The Secound Choice

The Secound Choice
Dua puluh Empat


__ADS_3

Suara ambulance terdengar nyaring, mobil berwarna putih itu memasuki area rumah sakit. Petugas yang berjaga dengan sigap mengambil brangkar dan menjemput pesakit korban kecelakaan lalu lintas tersebut.


"Dokter! pasien mengalamai luka berat dibagian kaki!" ucap salah seorang perawat. Dokter bertubuh langsing itu pun berjalan cepat memasuki ruangan.


"Pasien kehilangan kesadaran, Dok." ucap salah seorang lagi. Dokter itu mengangkat sebelah tangannya untuk memberikan perintah agar para juru rawat tenang.


Satu jam berlalu, Syifa keluar dari ruangan tersebut. Di depan pintu terlihat beberapa orang berdiri. Sosok bayi dalam pangkuan seorang ibu tua menarik perhatiannya. Bayi itu masih sangat muda


"Apa bayi ini anak pasien yang baru kecelakaan?"


"Benar, Dokter. Bagaimana keadaan Ibunya?"


"Alhamdulillah ... pasien sudah sadar. Kedua kakinya patah sepertinya pasien terbentur benda keras!"


"Ya Tuhan!" tangis sang ibu tua pecah


"Kasihan sekali Ibumu, Nak." ucapnya sambil memeluk bayi yang tertidur pulas itu.


"Untung saja Ibumu meninggalkanmu dirumah, kalau kau ikut pergi dengannya ... ah, nenek tidak tau akan bagaimana." ucapnya pula


"Yang sabar, Ibu. Kalau pasien menjaga diri dengan baik. Insya Allah akan cepat pulih kembali kok. Tapi, memang membutuhkan waktu. Doakan Ibu nya ya, Nak. Saya permisi dulu, Bu." ucap Syifa kepada wanita tua dan mengelus punggung sang bayi.


"Kamu harus melaporkan kejadian ini kepada polisi!" dari kejauhan samar-samar Syifa mendengar teriakan si Ibu tua yang tampak marah sedang berbicara dengan seorang laki-laki yang tadi bersandar di pintu UGD.


"Ya Allah, bukan kecelakaan murni ...." gumamnya


\=\=\=\=


"Makan obatnya dulu ya." laki-laki berseragam hijau masuk ke dalam kamar. Perempuan yang bersandar di tepi kasur menyambutnya dengan senyum begitu manis walau wajahnya terlihat pucat.


"Maaf ya, Mas. Mas jadi repot." ucapnya mengambil gelas yang dibawa suaminya


"Sebenarnya Yoli bisa kok ambil sendiri." ucapnya merasa tidak enak


"Pokoknya Mas sudah bilang. Jangan turun dari tempat tidur. Bahkan kalau mau ke kamar mandi juga harus panggil Mas!"


"Kalau pingsan lagi gimana?" sambung laki-laki itu


Sudah dua hari Yoli tidak enak badan. Setelah kepulangan mereka dari kediaman almarhum nenek. Yoli merasa sangat kehilangan, seperti tidak mempunyai semangat sedikitpun hingga perempuan solehah itu jatuh sakit.


"Cepat lah sembuh. Harus semangat! Nenek juga pasti tidak suka melihat cucunya seperti ini." Fauzi mengambil gelas yang sudah tidak berisi air sama sekali


"Aamiin. Yoli juga nggak enak begini, Mas. Nggak bisa kerja, nggak bisa ngurusin, Mas. Ngurus rumah! Haah ...." Yoli menghela nafas


"Masih rasa dingin nggak kakinya?" Fauzi membuka selimut yang menutup kaki Yoli dan memijat bagian tapaknya


"Sedikit, Mas. Nggak seperti kemaren. Amit ya, Mas."


"Amit kenapa?"


"Mas pegang kaki saya."


"Ooh ... ini! Nggak apa-apa loh."

