The Secound Choice

The Secound Choice
Lima puluh Tujuh


__ADS_3

"Kamu lagi! Sudah punya calon sendiri belum?"


Pertanyaan Eyang putri membuat Hafiz menghentikan senyuman.


"Hah! Bapak sama anak sama saja!" Eyang putri membuang nafas


Hafiz ingin menceritakan tentang seseorang bercadar juah ditanah Haram, tapi laki-laki itu sendiri masih belum yakin dengan pilihan tersebut. Sebab, dia juga masih menerka-nerka apakah gadis bercadar yang berpapasan dengannya waktu itu adalah gadis yang dimaksud oleh ustadz teman Abinya itu.


"Hm ... Luangkan waktumu secepatnya, kita silaturahim ke rumah Marni!" ucap wanita sepuh itu lagi, kata-katanya bagai titah sang ratu yang tidak mengenal kata selain 'Ya'.


\=\=\=\=\=


Hari terus berjalan, waktu terus berputar tanpa berhenti sejenak pun. Walau mimpi sudah terhenti namun demi memanfaatkan waktu seseorang yang sedang sibuk dengan berbagai macam bumbu dapur itu selalu ada cara untuk mengisi kekosongan hidupnya yang menganggur.


Seperti saat ini, setelah merasa mahir dengan tanaman-tanaman aglonema mengikuti hobby sang mama, Syifa kini mengalihkan perhatiannya kepada bidang kuliner.


Semua itu dilakukan asal masih tetap berada disekitar mama Juna. Gadis itu benar-benar tidak ingin meninggalkan perempuan paruhbaya tersebut.


"Ini bekal Papa!" ucapnya memberikan satu kotak makanan.


"Ini makanan sehat, Jangan dibuang!" ucap Syifa menggoyang-goyangkan jari telunjuknya didepan wajahnya sendiri.


"Terimakasih, kesayangannya Papa." pelukan hangat dan ciuman dikening dihadiahi dokter senior itu.


"Terimakasih sudah memikirkan perasaan Papa juga." ucapnya berbisik, membuat Syifa mengangkat kepalanya menatap papanya lekat-lekat.


"Dua-duanya mendapatkan kesenangan yang sama kan. Mama sempat happy banget waktu tau Syifa dekat dengan Giandra, dan papa juga happy bangey karena nggak jadi besanan sama Om Marchel." ucap Syifa, papa Adzka mengangguk.

__ADS_1


"Tapi kamu harus siap-siap! Mama kamu punya calon baru!"


"Hah! Siapa lagi, Pa?" antara penasaran dan heran, kenapa Mamanya sengebet itu. Sementara papa Adzka hanya mengendikkan bahunya sebagai jawaban


"Ck!" cebik Syifa


"Jangan manyun-manyun begitu! Kalau masak kita harus senyum, ikhlas gitu. Pasti makanannya jadi enak. Tapi, kalau masaknya pake marah-marah, hm ... Alamat aneh rasanya."


"Gitu ya, Pa!"


"Hem! Papa berangkat dulu ya. Kalau sudah selesai temani mama mu dikamar." ucap laki-laki itu, mama Juna memang sedanh tidak enak badan. Jatah sarapannya saja ia suruh antar ke kamar.


\=\=\=\=\=


Perempuan paruhbaya itu menyandarkan tubuhnya pada sofa panjang dalam kamarnya. Kakinya selonjoran, sementara satu tangannya memegang remote televisi.


Telponnya berdering, wajah pucatnya seolah spontan memerah.


"Assalamu'alaikum, Nak." ucapnya membuka percakapan. Salam itu disambut dan percakapan pun berlanjut.


Cukup lama ibu dan anak itu saling bicara, walau hanya mendengar suara, perbedaan benua membuay mereka seakan sedang saling bertatap.


Pintu kamar itu terbuka, menampilkan sosok gadis jangkung dari balik sana.


"Siapa, Ma?" tanya Syifa kemudian


"Akmal." jawab mama Juna membuat Syifa tersenyum dan dengan cepat duduk didekat sang mama.

__ADS_1


"Speaker dong, Ma." ucapnya


"Kamu apa kabar Kamal!" ruangan yang hanya berisi dua orang saja itu pun kini seolah berubah menjadi sekampung.


"Kakak!" ucap Akmal dari sebrang sana, membuat Syifa yakin kalau kata 'kakak' yang baru saja diucapkam adiknya itu mempunyai arti. Maklumlah Akmal jarang memanggilnya dengan sebutan itu kecuali kalau ada maunya.


"Apa!! Perasaanku nggak enak ini!" ucap Syifa, mama Juna tertawa melihat itu


"Kak, aku mau kawin! Aku duluan ya! Is ... Lama kali kok harus nunggu kakak!" oceh Akmal


"Eh, nggak ada ya. Pokoknya aku duluan!"


"Wih kan, Ma. Dengar lah itu, Ma. Bukan mau dia pacaran kek mana lah ada jodohnya!" adu Akmal kepada mama Juna


"Kau sabar lah dulu!" akhirnya mama Juna angkat bicara


"Ih kan, mama pun belain aja loh. Sudah ada disini, Ma. Cocok kali rasaku udah." jelas Akmal lagi


"Eh, orang sana maksudmu? Jadi mama punya menantu bule!"


"Iya lah, Ma. Suka mama kan?"


.


.


.

__ADS_1


.


Like, komen, vote ya 🥰🙏


__ADS_2