The Secound Choice

The Secound Choice
Dua puluh Sembilan


__ADS_3

"Dibalik kesehatan, keselamatan dan kesuksesan seorang anak, Ada doa yang senantiasa tiada henti dari orang tua hebat"


\=\=\=\=


Disepertiga malam nan syahdu, sepasang tangan menengadah memohon dengan khusuk kepada sang pemilik semesta. Hanya kepada Rabbnya tempat ia mengadu, menitipkan permata hatinya agar senantiasa mendapatkan yang terbaik dalam hidup.


Seumur hidup, Papa Adzka tidak pernah menolak bahkan menentang sesuatu yang dilakukan Syifa, anaknya. Tapi kali ini, entah kenapa perasaannya selalu menolak kedekatan Syifa dengan Adam.


"Ya Allah ... berikan anak hamba jodoh yang mencintainya seperti Engkau memberikan kepada hamba rasa cinta yang begitu dalam kepada Ibunya. Rasa cinta yang tidak pernah engkau izinkan berpindah kewanita manapun.


Engkau lah pemilik hati semua makhluk-Mu. Izinkan anak hamba mendapatkan laki-laki baik yang bagus nasabnya dan juga agamanya.


Hamba titipkan anak perempuan hamba kepada-Mu ya, Allah. Hanya Engkau lah sebaik-baik penjaga." doa itu begitu tulus beliau panjatkan, tak lupa Papa Adzka menyertakan doa untuk keselamatan Akmal semoga anak laki-lakinya tersebut selalu dilindungi dalam menjalankan tugas di daerah konflik.


Sayup terdengar suara lantunan Al-qur'an dari masjid di ujung jalan. Papa Adzka melipat sajadahnya dan beringsut ke atas tempat tidurnya.


"Sayang, Bangun! Hampir subuh. Mas ke masjid dulu ya." ucap Papa Adzka mengecup kening istrinya. Mama Juna pun mengerjapkan matanya


"Sudah Adzan, Mas?"


"Belum"


"Saya sikat gigi sebantar, Tunggu ya, Mas. Ikut!" Mama Juna turun dari ranjangnya dan bergegas menuju kamar mandi


"Jangan buru-buru, Ma!" ucap Papa Adzka


Laki-laki itu bahagia melihat istrinya yang semakin tampak sehat, meski harus menjadi suami yang ekstra bawel karena kesehatan jantung istrinya harus selalu ia pantau tanpa lengah.


Beberapa menit kemudian keduanya pun pergi dengan mengendarai motor berwarna hitam menunaikan ibadah bersama.


Sungguh beruntung jika semakin bertambahnya usia pernikahan semakin bertambah pulalah rasa cinta dan kasih antara sesama pasangan.


\=\=\=\=


Dalam sebuah restoran cepat saji, Adam dan Syifa sedang makan berhadapan. Sang gadis terlihat banyak diam. Syifa hanya mendengarkan setiap ocehan yang keluar dari mulut Adam.


"Kamu kenapa sih? Sakit? Aku perhatikan dari tadi kamu banyak diam, nggak seperti biasa."


"Kita ke dokter ya." ajak pria tersebut


"Nggak kok, Dam. Iam Oke." balas Syifa mengaduk lemon tea nya dengan sedotan

__ADS_1


"Apa aku ada salah bicara?"


"Tidak"


"Apa aku melakukan kesalahan?"


"Tidak!" jawab Syifa, nadanya semakin tinggi


"Apapun itu aku minta maaf." ucap Adam matanya menatap perempuan dihadapannya. Tatapan itu tampak begitu tulus


"Apa kau sudah kenyang?" tanya Syifa akhirnya


"Belum, aku masih ingin menghabiskan ayam ini!" Adam mengambil sepotong paha ayam yang ada dihadapan mereka sambil mencocolnya ke saos sambal


"Cepat lah!"


"Bukannya hari ini kau free. Tidak ke rumah sakit dan tidak kuliah juga"


"Iya ... tapi aku ingin segera pulang"


"Tunggulah sebentar. Aku masih ingin bersamamu. Akhir-akhir ini kau selalu sibuk. Aku merasa kau seperti menghindari aku, Fa." ucap Adam serius, sementara Syifa ... senyum kecut tersungging diwajahnya


"Ya ... aku nyaman bersamamu, bahkan aku sempat berpikir untuk memulai kehidupan baru ku dengan mu. Aku melihat ketulusan dan cinta di matamu. Tapi ...." Syifa menjeda, seperti dugaannya Adam pun menunjukkan sikap serius


"Tapi apa, Fa?"


