
Minggu lalu
Syifa berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Ia datang lebih awal pagi ini, mungkin karena sejak jam dua pagi gadis itu tidak bisa tidur. Bekerja itu lebih baik dari pada terus uring-uringan di rumah pikirnya.
"Selamat pagi, Dokter." sapa beberapa keluarga pasien yang ada diluar ruangan. Syifa membalas sapaan itu dengan senyum ramahnya, sesekali menanyakan kabar si pesakit yang mereka jaga jika gadis itu masih mengingat jelas riwayat sakit si pasien.
Tidak terkecuali dengan salah satu penunggu ruangan yang ada di depannya saat ini. Seorang bayi mungil menggunakan topi berwarna pink tampak menatap kepada yang menggendongnya
"Selamat pagi baby pink." sapa Syifa, perempuan tua yang menggendong bayi tersebut menjawab sapaan dokter cantik itu
"Selamat pagi, Dokter."
"Duh, ceria sekali kamu, Nak. Baru nyusu ya?" Syifa memegang tangan bayi kecil itu, seperti biasa, seperti merespon dengan respon yang tidak kalah ramah bayi itu menggenggam tangan Syifa
"Gemesin banget! Muuach. Dibawa pulang boleh nggak, Bu?" tanya Syifa sambil tertawa
"Hm ... bu dokter bisa punya sendiri kok. Nanti kalau bawa Meysa repot, karena Meysa sepaket. Ada Ibu, ayah dan neneknya." ucap Ibu tua tersebut yang juga tertawa
"Ibunya bagaimana, Bu. Sudah semakin membaik?" Syifa celingukan ke ruangan yang hanya menampakkan kasur tanpa awak
"Jauh lebih baik, Dokter. Kalau dokter Ehren mengizinkan kami akan membawanya pulang besok. Rawat jalan saja."
"Oh ... begitu. Nggak ketemu lagi dong kita, Sayang." ucap Syifa sedih, bayi kecil yang bernama Meysa itu menatap sang dokter
"Ibu Mena nya kemana, Bu?"
__ADS_1
"Oh ... itu, Mena dan suaminya sedang ke taman depan."
"Berjemur? pagi sekali ibu. Matahari juga belum terlalu kelihatan."
"Mereka menemui seseorang di taman." ucap si ibu tua dengan intonasi suara menahan marah.
"Boleh gendok nggak, Bu? mau kasi salam perpisahan saya. Uuu ... bu dokter pasti bakalan kangen kamu, Nak." Syifa bernegosiasi dengan sang nenek untuk mengalihkan pikiran wanita tua yang tampak tidak sebaik sebelumnya.
Beberapa waktu, Syifa asik menggendong bayi mungil itu, lalu memberikan kembali Meysa kepada neneknya.
"Saya permisi, Ibu. Semoga Meysa jadi anak yang sehat dan pintar ya. Nanti kalau ketemu sama dokter jangan di rumah sakit lagi hehe ...
Mari, Ibu." Syifa berpamitan setelah mencium punggung tangan perempuan tua tersebut.
Syifa menapaki jalan, setengah berlari gadis itu menuju taman samping rumah mencari jawaban dari apa yang selama ini ia ingin tau.
"Apa yang bersama istrimu itu Adam Abizard?" suami Mena menatap Syifa, perempuan berjas putih tersebut bersisian dengannya saat ini
"Ya, Dokter mengenalnya?"
"Saya teman dekatnya sekarang. Boleh saya bertanya banyak papa Meysa?" ucap Syifa, dokter cantik itu memanggil suami Mena dengan nama anak perempuannya.
Keduanya pun tampak berbincang, namun mata papa Meysa tetap memperhatikan istrinya di depan sana, bak mata Elang yang siap mencengkram mangsa
\=\=\=\=
__ADS_1
Adam hanya diam, membiarkan Syifa terus mengeluarkan isi hatinya.
"Jadi selama ini kau selalu bilang sibuk, ternyata untuk ini." tanya Adam
"Ya, aku beruntung. Aku mengetahui semuanya sebelum semuanya terlambat."
"Itu berarti kau sudah mencintai aku?"
"Aku tidak perlu menjawabnya. Itu bukan hal yang penting lagi sekarang."
"Benar kan? kau juga mencintai aku kan!" nada suara Adam meninggi
"Kita saling cinta, Sayang. Aku bisa berubah lebih baik. Aku bisa memperbaiki semuanya. Asal aku sama kamu." Adam memegang tangan Syifa, gadis itu pun menepisnya
Tapi Adam sekali lagi mencoba menenangkan gadis itu.
"Aku pulang naik taksi saja." Syifa berdiri meninggalkan Adam
"Aku ... aku senang sekali. Kita pacaran ya, Fa. Aku benar-benar mencintaimu." Adam kini berada di hadapan Syifa, sedikit sekali jarak antara mereka
"Aku tidak bisa, Adam. Aku takut ... aku akan bernasib sama seperti Mena jika kita sudah tidak lagi sejalan."
"Aku mohon, Fa. Aku akan berubah" mata Adam berkaca-kaca
"Maaf ... aku tidak bisa. Biarkan aku pergi, Dam. Tolong ...." Syifa menghiba, tadinya ia sempat takut kalau Adam akan hilang kendali karena sikap tempramennya, seperti cerita papa Meysa.
__ADS_1
"Aku antar. Please ...."
"Oke"