
"Apa aku melakukan hal yang salah, Sha? aku melakukan ini demi orangtuanya yang sudah ku anggap orang tua ku juga!" Syifa menangis memeluk Anastasya
"Kau sudah melakukan hal yang benar, dan sesuatu yang benar itu tidak akan berjalan lancar. Ini ujian selanjutnya dari keputusanmu itu, Fa. Bersabarlah, lawan rasa itu. Bukankah di agama kalian menginginkan seseorang yang sudah milik orang lain itu dosa!"
"Hm ... Astaghfirullah." Syifa kembali menangis.
\=\=\=\=
Hujan semakin deras, sejak pagi matahari enggak keluar dari peraduannya. Cuaca pun menjadi sangat cocok untuk terus bermalas-malasan di dalam rumah.
"Makan dulu ya, Mas. Mumpung buburnya masih hangat." perempuan berjilbab membawakan bubur yang masih mengepulkan asap.
"Sebantar! sebentar! Saya bantu!" ucapnya buru-buru meletakkan nampan di atas meja.
"Terimakasih!" ucap laki-laki yang tampak sangat pucat
"Sudah kewajiban Yoli, Mas." jawab perempuan itu beserta senyum manis tersungging membingkai wajahnya
"Makan sendiri atau Yoli suapin?"
"Masih bisa makan sendiri kok." ucap laki-laki itu datar
"Kata bunda, Mas memang punya riwayat asam lambung tinggi. Makanya, Mas ... jangan males makan! Padahal setiap hari saya sudah masakin loh, tapi ... memang Yoli tidak begitu pandai memasak sih hehe ...." Yoli tertawa sendiri
"Kata Ayah nanti mereka mau main kesini, Mas. Mumpung lagi ada urusan di Bandung katanya!"
"Loh, kok nggak ada bilang ke saya. Hape saya mana?"
"Hape Mas disana! batrenya low jadi Yoli Carger! Karena hanya tinggal sepuluh persen jadi hapenya saya matiin! Mungkin sudah penuh tuh, sebentar saya ambilkan dulu!" Yoli beranjak menuju meja yang jaraknya jauh dari mereka.
"Mana? Sini-in!" pinta Fauzi
"Mas, jangan lama-lama main handphonenya, nanti kepalanya sakit lagi loh. Ini makannya sudah selesai? kok nggak di abisin?"
"Kenyang!"
"Baru sedikit kok sudah kenyang sih, Mas. Yoli suapin ya, Aaak buka mulutnya!"
"Sudah kenyang, Yoli!" tegas Fauzi
"Tolong jangan bandel, Mas. Dua suap lagi aja deh. Jangan kosong perutnya, Mas. Apa perlu saya panggilin dokter Syifa?!" Fauzi mengangkat kepalanya mendengar nama orang yang selalu di hatinya itu di sebut
__ADS_1
"Kenapa bawa-bawa Syifa? dia nggak tau apa-apa!" ucap Fauzi sedikit meninggi
"Eh, itu ... kata bunda Mas itu selalu nurut kalau sudah mba dokter yang ngomong!
Bunda kan cerita ke Yoli siapa teman-temannya mas!" gadis itu tunduk takut melihat suaminya yang tiba-tiba marah
"Jangan pernah bahas ini lagi! jangan pernah bawa-bawa nama orang lain dalam urusan kita!"
"Aku mengantuk! bisakah aku minum obat sekarang?" ucap laki-laki itu lagi
"Oh, iya. Ini obatnya." Yoli memberikan beberapa butir pil berbeda warna ke tangan suaminya dan memberikannya satu gelas air putih hangat.
"Yoli ke dapur dulu ya, Mas. Kalau perlu apa-apa panggil saja." Perempuan itu pamit dengan mata berkaca-kaca
"Ya Allah aku salah apa! kenapa tiba-tiba jadi marah ...." lirih Yoli dalam hati. Pintu kamar pun ia tutup dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang membuat suaminya terganggu
\=\=\=\=
Dua orang berbeda usia tampak berbincang sambil sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dapur kecil itu kini terasa ramai karena bukan si pemilik rumah saja yang ada disana melainkan mertuanya juga.
