The Secound Choice

The Secound Choice
Lima puluh


__ADS_3

Yoli meremas jarinya, gugup dan bingung. Apa yang harus ia katakan begitu melihat wajah laki-laki yang masih saja bersemayam dihatinya itu.


Tubuh tegap laki-laki berkaos lengan panjang tampak berdiri membelakanginya, hati Yoli semakin tidak karuan antara ingin lari menjauh atau lari mendekat dan memeluk nya.


Perlahan tapi pasti langkah itu semakin mendekat, Sunyinya suasana dikarenakan jam pelajaran sedang berlangsung membuat derap langkah pendek itu bisa ditangkap jelas oleh pendengaran seorang Fauzi.


Laki-laki itu menoleh, refleks tubuh kurus itu kini berada dalam pelukannya.


"Mas yakin kamu pasti disini!" ucap Fauzi


"Mas ... Lepas, malu dilihat orang. Ini sekolah, Mas." Yoli berbisik


"Ayo pulang!" Fauzi menggenggam lengan istrinya, menautkan jemari mereka


"Kunci motornya mana?" tanya Fauzi, namun Yoli tidak memberikan respon apa-apa selain mengikuti langkah suaminya yang membawanya tepat berada disamping motor miliknya


"Sayang ... Mana kunci motornya? Kita pulang ya." ucap Fauzi lembut


"Mas pulang saja sendiri, Saya belum mau pulang." gadis itu tertunduk menyembunyikan manik matanya yang sudah mulai menggenangkan airmata


"Oh, masih mau ketempat lain? Ya ayo sekalian mas ikut." lanjut laki-laki itu pula, sementara Yoli justru malah menggelangkan kepala


"Mas ...." akhirnya airmata itu tumpah sangat deras


"Ssssst, jangan menangis. Mas paling nggak bisa lihat wanita menangis. Kita pulang ya, nanti kita bicara di rumah." Fauzi mengelus lembut punggung tangan istrinya yang mengelak untuk dipeluk


"Pakai jaketnya!" perintah Fauzi mengambil jaket yang ada dalam bagasi kereta


"Mas saja yang pakai." tolak Yoli


"Ini jaketmu, mas nggak perlu pakai."


"Ya sudah kalau begitu biar Yoli saja yang bawa motornya!" ucap gadis itu mencebik


"Oke ... Oke! Mas pakai!" Laki-laki itu memakai jaket istrinya tanpa berhenti memandang gadis itu. Membuat Yoli menjadi salah tingkah.


Mesin motor sudah dinyalakan, Yoli juga sudah mengambil posisi duduk menyamping dibelakang Fauzi namun, motor itu belum juga dijalankan

__ADS_1


"Kenapa, Mas? Kok nggak jalan-jalan?"


"Belum pegangan!"


"Saya pegang besi dibelakang jok ini saja."


"Ya sudah kalau begitu kita diam disini saja."


"Kayaknya banyak yang liatin kita ini, Dek." ucapan Fauzi membuat Yoli mengelilingkan pandangannya, benar saja. Sepertinya mereka berdua menjadi pusat perhatian orangtua siswa yang menunggu anaknya dari balik gerbang.


Yoli melingkarkan satu tangannya di pinggang Fauzi, "Ayo, Mas." ajaknya pula


Motor itu pun akhirnya berjalan, Fauzi menyapa dan berpamitan dengan bapak security yang bersikap ramah kepadanya tadi.


"Mari, Pak! Kami pulang dulu." ucapnya


"Iya, Mas. Hati-hati dijalan."


Fauzi memacu motornya dengan kecepatan tinggi, tangan yang tadinya sudah lepas dari melingkar dipinggang kembali kepada posisinya semula bahkan lebih erat.


"Mas, hati-hati! Jangan ngebut begini!" ucap Yoli


"Dek, kita makan disana yok!" Fauzi melihat warung bakso yang lumayan ramai pengunjungnya di jam makan siang seperti sekarang ini.


"Saya nggak lapar, Mas."


"Ini sudah waktunya makan siang kan? Bukannya kamu juga suka makan bakso." tanya Fauzi, istrinya malah menggeleng saja


"Kalau begitu minum saja mau? Mas yang makan. Mas lapar!! Dari pergi kesini mas belum makan." jelas laki-laki itu yang semakin memperlambat kecepatan motornya


"Mas belum makan dari pergi kesini??!" Yoli terkejut,


"Ya sudah ayo kita makan." ajak Yoli akhirnya


"Hm ... Warungnya sudah lewat!" jawab Fauzi


"Kan bisa putar balik, Mas. Dirumah juga bisa saja nggak ada apa-apa. Yoli kan seharian keluar nggak masak."

__ADS_1


"Ayo lah, Mas. Kita putar balik ya." rengek Yoli


"Ya sudah." jawab Fauzi, senyuman terkembang dibalik kaca helm yang buram


"Aku tau kau pasti mengkhawatirkan ku." batinnya


\=\=\=\=\=


"Bye! Hati-hati ya!" Syifa melambaikan tangannya dan berlari masuk kedalam rumah tanpa menunggu mobil yang mengantarnya hilang dari pandangan.


"Fa!" nama itu disebut seseorang dari arah teras yang baru saja Syifa lewati


"Eh, Papa! Syifa nggak lihat hehe" gadis itu nyengir dan mendekati papa Adzka lalu duduk disamping laki-laki paruhbaya tersebut


"Syifa nggak ada cerita ini ke papa loh." ucap papa Adzka


"Maaf ya, Pa. Syifa hanya ingin buat mama bahagia saja. Momennya juga pas kan. Mumpung kita lagi ada disini." jawab gadis itu. Papa Adzka menyandarkan tubuhnya di kursi rotan yang ia duduki


"Ya sudah sana, mandi! Shalat!" perintahnya


"Syifa sudah shalat tadi, Pa."


"Oh, ya sudah mandi lah. Nggak baik mandi terlalu sore." ucap papa Adzka


"Oke, Papa. Eh ... Iya, ada salam dari Giandra, katanya maaf nggak bisa mampir. Soalnya tadi buru-buru."


"Hm!" tidak ada komentar apapun lagi dari papa Adzka hanya itu jawabannya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Like, komen, vote dan berikan saya kritik dan saran kalian agar novel ini panjang 😁


__ADS_2