The Secound Choice

The Secound Choice
Dua puluh Dua


__ADS_3

Setiap detik yang berlalu tidak akan pernah terulang sampai hari kiamat. Kalimat hikmah yang ditulis oleh seorang penulis hebat itu terngiang dikepala seorang gadis yang sejak tadi hanya terdiam rebahan memikirkan hidupnya yang serba salah.


"Apa aku pulang saja dan meninggalkan ini semua ... saat ini rasanya kesehatan mama jauh lebih penting dari apapun. Dan aku sebagai anak perempuannya harus ada disampingnya. Tapi, Papa sepertinya lebih mendukung aku menyelesaikan pendidikan ku dulu. Apa yang harus hamba lakukan ya Allah." rintih hatinya menatap langit-langit rumah yang tadi baru ia bersihkan dari jejak-jejak mini spiderman.


Waktu Dzuhur tiba, Syifa memaksa tubuhnya untuk bangun dan mengambil air wudhu. Dengan penuh harap gadis itu memohon kepada sang pemilik kehidupan, agar memberikannya jalan keluar atas kegalauan yang ia alami saat ini.


Belum selesai membereskan perlengkapan ibadahnya ponsel yang ia letakkan di antara buku-bukunya berbunyi.


"Iya, Dam."


"Oh iya lupa. Siap-siap dulu deh. Adam dimana?" gadis itu sigap membuka tirai jendela


"Sepuluh menit! sepuluh menit!" gadis itu mematikan sambungan telepon dan melemparkan benda pipih itu ke kasur.


Syifa mengganti pakaiannya, kemeja berwarna mint dengan celana bahan berwarna putih tulang sudah melekat ditubuhnya yang langsing. Lipstik ping membingkai bibir tipisnya.


Sebelum keluar rumah, Syifa mencek semua pintu.


"Berangkaaat!" ucapnya riang menemui laki-laki yang berdiri menyandari mobilnya


"Dua belas menit tiga puluh enam detik!" ucap laki-laki itu menunjukkan ponselnya yang menampilkan stopwatch.


"Lebih dua menit tiga puluh enam detik doang! itu tanda nya temanmu ini perempuan! kan semua perempuan itu mau kelihatan cantik ...." ucap Syifa menyibakkan rambutnya yang tergerai


"Hm ... cantik sih! tapi sayang ... tukang nolak cinta." bisik Adam ketelinga Syifa


"Biarin! yuk ah, jalan." Syifa masuk kedalam mobil


Mobil Adam pun melaju dengan kecepatan stabil menuju tempat yang beberapa waktu tertunda untuk dikunjungi


Dalam perjalanan sembari saling mengobrol Syifa mengingat sesuatu dan mengambil ponselnya. Jemarinya sejenak menari seperti sedang mengirim pesan kepada seseorang. Beberapa saat notifikasi hapenya berbunyi.


"Pesan dari siapa?" ucap Adam ingin tahu


"Dari Papa." Adam hanya membulatkan mulutnya


"Kamu ikut turun kan?"


"Aku masih ada keperluan lain. Sendirian nggak apa-apa kan? nanti kalau sudah selesai atau masih mau melihat tempat lain kabari saja. Secepatnya aku akan menyelesaikan pekerjaanku." jawab Adam


"Ya sudah kalau begitu. Nanti aku kabari deh. Terimakasih ya ...." Syifa melambaikan tangannya, Adam pun pergi


\=\=\=\=


"Selamat malam, Dok. Baru pulang?" sapa seseorang yang melintas


"Malam, Pak. Iya Pak. Bapak sehat?" balas sang dokter ramah


"Alhamdulillah, Dokter. Mari!"


"Iya, Pak." Hafidzh mengangkat sebelah tangannya lalu lanjut mengunci pagar rumahnya yang tadi sempat tertunda


"Assalamu'alaikum!" ucapnya, pintu pun terbuka walau berjarak beberapa waktu dari salam yang ia ucapkan.


"Wa'alaikumsalam, Den."


"Mbok! Eyang sudah tidur?" tanyanya


"Sepertinya sudah, Den. Tadi masih kedengeran ngaji."

__ADS_1


"Oh ya sudah. Mbok sudah makan belum?"


"Sudah, Den. Mbok buatkan teh panas ya."


"Oke, Mbok. Terimakasih. Saya bersih-bersih dulu ya." senyuman manis tak luput ia sematkan.


Hafidzh pun naik ke atas menuju kamarnya. Kamar utama. Kamar dimana dulu sosok perempuan yang paling ia sayangi menghabiskan waktu malam bersamanya dan Abi.


Jas putih yang ia sampirkan dilengan pun dipasangkan dengan hanger kosong yang ada didepan lemari. Tas kerjanya ia letakkan diatas meja.


Laki-laki itu hendak mandi namun urung karena telepon nya berdering. Keningnya berkerut melihat nama yang tertera di ponselnya itu.


