The Secound Choice

The Secound Choice
Enam


__ADS_3

Kaca mata hitam bertengger di hidung mancung seorang laki-laki berbadan tegap. Melangkah mantap menuju pintu keluar bandar udara Kualanamu, Medan.


"Mama!!" ucap Laki-laki itu sambil memeluk perempuan paruhbaya di hadapannya.


"Akhirnya kau pulang juga, Nak." perempuan yang tak lain adalah mama Juna itu menitikkan airmata kerinduan.


"Ya pulang lah, Mama. Akmal sangat merindukan, Mama. Mana si dokter galau?" laki-laki itu celingukan mencari keberadaan sang kakak


"Kakakmu sedang di Jerman, sudah lebih setengah tahun. Akhirnya dia mau mengambil spesialis juga!" tepuk papa Adzka di bahu anaknya


"Hm ... harus patah hati dulu ya baru mau lanjut sekolah. Hahaha ... dasar! kenapa papa tidak nikahkan saja dia dengan orang lain, kalau di pikir-pikir kasihan juga kakak, karena galau dia malah milih sekolah lagi. Apa papa tidak takut dia menjadi dokter spesialis gagal?"


"Kau ini! jangan bicara yang tidak-tidak! Papa mengenal kakakmu, dia jauh lebih profesional dari mu. Segalau apapun dia, kalau sudah kembali kedunianya dia akan lupa dengan hal lain!"


"Oke! Oke! Saya menyerah, Papa memang paling mengerti kakak! dan aku ... ini dia yang paling mengerti aku!" Akmal kembali memeluk mama Juna.


"Sudah ayo kita pulang!" ajak nya pula


\=\=\=\=


Akmal sibuk dengan ponselnya, sementara papa Adzka duduk didepan di sebelah supir. Sedangkan mama Juna sibuk memperhatikan anaknya yang sedari tadi bermain handphone.


"Sudah pulang jarang-jarang. Begitu pulang handphone terus yang di urusin dari tadi ...." cebik Mama Juna


"Mama ... Akmal isi pulsa, mau Vc sama kakak. Sebentar ya, Mama ku Sayang!" Laki-laki manis itu tersenyum kepada wanita yang melahirkannya.


"Halo, Guten Morgen Ipeh!" ucapnya di layar yang menunjukkan sosok wajah lelah


"Guten Morgen pale lo! Disini masih jam tiga pagi Kamal." jawab Syifa malas


"Sekalian tahajjud, Kakak!" mama Juna ikut bicara


"Eh, kok ada Mama. Kau pulang ya, Mal? Duh ... enak banget bisa kumpul. Hm ... maau!"


"Ya sudah pulang sini! Aku ada libur satu minggu nih."


"Kau kira harga tiket seperti beli kerupuk hah?! kau saja yang kesini! aku punya teman cantik loh!"


"Waw ... mana-mana? kalau benar-benar sesuai kriteria aku akan kesana!" Akmal antusias


"Dasar genit!" cubit mama Juna


"Aduh, Maa ... Apa mama tidak ingin punya menantu?" rengek Akmal


"Hm ... Mama pikir-pikir dulu!"


"Jangan, Ma! Jangan izinin dong! Kakak duluan dong, Mal! Pokoknya kakak nggak boleh di langkahin! Papa!!!!" rengekan Syifa terdengar jelas di telinga papa Adzka

__ADS_1


"Yaa! tidur lagi sana, Nak! istirahat yang cukup nanti sakit!" ucap papa Adzka keras agar terdengar


"Ya sudah, kami sudah mau sampai rumah! Dada Ipeh."


"Da, Kamal. Jagain Papa Mama ya!"


"Siap!"


\=\=\=\=


Gadis langsing itu masih tampak mengantuk, tapi matanya enggan terpejam lagi. Dengan melawan malas, Syifa menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Menyeret sendal busa berbulu halus untuk menutupi telapak kakinya.


"Hoooam!" Sesekali Syifa menguap


"Jam 03.15! Shalat saja lah ...." Niat yang tadinya masuk ke kamar mandi hanya untuk buang air kecil saja kini berubah menjadi ibadah.


Syifa membentang sajadahnya, sambil menangis gadis itu mengadah tangan. Tujuh bulan sudah dia membohongi dirinya sendiri dan orang disekitarnya.


"Ya Allah, salahkah aku jika masih berdoa untuknya? untuk keselamatan dan kebahagiaannya?" Syifa menangis sesenggukan, membuat Anastasya terbangun.


"Apa yang membuatmu tidak bisa melupakannya, Fa? Sudah berapa lama kalian berhubungan? aku benar-benar penasaran dengan cerita kalian!?" Anastasya tidak perlu lagi bertanya apa penyebab sahabatnya itu menangis.


Natasha turun dari ranjang membawa selimutnya, selimut itu ia balutkan ketubuhnya lalu duduk disebelah Syifa.


"Dia cinta pertama mu?" tanya gadis itu pula. Syifa menggeleng.


Cerita Syifa


Aku dan Fauzi berteman saat usia kami 6 tahun, sebelum masuk sekolah dasar kami lebih dulu berkenalan di sebuah acara yang di hadiri mamaku dan juga mamanya.


