The Secound Choice

The Secound Choice
Enam Lapan


__ADS_3

Suasana menjadi canggung, Hafiz dan Syifa saling diam. Dalam kebisuan itu, Syifa mengambil handuk berwarna biru muda yang ia jembreng dekat kasur bermaterial kayu itu.


"Masih agak lembab, Mas. Nggak apa-apa ya. Soalnya tadi Syifa pakai buat ngeringin rambut." Syifa memberikan handuk tersebut, Hafiz menerimanya dan meletakkan tas ranselnya.


"Baju Mas di dalam sini?" Syifa ingin mengambil dan menyiapkan baju suaminya


"Biar mas saja yang ambil sendiri."


"Oh, ya sudah." jawab Syifa pelan


"Maaf, bukan apa-apa. Nanti kalau kiya sudah dirumah baru kamu yang siapkan pakaian, Mas." Hafiz jadi agak sungkan melihat istrinya yang sepertinya kecewa


Dering ponsel Syifa menjeda pembicaraan basa-basi mereka. Syifa melihat ponselnya dan tersenyum begitu membaca nama yang tertera disana.


Gadis itu mengganti panggilan tersebut ke mode panggilan video, lalu duduk diatas kasur.


"Apa!!" ucapnya begitu panggilan itu tersambung


"Kak!! Kau nggak bunting kan?!"


"Eh! Mulut kau!!! Aku nggak nikah-nikah bising mulut mu. Aku nikah kau bilang bunting! Ada-ada saja kau ya." Syifa tampak kesal tapi dia puas dengan jawaban doa-doanya dengan kejadian malam ini.


Video pernikahannya ia kirimkan kepada adik satu-satunya yang akhir-akhir ini selalu merengek untuk di izinkan menikah lebih dulu.


"Kok bisa abang itu mau sama, Kakak!"


"Ah, sok kenal pun kau."


"Eh, kenal lah. Mana abang?"


"Mandi!" Syifa mengedarkan pandangannya, Hafiz sudah tidak ada.


"Loh, kok mandi! Jam berapa disana?"


"Jam sembilan, Mal. Ah ... Udah lah. Jadi kek mana? Kapan kau menikahnya? Masih maunya pacarmu itu samamu?"


"Masih lah. Tapi, dia sudah pulang ke negaranya! Ini semua gara-gara kakak!!" wajah Akmal berubah sedih, bagaimanapun juga Syifa tetaplah kakak yang menyayangi adiknya


"Loh, kenapa? Dia dari mana?" tanya Syifa, wajahnya pias menatap adiknya dalam layar


"Hei, Akmal! Apa kabar?" sapa Hafiz yang kini sudah berada dibelakang Syifa, handuk milik istrinya masih menggantung dibahunya


"Eh, Bang. Akhirnya!! Barakallah ya, Bang. Semoga pernikahannya langgeng sampai surga!" ucap Akmal pada laki-laki yang kini menjadi abang iparnya

__ADS_1


"Aamiin, Ya Allah." jawab keduanya serempak, mereka pun saling tatap


Melihat itu, Akmal ingin mengakhiri panggilan tersebut.


"Sudah lah, Kak!" ucapnya


"Eh, sudah apanya? Kau belum menceritakan masalahmu sama kakak! Jangan buat kakak nggak bisa tidur ya, Mal."


"Ck! Itu suamimu mau kau cuekin!" ucap Akmal agak berbisik


"Sudah lanjutkan saja, Mas nggak apa-apa." jawab Hafiz memegang bahu istrinya dan menatap sekilas ke layar hape.


"Mas nggak masalah, Mal. Sekarang ceritakan semuanya ke aku! Cepat!!" cecar Syifa, Akmal tampak membuang nafasnya kasar dan menceritakan semua hal yang terjadi terkecuali profil perempuan bule yang membuatnya galau itu


Hanya berkisar sepuluh menit mereka mengobrol, pembicaraan mereka terjeda lantaran Syifa mendengar irama nafas teratur dari sebelahnya, Syifa melihat ke sumber suara.


"Ya sudah, banyak bersabar saja lah kau! Kalau jodoh nggak kemana? Tapi aku penasaran juga, Mal. Seperti apa sih cewe bule yang membuatmu galau ini! Spill dong dia bule mana?"


"Nanti kau pasti tau!"


