The Secound Choice

The Secound Choice
Empat puluh Tujuh


__ADS_3

Memiliki tiga nenek, mungkin tidak semua orang memiliki keberuntungan seperti itu. Karena mama Juna mempunyai dua ibu ditambah satu lagi ibu mertua membuat Syifa dan Akmal memiliki tiga nenek. Walau salah satu dari mereka sudah kembali kepada Tuhan, dokter Fatmala ... Ya,, ibu dari papa Adzka.


Syifa terus saja lengket dengan nek Lia, kedekatan mereka terlihat melebihi kedekatan Syifa dengan mamanya.


"Kamu kenapa, Yun? dari tadi mondar mandir terus!" tanya nek Lia kepada anaknya mama Juna


"Hm ... Paling mama nungguin papa, Nek. Kan papa mau nyusul kesini!" jawab Syifa


"Loh iya. Sudah kasi tau ayahmu Yun? Biar ayahmu jemput ke bandara!"


"Ayah sudah pergi mancing dari pagi, Ma. Biar sajalah, mas Adzka juga bilang nggak usah, nanti ngerepotin ayah katanya. Tapi kok masih belum sampai juga ya, Ma?!" mama Juna bolak-balik menatap jam dinding


"Hape papa nggak aktif, Ma?" tanya Syifa


"Aktif! Tapi nggak diangkat."


"Berarti papa sudah mendarat dong. Sebentar lagi mungkin, Ma."


Mama Juna melangkah meninggalkan mereka menuju pintu utama. Sebelum wanita paruh baya itu membuka pintu, bel rumah mama Lia berbunyi. Mama Juna membukanya dan berhambur memeluk sosok yang ia cemaskan.


"Assalamu'alaikum!" ucap laki-laki itu tersenyum mengelus kepala istrinya yang ditutup hijab


"Wa'alaikumsalam." jawab mama Juna manja


"Wow!! Kok mama bisa tau kalau yang di depan pintu itu papa, Ma?!" tanya Syifa heran, tidak percaya melihat insting mamanya yang begitu kuat

__ADS_1


"Nanti kalau kamu sudah menikah pasti punya insting seperti mamamu!" ucap mama Lia yang mengikuti Syifa dari belakang.


Papa Adzka mencium punggung tangan ibu mertuanya lalu memeluk sejenak wanita sepuh itu.


"Mama sehat?" ucapnya santun


"Alhamdulillah, mama sehat bahkan makin sehat. Syifa rawat mama terus, tiap hari diterapi nih kaki mama sama tangan terampilnya itu! Syifa pinter mijit loh, Ka!" ucap mama Lia bercerita


"Oh ya! Adzka baru tau, Ma. Mungkin gagal jadi dokter beralih profesi ke tukang pijat, Nak?" canda Papa Adzka pula semuanya tertawa kecuali Syifa yang cemberut mendengar ocehan papanya.


Semuanya kini berkumpul di ruang makan. Mereka pun menikmati hidangan yang dimasak sepenuh hati oleh mama Juna walau tetap dibantu oleh asisten tentunya.


Semakin lama mengarungi bahtera rumah tangga, akan semakin memahami pula antara satu dengan yang lain, jangankan paham ... Langkah kaki yang berjarak meter pun bisa dirasakan walau raga masih belum kelihatan.


____Tsc___


Laki-laki berseragam hijau memasuki rumahnya dengan tergesa-gesa, memanggil nama wanita yang beberapa tahun belakangan ini bersama dengannya. Jangankan menyahuti panggilan itu, sosoknya bahkan tidak terlihat.


Motor yang biasanya Yoli gunakan untuk mengajarpun terparkir rapi di dalam rumah dinas yang ukurannya tidak terlalu besar itu.


Fauzi duduk menatap kesembarang arah. Air matanya tumpah, rasa kehilangan bahkan rasa bersalah kini menghantuinya.


Laki-laki itu mencoba menghubungi ponsel Yoli namun nomor tersebut sedang tidak aktif.


"Kenapa ini harus terjadi padaku!" ucapnya meremas rambutnya, laki-laki itu tampak kesal juga

__ADS_1


Setelah kedatangan ayah dan bunda tempo hari, Yoli memang bertingkah aneh tidak seperti biasa. Dia memang tetap memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri, tapi perempuan itu sering tampak murung dan banyak menghindari kontak dengan suaminya.


Sementara ditempat lain, wanita berjilbab lebar sedang menata hatinya disebuah ruangan dengan memeluk bingkai foto berisikan sosok wanita tua yang sangat ia rindukan.


Air matanya terus mengalir walau matanya terpejam.


Flashback


"Ini membuat mama tidak pernah tenang. Mama tidak bisa tidur dengan nyaman. Mama sangat-sangat berdosa telah memisahkan kalian, Zi!"


"Semuanya sudah terjadi, Ma. Fauzi sekarang sudah menikah juga kan!" jawab laki-laki itu menatap bundanya dalam-dalam.


"Mama tau. Tapi, pernikahan kalian pasti tidak bahagia dan kalian juga masih belum memiliki anak kan.


Kalau mama menjelaskan semua ini kepada istrimu, dia pasti akan setuju. Yoli itu anak yang baik dan solehah, ilmu agamanya juga sangat mumpuni, tidak mungkin dia menentang sesuatu yang dibolehkan dalam agama." jelas Bunda panjang lebar


"Bunda, Zi nggak mau bahas ini lagi. Walaupun pernikahan kami tidak diawali dengan cinta, tapi bagaimanapun aku sekarang sudah menjadi suami. Kami saling membutuhkan satu sama lain, dan aku juga sudah mulai mencintai istriku, Bun. Aku sama sekali tidak pernah bermimpi untuk poligami." Fauzi meninggalkan bundanya sendiri, sementara Yoli yang sedang mengintip menyiagakan dirinya agar tidak terlihat oleh ibu dan anak tersebut.


Bunda pun tak kuasa menahan airmatanya, wanita itu menangis sesenggukan.


"Bunda kenapa? Mas mana? Apa mas Fauzi menyakiti bunda?! Ada apa ini, Bun?" Yoli menghampiri ibu mertuanya, wanita paruhbaya itu memeluk menantunya dengan isakan yang semakin menjadi-jadi.


\=\=\=\=


Kali aja ada yang penasaran dengan cerita mama Juna dan papa Adzka waktu masih muda, yuk mampir gaes di "Terjebak cinta Brondong"

__ADS_1


Saran dan kritik kalian juga masih sangat saya perlukan disini loh manteman 😊🙏


__ADS_2