
Hafiz menyandarkan tubuhnya, menutup bagian kakinya dengan selimut dan sibuk membaca buku.
Tidak seperti biasanya, laki-laki itu sulit berkonsentrasi. Perutnya yang dari tadi keroncongan seolah tidak rela jika hanya di isi dengan air putih.
Hafiz yang sedang berada di kamar bawah itu pun akhirnya menyerah. Memisahkan diri untuk tidak tidur sekamar dengan Syifa juga seolah menyiksa dirinya sendiri.
"Perempuan itu kalau marah tidak menggunakan akalnya, Nak. Tapi menggunakan perasaannya. Jangan membesarkan masalah kecil." Hafiz teringat apa yang dikatakan Papa Adzka.
Laki-laki itu ke dapur, mengambir piring dan meletakkan nasi dan lauk nya ke dalam dua piring.
"Assalamu'alaikum!" ucapnya. Tidak ada jawaban dari sana. Hafiz terdiam melihat Syifa sedang mengisi barang-barangnya ke dalam koper.
Cepat-cepat Hafiz meletakkan makanan yang ia bawa dan menghampiri Syifa.
"Mau kemana malam-malam begini?"
"Pulang!"
"Loh kan pulangnya kita bareng, Yank. Besok sore."
"Mas yang besok sore kan. Syifa enggak!"
"Kok gitu?"
"Iya, nanti nggak keburu mau nyiapin berkas. Semuanya kan di rumah mama kecuali paspor!"
"Paspor untuk apa, Sayang?"
"Eh, lupa ya? Kan Syifa sudah nggak dibutuhin lagi di sini. Mau dikirim ke Jerman disuruh sekolah lagi! Sekalian deh nanti kerja sama bunda Corla!"
__ADS_1
"Siapa itu?"
"Tau ah!" Syifa menutup kopernya mengambil handphone dan mulai sibuk dengan gagetnya.
"Mau ngapain pesan taksi segala!" Hafiz mengambil paksa ponsel itu dan mencampakkannya ke kasur.
"Ck!" Syifa berdecak kesal dan ingin mengambil kembali ponselnya.
Hafiz memeluk Syifa tidak perduli gadis itu memberontak.
"Lepas! Nggak usah peluk-peluk!" rontanya
"Marahnya udah dulu ya, Kita makan dulu. Mas laper."
"Ya udah, mas makan saja sana!"
"Bagaimana Mas bisa makan, kalau istri mas sendiri juga belum makan."
"Tapi mas laper. Ini sudah lebih dari waktu puasa, Sayang."
"Ya sudah makan sana!"
"Kita makan sama-sama ya. Mas sudah terbiasa makan sama kamu. Dari pagi sampai malam ini mas nggak mau makan kalau nggak sama kamu."
"Kenapa gitu?"
"Mas sudah terbiasa begitu, Sayang. Enggak enak makan sendirian."
"Tau gitu kenapa mas mau buat Syifa jauh? Kenapa mas rela pisah jauh dari Syifa?! Huuuhu ... Hiks hiks."
__ADS_1
"Mas nggak ada maksud gitu! Kita nggak akan jauh kok. Mas ikut kesana."
Ucapan Hafiz membuat Syifa menatapnya, "Mas ikut?" tanyanya, laki-laki itu tersenyum dan mengangguk
"Makanya jangan cepat ngambek. Belum tau kebenarannya juga!"
"Jadi mas Resign dari rumah sakit sini? Atau mas urus izin belajar lagi?"
"Laper, Yank. Mas laper banget." Hafiz memelas sambil memegang perutnya
"Ya udah makan dulu, yok. Makan disini saja ya, Mas. Mas sih aneh! Kenapa nggak makan sendiri saja kalau sudah lapar, pake nggak makan dari pagi lagi! Kalau perutnya sakit gimana? Kan lusa besok kita harus balik ke Medan. Kalau mas sakit gimana? Nggak kuat berdiri lama dipelaminan gimana? Nanti di pikir orang Syifa nikah sama kakek-kakek lagi nggak kuat berdiri. Apa kata Eyang nanti tau cucu kesayangannya kayak nggaj ke urus! Hm ... Mas ini!" Sambil membentang bad cover yang beralih fungsi menjadi karpet lantai dan mengambil nampan yang dibawa Hafiz tadi, gadis itu terus ber-kicau. Hafiz hanya memandangnya dengan tidak melepaskan senyum
"Sudah, Ayo makan!"
"Nggak tambah laper ngeromet gitu?"
"Enggak lah! Syifa kan nggak laper!"
Kriuk! Kriuk!
"Iya ... Iya, Mas percaya kok Syifa nggak laper. Cuma cacing di perut istri ku saja yang laper." Hafiz tertawa setelah mendengar jeritan dari dalam perut Syifa
.
.
.
.
__ADS_1
.
😁😁😁😁