"Ya sudah ya, suami ku sudah tidur! Nanti terganggu karena suara cempreng mu itu." Syifa menatap lekat-lekat wajah Hafiz yang sudah benar-benar terlelap


"Eh, ditinggal tidur kau, Kak!" Akmal menahan tawanya


"Sporter bola itu ya, Kak?"


"Hm! Para korban kan dibawa ke rumah sakit tempat mas Hafiz kerja."


"Iya lah, pasti capek kali lah itu. Ya sudah, selamat menganggur ya. Malam ini kau jadi jablay! Hahaha ...."


"Kau ini!"


\=\=\=\=


Syifa beranjak perlahan turun dari tempat tidur, menyetel pendingin ruangan agar lebih nyaman dan memakaikan selimut kepada suaminya.


Tidak ada tanda-tanda Hafiz akan bangun, Suara gigi yang saling beradu menimbulkan bunyi 'kretek' membuat Syifa menahan ngilu.


"Ih, nggak sakit tuh giginya." ucapnya sendiri. Satu hal baru yang ia temukan pada diri laki-laki yang baru beberapa jam menjadi suaminya tersebut.


Syifa pun berjalan keluar kamar, membuka dan menutup pintu seperlahan mungkin.


Sesampainya di dapur, Mama Juna, bibi Juni dan kedua neneknya memandangnya serentak.

__ADS_1


"Mau ngapain, Fa? Mau makan lagi?" tanya mama Juna


"Enggak kok, Ma. Mau bantu beres-beres saja. Adik-adik sudah pada tidur kan?" Syifa melihat sekeliling mencari keberadaan dua sepupunya yang tidak tampak


"Sudah, mereka kan besok sekolah. Kamu juga ngapain disini? Hafiz kamu tinggalin?"


"Mas Hafiz sudah tidur, Ma. Kasian. Sepertinya Mas Hafiz kecapen."


"Ya sudah sana temani suamimu. Kami juga sudah mau tidur, Nduk. Pergi sana masuk kamar? Nanti kalau Hafiz terbangun kamu nggak ada dia nangis loh." canda bunda Cindy


"Nenda bisa saja. Nenda, Nenek dan mama tidur dimana?"


"Sudah, jangan pikirkan kami. Yang pasti kami tidur. Sana, Fa! Nggak baik ninggalin suami. Ini malam kalian!" usir nek Lia pula


"Ya sudah lah. Syifa masuk kamar deh. Hm ... Nenda! Air putih ini boleh dibawa ke kamar?" Syifa memegang pitcher yang ada di meja.


"Boleh, Kak. Bawa saja. Sebentar, Bibi ambilkan gelas dan nampannya sekalian." bibi Juni membuka rak disebelah kanannya


"Ini! Selamat malam anak Bibi. Semoga pernikahan kalian bahagia dunia akhirat." Bibi Juni yang belum sempat mengucapkan selamat memeluk dan mencium kening keponakannya itu


"Aamiin, Ya Allah. Terimakasih, Bi." jawab Syifa tersenyum. Lalu berjalan kembali ke kamar membawa air putih dan gelas dalam nampan.


Perlahan Syifa membuka pintu dan sangat hati-hati meletakkan barang yang ia bawa. Syifa pun mengambil handuk yang ternyata diletakkan Hafiz di atas kursi meja rias yang ada dikamar tersebut. Syifa memungutnya dan membawanya ke toilet.


Syifa membuka jilbabnya, mencuci wajahnya dengan facialwash dan menyikat giginya. Bibirnya tidak berhenti tersenyum menatap wajahnya di depan cermin wastafel.


Perlahan tapi pasti Syifa naik ke atas kasurnya, memiringkan tubuhnya memandangi wajah suaminya yang tetap tampan bahkan saat menutup mata.


"Selamat malam suami ku." ucapnya menatap lekat laki-laki di hadapannya, Syifa pun memeluk bantal guling yang menjadi batas mereka.


Malam ini, Syifa tidak ingin bermimpi indah. Andai dia bisa mengusir kantuknya ia pasti lebih memilih memandangi sosok tampan yang ada di hadapannya saat ini.


Cincin bermata biru yang melingkar dijari manisnya pun ia pandang bergantian.


"Cincin bermata biru warisan ibu mertua. Hm ... Seperti cincin yang diberikan pangeran William kepada princes Kate, semoga kisah kita jauh lebih indah dari keromantisan mereka ya, Mas." ucapnya sendiri.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy reading semua, terimakasih sudah membaca dan memberikan jempol di part ini. 😊🙏


__ADS_2