
"Aw!!" Adam menepis tangan perawat yang membersihkan luka di wajahnya,
"Maaf, Pak. Ini memang sedikit perih."
"Sudah pergilah sana! Aku tidak perlu di obati." ucap Adam pula, laki-laki itu memang benar-benar keras kepala
"Saya hanya menjalankan perintah, Pak." jawab perawat itu
\=\=\=\=
Suara tangisan bayi menghentikan pembicaraan dua perempuan yang ada di ruangan berdinding biru muda. Salah seorang dari mereka berdiri terburu-buru menuju ke asal suara.
"Eh, sudah bangun." sapaan itu disambut dengan senyuman yang membuat semua lelah hilang. Senyuman dari malaikat kecil yang slalu ditunggu kehadirannya dalam setiap hubungan pernikahan.
Perempuan berhidung mancung itu membopong bayinya menemui Syifa.
"Lihat itu ada siapa, Sayang. Ada aunty Syifa tuh."
"Hallo, sudah bangun si gemoy." Seperti biasa Syifa memegang tangan bayi, menggoyang-goyangkan tangan mungil itu dan menciumnya gemas
Mereka bertiga pun larut dalam cerita dan bercengkrama dengan bayi mungil yang baru mulai tengkurep
Sesekali istri Ehren menangkap raut kecemasan dari Syifa, perempuan yang selalu mengenakan hijab tersebut mencoba menenangkannya.
__ADS_1
"Istirahatlah, besok kakak akan menemanimu untuk mengambil barang-barang di rumahmu. Kakak juga nggak masalah kamu tinggal lama disini, kami jadi ada temannya. Iya kan, Sayang." ucap wanita itu
"Hm ... mungkin besok sudah tidak apa-apa pulang ke rumah. Mungkin Adam sudah tenang."
"Jangan mengambil resiko! Seharusnya Adam itu sudah menjadi rawatan psikiater, harus malah. Kalau dibiarkan mungkin akan mengakibatkan korban jiwa tuh.
Syifa disini saja, kami juga akan merasa bersalah nanti kalau terjadi apa-apa sama kamu. Kami harus bilang apa nanti sama Hafidzh."
"Hafidzh?!"
"Hm ... walaupun kamu sudah menolak lamarannya, tapi Hafidzh masih tetap pengen tau semua tentang kamu disini."
"Menolak lamaran? kapan?"
"Syifa becanda deh."
"Iya, Hafidzh. Temannya suami kakak! nggak mungkin nggak kenal kan? Katanya kamu sudah menolak lamarannya. Waktu kakak mendengar kamu menolak lamaran Hafidzh, kakak tuh penasaran sekali loh. Alasan kamu menolak dia apa! Padahal dokter Hafidzh itu laki-laki dambaan semua wanita loh. Kecuali saya ya ...."
Syifa bengong, tidak percaya mendengar semua itu.
"Ah ... kakak bisa saja. Nggak mungkin lah. Mm ... Syifa ke kamar sekarang, Boleh?" ucapnya
"Oh ... iya iya. Selamat istirahat ya, Dek. Met bobok aunty." Istri Ehren mengangkat tangan bayinya melambai-lambai ke arah Syifa
__ADS_1
"Nggak mungkin kan Syifa nggak tau. Nolaknya sampai dua kali lagi ...." bisik istri Ehren mengangkat kedua bahunya.
Syifa berjalan menuju kamar tamu rumah Ehren, pikirannya jauh menelusuri kenyataan yang tidak bisa di nafikan yang baru saja ia dengar.
Hatinya terus bertanya dan bertentangan. Bagaimana mungkin Hafidzh melamarnya.
Syifa membuka knop pintu, kamar yang berukuran cukup luas dengan ranjang besar dan satu lemari bermaterial kayu mengisi kamar tersebut. Syifa menyingkap tirai, memandang gugusan bintang terang seolah bertanya apa yang telah terjadi.
"Apa kau baik-baik saja?" pesang singkat dari seseorang membuat jantungnya semakin berdegup kencang
Syifa hanya membaca pesan tersebut tanpa ingin membalasnya.
Meski malam semakin larut, rasa kantuk tak kunjung datang. Kekecewaannya terhadap Adam ditambah lagi kebenaran yang baru saja ia ketahui membuat matanya tidak bisa terpejam barang sedetik pun.
"Papa tidak pernah salah! Pantas saja ... Papa tidak senang aku semakin dekat dengan Adam."
"Aku akan pulang, Pa. Ma. Syifa akan pulang!" ucap gadis itu menatap langit-langit kamar
.
.
.
__ADS_1
.
Bingung mau buat apa nih. Segini aja dulu. Lain waktu nulis lagi. Beberapa hari ini aku off dulu ya, mau mudik. Yeeey 💃💃💃