mama ... Papa mau kemana? Nggak bawa apa-apa lagi!" Syifa memeriksa kedua orangtuanya memastikan mereka benar-benar tidak membawa apapun kecuali dompet mini yang selalu Mama Juna bawa.
"Dasar anak nakal! Bisa-bisanya kami tau kepulangan mu dari orang lain!!" Mama Juna memakai dompet mininya untuk memukul anak gadisnya tersebut.
"Ampun, Mama ...." ucap Syifa manja penuh sesal
__ADS_1
Mama Juna memeluknya, Papa Adzka juga tidak mau ketinggalan. Ketiga makhluk Tuhan itu saling melepas rindu.
"Kenapa nggak bilang ke Papa, Fa?" tanya Papa Adzka
"Surprise, Pa ...." ucap Juna
"Tapi gagal!!" gadis itu cemberut
Beberapa jam sebelumnya, Mama Juna mendapatkan telpon dari calon besan gagalnya. Kedua suami istri yang bertemu dengan Syifa di Bandar Udara yang beroperasi tahun 1985 itu memberitahu atau lebih tepatnya lagi bertanya. Apa mungkin kondisi kesehatan tetangga mereka sewaktu di Medan dulu memang sedang tidak baik-baik saja, sehingga Syifa harus pulang.
"Kenapa kau pulang, Kakak?" tanya Mama Juna, sebutan Kakak sudah sangat lama tidak di dengar oleh perempuan itu saat Mamanya memanggil
"Nanti kita cerita di rumah ya, Ma. Pa." jawab Syifa, mereka bertiga saling menggandeng berjalan keluar dari bandara menuju parkiran
"Lumayan, ngirit ongkos dijemput ...." Syifa berkelakar
"Kamu ini!" Mama Juna mencubit perut Syifa
"Sakit, Ma ... Papa! Kakak di cubit Mama ...." Adu Syifa
.
.
.
__ADS_1
.
Ih, manja banget sih Fa! Jadi pengen manja2an sama Ayah juga 🤣