"Jadi bagaimana? apa sudah ada tanda-tanda kami menjadi kakek dan nenek, Sayang?" tanya bunda kepada menantunya yang sedang menggoreng bawang
"Apa kalian perlu program ya, Nak?"
"Masih kurang dari tujuh bulan juga, Bunda. Mungkin Allah masih memberikan kami waktu untuk lebih mengenal satu sama lain lagi, pacaran gitu, Bun. Hehe"
"Iya sih! tapi bunda yang nggak sabar!" bunda tertawa sendiri mengingat ke inginannya yang begitu menggebu
"Nih sudah selesai, tinggal bawang gorengnya saja kan, Nak?" Yoli mengangguk
"Bunda panggil mereka ya!"
"Iya, Bunda. Tolong ya bunda. Terimakasih." jawab Yoli, gadis itu kini sibuk menata meja makan
Bunda pun meninggalkan dapur, kakinya melangkah menuju kamar Fauzi memanggil anak dan suaminya yang sedang berbincang disana.
"Lupakan lah, Nak. Ini sudah takdir kalian! Kasian istrimu! Seperti yang ayah lihat, istrimu itu baik orangnya, sopan juga. Coba lah buka hatimu, Nak. Kalau boleh berandai-andai juga, kau tidak akan bisa bersama Syifa lagi, karena keluarganya pasti tidak akan ada yang setuju karena kau sekarang sudah beristri!
Jangan siksa dirimu seperti ini, Nak? kau anak kami satu-satunya!" Bunda menghentikan langkahnya, perempuan paruh baya itu terpaku di balik pintu yang tidak tertutup sempurna
"Aku tidak bisa, Ayah! Semakin aku berusaha melupakannya semakin aku mengingatnya! mengingat semua rencana yang sudah kami susun matang-matang! Aku juga tidak mau jahat kepada perempuan yang sudah menjadi istriku, Pa. Tapi, Aku bisa apa!" Fauzi benar-benar tampak kacau. Ayahnya memeluknya, laki-laki itu pun merasakan hal yang dirasakan oleh anaknya
__ADS_1
"Cobalah, Nak. Demi Bunda ... Syifa juga mau itu kan! semua hanya untuk bunda." ucap laki-laki paruh baya itu.
Dari balik pintu seseorang yang di panggil bunda menutup mulutnya dengan tangan agar tangisnya tidak di dengar. Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya Allah ...." lirihnya
"Kenapa, Bunda? Bunda sakit?!" Yoli tiba-tiba sudah ada di belakangnya, melihat sang bunda seperti itu Yoli jadi panik
"Ayah! Mas! Bunda ...." Yoli memegangi bundanya yang seolah kehilangan tenaga untuk berdiri
Kedua laki-laki yang ada di dalam kamar itu pun keluar dengan panik.
"Loh ... bunda kenapa, Nak?"
"Tadi bunda seperti kesakitan, Yah. Bunda menangis dan jadi seperti ini!" jawab Yoli tak kalah panik. Kedua laki-laki itu saling menatap,
"Bawa bunda ke kamar, Yah. Fauzi panggil bidan dulu!" Fauzi mengambil kontak motornya
"Mas masih belum sembuh! biar saya saja yang jemput bidannya! Mas jaga bunda saja, bantu bunda untuk mencium aroma ini!" Yoli memberikan minyak kayu putih miliknya
"Yoli pergi dulu, Mas." pamit perempuan itu
Setelah Yoli pergi, Fauzi masuk ke dalam kamarnya memberikan minyak kayu putih ke sisi kanan dan kiri kepala bundanya dan mendekatkan botol berukuran kecil itu ke hidung.
Kesadaran bunda pun terkumpul, Bunda membuka matanya dan menangis sejadi-jadinya memeluk anaknya.
"Bunda kenapa? mana yang sakit, Bun?" tanya Fauzi lembut
"Kenapa kau melakukan semua ini, Nak! Kenapa kau menyiksa dirimu sendiri? kenapa kau tidak menceritakan tentang kalian kepada Bunda! Bunda sama sekali tidak menyangka kalau kalian sebenarnya bukan hanya sekedar bersahabat?" tangis bunda semakin pecah melihat anak laki-laki satu-satunya itu pun ikut menangis
.
.
.
.
Terimakasih yang sudah mau mampir kesini yak🙏
Sekali-kali kasilah jempol heheh
__ADS_1