"Hm ... apa kau tau beberapa hari ini aku bukan hanya menjadi seorang dokter. Tapi, aku menjadi seorang detektif dadakan!" sorot mata Syifa penuh intimidasi


Adam mengerutkan alisnya, dia benar-benar tidak mengerti kemana arah pembicaraan wanita yang selalu ia inginkan berada di dekatnya tersebut.


"Kita mulai dari sana!" Syifa menunjuk mobil berwarna lemon yang ada di parkiran, kebetulan mereka makan di balkon restoran tersebut, sehingga bisa dengan jelas melihat mobil Adam yang terparkir di sana.


"Mobil?" tanya Adam, Syifa mengangguk


"Sejak beberapa minggu kau membawa mobil itu dengan alasan mobilmu ada dibengkel kan?"


"Ya ... memang benar, mobilku sedang di bengkel. Itu mobil temanku."


"Kenapa mobilmu? penyok?! habis nabrak perempuan lagi? ucap Syifa, raut wajah Adam mulai berubah


"Aku pikir hanya aku perempuan korban tabrakan dengan tersangka yang sama, ternyata, Mena juga bernasib sama sepertiku" terang Syifa

__ADS_1


"Apa yang kau bicarakan, aku tidak mengerti." ucap Adam


"Kau mungkin lupa, seminggu yang lalu aku bertugas menjadi dokter jaga dirumah sakit! Aku mendengar semuanya, Dam. Mena itu mantan tunangan mu kan?"


"Tadinya aku percaya padamu, Dam. Aku percaya kau orang baik, kau mempunyai hati yang tulus, kau benar-benar terluka waktu itu sampai kau putus asa.


Tapi, ternyata kau pendendam! kau tega menabrak wanita yang pernah ada di hidupmu. Ditambah lagi dia masih punya bayi yang harus ia jaga, harus ia susui setiap waktu!


Kau tega menabraknya hanya dengan alasan sakit hati. Bahkan hanya tinggal hitungan menit lagi akan menikah, jika Allah memang tidak menakdirkan seseorang menjadi jodoh kita. Kita nggak bisa berbuat apa-apa, Dam. Itu sudah keputusan-Nya.


Tidak ada yang bisa kita lakukan selain menerima. Dendam?? untuk apa? hanya membuat rugi kedua belah pihak!


Lihat sekarang! Kau merasa selalu diawasi kan! karena sebenarnya kau takut Mena melaporkanmu kepolisi. Lihat Mena! dia harus berada di kursi roda berbulan-bulan untuk memulihkan kedua kakinya.


Apa setelah semua yang kau lakukan ini kau merasa puas, Dam?!! tidak kan?" ucap Syifa berapi-api


"Aku tidak mau membalas cinta orang yang tidak punya rasa empati seperti itu aku tidak mau jatuh cinta dengan orang yang pendendam sepertimu. Dan satu lagi! Orangtua terutama Ibu adalah orang yang paling penting dalam hidup setiap anak. Bagaimana aku bisa membalas cinta seseorang yang sebenarnya dia sangat baik padaku, tapi orang itu sama sekali tidak pernah memanusiakan ibunya sendiri!" Adam semakin tidak nyaman, laki-laki itu semakin heran dengan segala yang Syifa ketahui bahkan tentang Ibunya


"Dipusat perbelanjaan 23 hari yang lalu. Aku berjumpa dengan seorang Ibu yang tergesa-gesa mengantri di meja kasir. Kebetulan aku berada disana. Ibu itu membawa dua kantung belanja yang berat keluar dari supermarket menemui anaknya yang katanya sudah sangat lama menunggu. Kau tau, Dam ... aku sangat membenci laki-laki seperti anaknya itu.


Ck ... sama sekali nggak punya rasa kasih sayang! bagaimana bisa dia membiarkan ibunya membawa belanjaan itu sementara dia sendiri berjalan tanpa beban!!"


"Aa ... aku tidak mengerti ...." ucap Adam,


"Bagaimana aku bisa membalas cintamu, Dam. Sementara aku sangat mengharapkan seseorang yang bukan hanya menyayangiku tapi juga menyayangi keluarga ku. Bagaimana kau bisa menjadi seperti apa yang aku harapkan sementara Ibu mu saja kau perlakukan seperti itu ...." Syifa menyeka airmatanya dengan cepat.


Akhirnya semua unek-unek yang ia tahan selama ini tumpah juga.


Sedih, kecewa, marah. Semuanya bercampur menjadi satu. Tidak bisa dipungkiri perasaan Syifa juga sudah mulai ketingkat di atas level teman terhadap Adam.


.


.


.


.


dapat feelnya nggak sih kalian? berasa nggak kalau Syifa benar-benar marah? serius nanya ini loh.


Happy reading guys 😊

__ADS_1


__ADS_2