__ADS_1


"Oh iya, Astaghfirullah." Yoli memukul jidatnya pelan


"Kenapa?" tanya Fauzi


"Mas bisa tolong ambilkan tas hitam di dalam lemari itu." Yoli menunjuk lemari kayu yang ada di dalam kamar tersebut


"Tas hitam?" Fauzi berdiri dan mendekat ke lemari


"Sebelah situ, Mas. Pintu yang ada kaca nya!"


"Mana? Nggak ada tas disini!"


"Di bawah, Mas. Bukan digantung diantara baju. Coba mas lihat bener-bener deh. Tas Yoli cuma dua kok disitu. Satunya warna maroon satunya lagi hitam." jelas Yoli


"Ini bukan?" Fauzi mengangkat tinggi tas hitam dengan pengait berwarna silver


"Iya, Mas." Fauzi pun membawa tas itu kepada istrinya


"Mau ambil apa sih?" tanyanya penasaran


"Baarokallahu fii Umrik, Semoga Allah panjangkan umur taqwa, Mas. Mengabulkan semua harapan dan ke inginan, Mas. Dan semoga Allah memberikan kebaikan dunia akhirat kepada, Mas. Aamiin ya Allah." ucap Yoli, sebuah kado kecil ia berikan kepada suaminya itu


"Aamiin ya, Allah. Apa ini?" laki-laki itu tersenyum


"Harganya nggak seberapa, Mas. Cuma bisa beli yang seperti itu. Udah gitu telat lagi ngucapinnya." Yoli menunduk sedih


"Nggak apa-apa. Malah yang ngucapin dengan doa yang begitu cuma kamu!"


"Alah ... nggak mungkin!"


"Mas buka ya!" Yoli mengangguk, Fauzi membuka kertasnya dengan sangat hati-hati


"Dikoyak juga nggak apa, Mas."


"Ya jangan loh. Sudah capek-capek bungkus cantik begini kok!"


"Alhamdulillah! terimakasih ya, Dek." Fauzi memeluk istrinya


"Sama-sama, Mas. Pakai ya." balas gadis itu


"Akhirnya kamu pensiun juga." Fauzi membuka jam tangan yang ia kenakan dan memakai jam tangan yang baru diberikan istrinya


"Ganteng nggak?" Fauzi mengangkat tangan kirinya sejajar wajah


"Tambah ganteng lah!" Yoli kali ini tertawa


"Eh, Mas. Ini sudah jam berapa? nanti dicarii komandan!"


"Oh iya. Kamu mau ke toilet nggak?"


"Nanti kalau mau ke toilet Yoli bisa sendiri kok, Mas."


Fauzi membuka jam yang baru ia kenakan sekalian membuka kaos kaki yang masih ia kenakan. Laki-laki itu membuka selimut yang membalut separuh tubuh istrinya.

__ADS_1


"Kan Mas sudah bilang, jangan turun dari tempat tidur!"


"Eh! Eh!" Yoli terkejut saat tubuhnya diangakat. Fauzi menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi.


"Turunin disini! Sudah ... Mas keluar dulu!" Yoli membenarkan bajunya di depan pintu kamar mandi


"Kalau pingsan di dalam gimana?"


"Enggak, Mas. Nggak pingsan lagi ...."


"Kalau begitu pintunya nggak usah di tutup deh."


"Malu dong ih!"


"Ya kalau kepeleset kepentok ... gimana?"


"Maaas!!"


"Ya udah, cepat sana!"


Yoli menutup pintu kamar mandi.


"Jangan di kunci!! Mas nggak akan masuk!" teriak Fauzi saat terdengar suara gerendel pintu berbunyi


Yoli membuka kran air, "Airnya nggak usah di buka, Dek. Masih penuh bak mandinya!"


"Kedengeran dong, Mas. Saya kan mau pipis! Mas jauh-jauh deh."


"Nggak perduli, kamu mau kentut juga nggak masalah!" ucap laki-laki itu


Gemericik air terdengar beberapa saat kemudian.


"Dek!"


"Hm"


"Sudah?"


"Hm"


"Kenapa?! Mas masuk ya!"


"Jangan!"


"Kamu ngapain?"


"Ook!"


.


.


.

__ADS_1


.


kok yo saya mesem deweee iki 🤭🤭


__ADS_2