The Secound Choice

The Secound Choice
Enam Tujuh


__ADS_3

Bacaan surah Alfatihah dengan nada Jiharkah, nada lagu yang katanya paling disukai oleh Rasulullah begitu sedap terdengar.


Seluruh jamaah shalat Isya itu begitu khusuk menjadi makmum dari laki-laki pengantin baru tersebut.


Setelah ibadah wajib itu selesai, Abi Dzaki berdiri dan memberikan nasehat pernikahan, papa Adzka yang memintanya. Laki-laki itu adalah yang paling pantas menurut papa Adzka karena cinta luar biasanya yang membuatnya mampu bertahan dalam kesendirian berpuluhtahun lamanya tanpa menggantikan posisi sang istri yang sangat ia cinta.


Lalu setelah rangkaian demi rangkian acara sederhana tersebut pun ditutup dengan makan bersama. Makanan yang tidak terlalu istimewa untuk perayaan sebuah pernikahan. Maklumlah, namanya juga pernikahan dadakan yang dilakukan diluar jadwal yang semestinya hanya sekedar perkenalan dan jika cocok akan berujung pertunangan malah menjadi sebuah pernikahan.


Syifa tidak bisa melepaskan pandangannya dari Hafiz, walau mereka duduk berjauhan namun gadis itu bisa menangkap wajah lelah dari sang suami yang terus menerus menguap walau sedang makan.


"Sepertinya mas capek sekali, Ma." ucapnya pada sang Mama.


"Kamu nggak sabar mau berduaan sama Hafiz?" tanya mama Juna menahan senyum


"Ih, Mama. Bukannya gitu. Mama nggak merhatiin sih, dari tadi mas Hafiz nguap-nguap terus!"


"Iya kali mama merhatiin suami orang!" ucap mama Juna asal, membuat Syifa serba salah, mau kesal takut durhaka


\=\=\=\=


Di kumpulan para lelaki, Hafiz kini tidak bisa lagi menyembunyikan lelahnya. Laki-laki itu terus saja menguap meskipun dia sedang makan.


"Kamu kelihatan lelah sekali, Nak." tepuk papa Adzka pada pundak menantunya


"Hehe, Iya. Pa. Dari semalam belum sempat tidur." jawab Hafiz, benar memang saat dipesawat dia juga tidak bisa tidur. Mungkin gugup


"Di pesawat juga tidak tidur?" tanya papa Adzka mengingat lamanya waktu penerbangan dari Indonesia-Madinah.


Hafiz menggeleng, "Susah, Pa. Ada sih telayang sebentar tapi habis itu nggak bisa lagi. Mungkin nerveus memikirkan pertemuan ini." jawab Hafiz, disusul tawa papa Adzka dan laki-laki yang lainnya yang ternyata sudah mendengarkan pembicaraan mereka berdua


"Kalau saja kamu tau akan menikah malam ini juga, jangankan tidur mata mu juga tidak akan bisa tertutup barang sedetik!" ucap Abi Dzaki


"Eh, bagaimana kondisi korban memang benar banyak yang meninggal ya? Kakek baca berita ratusan yang meninggal?" tanya kakek, mertua papa Adzka.


"Iya, Kek. Terakhir kabar 125 orang yang meninggal." jawab Hafiz


"Ya Allah, Semoga para korban Husnul Khatimah."

__ADS_1


"Aamiin" ucap semua laki-laki, Hafiz menjadi saksi tragedi kanjuruhan, dimana hampir seluruh korban dibawa kerumah sakit tempat dia bekerja.


"Abi! Sudah kasi kabar ini ke Eyang?" tanya Hafiz pada Abinya


"Astaghfirullah, Abi lupa." Abi Dzaki ingin mengambil handphone disaku celananya


"Jangan, Abi. Biar surprise." ucap Hafiz sambil tersenyum, Eyangnya pasti juga akan ikut bahagia melihatnya sudah menemukan pendamping hidup


"Ya sudah, terserah kau saja! Tapi jangan berlebihan memberikan kejutan ke Eyang mu."


"Iya, Abi."


\=\=\=\=


Netra mereka saling bertemu, Syifa yang selalu curi pandang akhirnya ketauan oleh pemilik nama lengkap Ahmad Hafiz Qurani tersebut.


Hafiz memberikan senyuman terbaiknya, yang membuat sang istri jadi salah tingkah, malu dan berujung menunduk.


Hafiz tampak berdiri dan seperti berpamitan pada semua laki-laki yang ada disana. Tak lama kemudian Hafiz melangkah meninggalkan ruang keluarga tersebut menuju ke arah luar. Syifa memanjangkan lehernya melihat suaminya yang sudah menghilang dari pandangan.


"Loh, Mas Hafiz kemana?" ucapnya sendiri


"Eh, kok pulang!" Syifa kaget


"Haha ... Makanya ditanya, Nak. Sana susulin. Dari tadi lihat-lihatan terus. Sudah nggak ada yang marah loh kalau kalian berduaan. Pergi sana!!" lanjut Bunda Cindy


Syifa pun beranjak, malu-malu melewati para lelaki sambil menunduk. Langkahnya terhenti melihat sosok yang ia cari sudah berdiri menghadang langkahnya dengan menenteng ransel.


"Mas! Mau kemana?"


"Ambil tas, tadi ketinggalan di ruangan itu!" tunjuk Hafiz pada ruangan tempat ia mengucap janji pernikahan


"Oh, Mas mau pulang?"


"Kamu mau pulang sekarang? Ke Indonesia?" Hafiz malah balik bertanya


"I ...ini sudah malam, Mas." jawab Syifa kikuk

__ADS_1


"Ya Mas tau. Makanya mas mau mandi. Semakin malam nanti semakin nggak bagus buat badan."


"Mas belum mandi?" tatap Syifa, Hafiz mengangguk dan tersenyum menunjukkan barisan giginya yang rapi


"Bau banget ya? Dari semalam nih nggak sempat mandi"


"Eh, enggak kok Mas. Sama sekali nggak bau. Ya sudah, Ayo!" ajak Syifa


"Kemana?"


"Katanya Mas mau mandi ...." Syifa benar-benar salah tingkah dibuat suaminya


"Dimana?"


"Di kamar, Mas. Kamar yang tadi. Sini tasnya?" Syifa ingin mengambil tas ransel yang dipegang Hafiz


"Eh, berat! Biar Mas yang bawa."


"Hm ... Mas bisa minta tolong?"


"Apa, Mas?"


"Pinjam Handuk. Mas nggak bawa soalnya, nggak tau juga kalau malam ini dapat istri."


"Pakai handuk Syifa mau, Mas?"


"Boleh deh. Tapi bajunya jangan ya. Mas bawa kalau baju."


"Ih, apa sih, Mas. Garing tau!" Syifa mendorong tubuh Hafiz agar segera berjalan, laki-laki itu tertawa. Ah ... Sepertinya bukan mereka saja tapi semua mata yang memperhatikan mereka tanpa kata.


Kebahagiaan dari sebuah pernikahan, bukan hanya dirasakan oleh sepasang pengantin saja. Melainkan dua keluarga yang menjadi saling terikat satu sama lain.


.


.


.

__ADS_1


.


Masih Edisi manten anyar gaes 🥰


__ADS_2