Anak laki-laki yang gigi susunya sudah busuk itu memakai baju koko berwarna putih. Dia sangat ramah, kami bermain bersama sembari menunggu acara selesai.


Selang beberapa hari kemudian kami bertemu lagi ternyata kami satu sekolah. Pertemanan kembali berlanjut dan semakin akrab, saling berpacu menggapai prestasi. Peringkat kami berdampingan, aku juara satu dia juara dua.


Singkat cerita akhirnya kami tamat sekolah dasar dan lanjut ke bangku SMP. Dan kami berpisah. Aku sekolah di kota sedangkan dia tidak, saat itu kami jarang bertemu karena aku juga kost jarang pulang ke rumah.


Saat SMA ternyata kami kembali satu sekolah walau tidak satu kelas. Kami mulai kembali bersahabat, dia selalu melindungiku dan menjaga ku. Dia menjadi garda terdepan di saat aku mengalami masalah, apapun itu semua ku ceritakan padanya. Dia diary hidupku.


Saat aku mengenal cinta, dan patah hati dia lah pengobatnya. Begitu juga aku, aky menjadi tempat curhatnya saat dia sedang menyukai seseorang.


Pacar pertamaku namanya Boby, satu kelas Fauzi. Boby anaknya baik, ganteng dan idola sekolah. Aku merasa sangat istimewa karena bisa menjadi pacar sang idola sekolah. Dia mendukungku. Tapi hanya dalam waktu satu tahun Boby selingkuh, Dia sangat marah. Dia rela menghapus pertemanannya dengan Boby dan teman satu genknya demi bisa membalas air mataku yang jatuh karena teman satu kelasnya itu. Dan saat itu aku tau ternyata dia mencintaiku ... sejak dulu!


"Jangan pernah sakiti, Syifa. Dari awal aku sudah memperingatkanmu! Jangan pernah buat dia menangis karena dia segalanya buatku!" Aku mendengar dengan jelas apa yang dia ucapkan saat bogem mentah ia lepaskan dan membuat bibir Boby pecah.


Dia juga tidak kalah babak belur waktu itu, sampai-sampai di di skorsing beberapa hari karena perkelahian itu. Aku mengobati lukanya sambil menangis dan juga marah-marah.


"Kenapa harus mukul sih! kan aku sudah bilang jangan selesaikan masalah pakai tangan!"

__ADS_1


"Kalau nggak pakai tangan pakai apa dong? pakai hati? sakit hatikan lo!


Makanya kalau pacaran itu jangan sepenuh hati, setengah hati saja sudah kebanyakan kalau buat Boby. Baru juga kenal berapa lama udah jatuh cinta sampai segitunya!" waktu itu dia balas marah padaku, aku nya juga sih yang salah.


"Kan pengen tau rasanya pacaran gimana, Zi!"


"Kalau mau pacaran itu di pikir dulu. Kenali dulu gimana sifatnya, sikapnya! jangan hanya karena ganteng idola sekolah langsung klepek-klepek!"


"Kan keren! memenangkan hati idola sekolah!"


"Iya, tapi ujung-ujungnya sakit hati kan!"


"Trus gimana dong?"


"Nggak usah pacaran!"


"Nggak lengkap dong cerita hidup gue!"


"Ntar gue yang lengkapin!"


"Issh ... ogah! Lo tu kasar, suka main tangan. Kalau pacaran sama lo bisa-bisa gue kena Kdrt!"


"Nggak akan! Gue janji!" tiba-tiba aja dia langsung ngomong gitu ke aku dan akhirnya kami pun pacaran.


Kami pacaran tanpa sepengetahuan orangtua, Orang tua kami hanya tau kami bersahabat saja. Setelah lulus SMA kami ldr, masing-masing mengejar cita-cita. Aku kedunia kita ini dan Fauzi menjadi TNI.


Setelah aku lulus dan bekerja di rumah sakit kami lumayan sering bertemu dan selayaknya orang yang berpacaran. Akhirnya Papa dan mamaku tau. Mereka mendukung semua keputusanku. Kami berencana untuk menikah setelah tiga tahun pacaran. Tahun ini!


Waktu itu aku datang ke rumahnya, kami hendak membicarakan hal ini karena keluarga tidak tau menau soal ini. Saat aku tiba di rumahnya sakit bunda kambuh.


Aku yang merawat bunda, dan disitulah aku bertemu dengan ibu dari istrinya sekarang. Bunda dan ibunya Yoli berniat untuk menjodohkan anak mereka.


Wajah bunda benar-benar berbinar saat melihat foto calon menantunya. Dan atas izin Allah kesehatan bunda semakin membaik.


Aku memberitahukan hal ini kepadanya, Fauzi marah besar! dia malah ingin membawaku kawin lari saat itu.


"Aku tidak akan bisa mencintai orang lain, Fa! dari dulu hanya ada kamu di hatiku!" itu yang dia katakan. Matanya benar-benar menunjukkan kejujuran. Aku bingung harus apa, aku juga merasakan hal yang sama, di hatiku juga hanya ada dia. Dia adalah semangat hidupku setelah orang tuaku.


Tapi sebagai anak, tugas kita harus berbakti. Aku mengambil keputusan untuk meninggalkannya demi bunda.


.


.


.


.

__ADS_1


Jempol ya 🙏


__ADS_2