The Secound Choice

The Secound Choice
Enam Enam


__ADS_3

"Ahmad Hafiz Qur'aani!"


"Saya, Pak!"


"Saya nikahkan engkau, dengan anak kandung saya Syifa Aulia Rahmi, dengan maskawin sebuah cincin dan uang 16 real, Tunai!"


Papa Adzka mengakhiri kalimatnya dengan sedikit menggoncang tangan mereka yang saling menjabat.


"Saya terima nikahnya Syifa Aulia Rahmi dengan maskawin tersebut, Tunai!" ucap Hafiz tanpa ragu, senyumnya menghapus pandangan tentang tubuhnya yang terasa sangat lelah.


Malam itu, sebelum Adzan Isya berkumandang Hafiz resmi menjadi suami Syifa.


Hafiz sama sekali tidak menyangka, akan menikah malam ini juga pun dengan gadis yang sudah lama ia idamkan.


Live streaming yang dilakukan oleh mama Juna berhenti setelah ijab qabul selesai. Hafiz menghampirinya memohon izin dan restu dari sahabat Ummanya yang sekarang menjadi ibu mertuanya tersebut.


Mama Juna memeluk menantunya itu dengan menangis haru.


"Alhamdulillah ya Allah, titip anak mama ya, Nak. Ya Allah, Mila! Kita benar-benar besanan sekarang!" ucapnya menangis rasa haru pun terlihat dari wajah Abi Dzaki yang berkaca-kaca.


"Impianmu terkabul, Sayang." batinnya seolah bicara kepada almarhumah istrinya.


Hujan mengguyur kota Madinah, seolah bersorak atas pernikahan yang baru saja terlaksana. Karena sangat deras dan sudah masuk waktu Shalat mereka semua pun bergegas meninggalkan ruangan tersebut menuju ruang utama rumah itu.


Sementara Syifa dan dua adik sepupunya saling memeluk. Syifa hampir tidak percaya dengan keajaiban yang ia terima malam ini.


"Ya Allah ...." ucapnya di iringi tangis yang begitu menyayat


Kedua sepupunya tidak berani bertanya, apa yang membuat kakak mereka begitu sedih, seperti inikah rasanya pernikahan yang dilakukan begitu mendadak dan dijodohkan pula pikir mereka. Kedua gadis berpakaian sama hitam itu hanya mampu memberikan pelukan saja.

__ADS_1


Pintu kamar itu diketuk, Papa Adzka dan mama Juna muncul dari balik sana pastinya bersama laki-laki tampan yang menyusul dibelakang mereka.


"Kak!" ucap kedua gadis bercadar tersebut menggoncang tubuhnya, Syifa mengangkat wajahnya dan cepat-cepat mengahapus air mata.


"Ma, Pa!" ucapnya tersenyum


Papa Adzka memeluk putrinya dan mengucapkan doa selamat, lirih.


"Aamiin ya Allah, terimakasih Papa." peluk Syifa, hal yang serupa juga dilakukan oleh mama Juna. Keduanya saling berpelukan.


Kini giliran, Hafiz. Laki-laki itu masih diam memandangi gadis bergamis maroon senada dengan hijab yang membalut kepalanya.


"Ayo, Fiz!" ucap Papa Adzka. Syifa pun berdiri keduanya kini berhadap-hadapan satu sama lain.


"Ini hak mu." ucap Hafiz, memberikan kotak beludru kecil dan lembaran-lembaran uang real.


"Maaf, hanya ini yang saya punya. Maaf, karena pernikahan seperti ini yang bisa saya lakukan." ucap Hafiz, entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Melihat istrinya terus menitikkan air mata meski senyuman selalu tersungging diwajah manisnya.


"Eh iya, pakaikan dong." ucap Mama Juna


Hafiz pun mengambil kotak beludru yang diberikan Syifa, Mengambil tangan kanan istrinya itu dan menyematkan cincin putih berwarna biru dijari manis Syifa.


Syifa mencium tangan suaminya takzhim. Hafiz memegang kepala Syifa dan memanjatkan doa kepada Ilahi Rabbi, lalu mencium ubun-ubun istrinya.


"Tutup mata kalian!" ucap mama Juna kepada kedua ponakannya yang tertawa karena kata-kata barusan.


"Eh malah ketawa, sudah sana kalian keluar! Malam ini Kak Syifa pinjam kamar ini ya." ucap mama Juna


"Iya, Bude." jawab mereka serempak.

__ADS_1


"Ayo kita keluar, semuanya sudah menunggu diluar. Kita shalat berjamaah dulu!" ajak papa Adzka pula


"Iya, Ayo, Dok." ucap Hafiz


"Mulai saat ini kau harus memanggilku dengan panggilan yang serupa dengan istrimu!" rangkul papa Adzka


"I .. Iya, Pa." jawab Hafiz kaku sambil melirik istrinya yang tertawa, mereka berdua berjalan keluar kamar.


"Ayo, Ma. Fa!" ucap papa Adzka pula


"Iya, Pa. Syifa wudhu dulu." Jawab Syifa pula.


Setelah Papa Adzka dan Hafiz menutup pintu, Syifa memeluk mama Juna dan menangis tersedu-sedu.


"Eh, kamu kenapa, Sayang!" Mama Juna terkejut


"Maa!!" ucap Syifa di balik isaknya


"Kamu tidak bahagia, Sayang? Maafkan Papa dan Mama. Kami rasa Hafiz adalah orang yang tepat untuk kamu."


"Bukan, Ma. Ini tangis bahagia, Ma. Syifa tidak pernah sebahagia ini ...."


.


.


.


.

__ADS_1


Yeeees, akhirnya mereka menikah juga. Kekmana Weee, Saah??? 😁


__ADS_2