"Assalamu'alaikum! Mas Hafidzh."


"Wa'alaikumsalam. Maaf ini siapa ya?" ucapnya mengulum senyum


"Ini Syifa, Mas."


"Syifa?!"


"I ...iya, temannya Anastasha. Anaknya dokter Adzka, Mas. Mama ku teman mama papanya, Mas Hafidzh." jelas Syifa


"Ooo! Iya ... iya. Syifa! Ada apa ya?" laki-laki itu tak henti tersenyum


"Anu, Mas. Mas kapan ke Jerman?"


"Maksudnya?"


"Itu loh, Mas. Syifa mau ngembaliin rumahnya Mas."


"Rumah? kunci maksudnya? rumah kan nggak bisa dibawa-bawa."


"Oh ... Alhamdulillah. Lebih baik kalau begitu. Jalan ke kampusnya jadi nggak terlalu lama. Bagaimana keadaan kakimu?"


"Sudah sembuh kok, Mas. Kata dokter nggak perlu terapi lagi. Mohon doanya, semoga akan tetap baik-baik saja."


"Iya."


"Jadi ... kapan mas datang kesini?" tanya Syifa lagi


"Ya ... belum ada rencana sih. Ini baru pulang kerja, mandi dan makan saja belum. Apalagi mau ke Jerman."


"Eh, maaf ... maaf, Mas. Syifa ganggu ya. Ya sudah kalau begitu. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam warahmatullah." jawab Hafidzh, laki-laki itu kini tertawa.


"Gemes-sin!" ungkapnya sambil mengambil handuk


Baru saja ingin melangkah ke kamar mandi pintu kamarnya diketuk


"Den! Aden ketiduran ya?" terdengar suara dari balik pintu


"Nggak, Mbok. Baru mau mandi ini. Kenapa, Mbok?" ucap Hafidzh membuka pintu kamarnya


"Tehnya keburu dingin, Den. Nanti nggak enak."


"Oh ... iya iya, Saya lupa. Tadi airnya betul-betul mendidihkan, Mbok?"


"Iya, Den."

__ADS_1


"Masih enak kok itu. Pasti masih anget. Tadi ada teman yang telpon." terangnya


"Teman atau demenan, Den. Dari tadi nggak berhenti senyum." goda si mbok


"Si mbok bisa saja."


\=\=\=\=\=


"Nelpon siapa?"


"Mas Hafidzh!"


"Dapat dari mana nomor hapenya? sempat tukaran nomor kemaren?"


"Nggak lah. Dapat dari Papa."


"Terus kapan dia mau kesini?"


"Nggak tau. Belum tau katanya. Dia kan kerja."


"Oh gitu! Harus banget ya ditelpon?"


"Ya harus dong, Dam. Nggak sopan kan! kayak nggak tau terimakasih saja jadinya. Sudah dipinjamin rumah. Masak iya pindah nggak ngasi tau. Kalau nanti tiba-tiba yang punya rumah datang terus lihat rumahnya dikunci, rumahnya nggak terawat lagi ... kan Syifa dan keluarga Syifa yang malu." Adam hanya mendengarkan tanpa berkomentar apapun


"Nanti kalau dia datang kabari aku. Kita ngembaliin kunci rumahnya sama-sama."


"Iya" kening Syifa berkernyit


"Kenapa harus sama-sama? Nih cowok kenapa sih? kok kayak posesif gitu!" batin Syifa


Jalanan yang ramai lancar begitu terasa panjang. Syifa merasa tidak nyaman atas sikap Adam. Hanya sesekali mereka mengobrol. Itupun kalau Adam yang memulainya. Mood Syifa benar-benar rusak.


"Eh ... Walimahan Anna! Apa Mas Hafidzh nggak tau? kalau kata Anna calon suaminya kan kenal dengan dia!" Syifa mengambil ponselnya, jemarinya kembali menari-nari


"Chat siapa sih?"


"Papa!" jawabnya singkat


"Papa terus yang diajak ngobrol!"


"Iya, Mama lagi nggak sehat. Jadi, aku hatus tau kabar Mama terus!"


"Loh ... aku kok jadi bohong ini!" ungkap Syifa dalam hati


Sementara ditempat lain, laki-laki yang sedang berada dimeja makan sedang mengetik pesan singkat. Namun setelah beberapa kalimat tertulis dilayar hapenya, ia hapus kembali dan mengulang lagi kata perkata.


Pesan singkat yang ia terima terus dibaca berulang.


"Bukannya Ali ibrahim juga melamarnya!" ucap laki-laki itu penuh tanya.


.


.


.


.


Selamat tahun baru ya teman-teman. Semoga iman kita meningkat dan kehidupan kita lebih baik ditahun yang baru ini 🥰

__ADS_1


Maaf kalau ada typo, nggak direvisi dulu soalnya cusss kirim😁


__ADS_2