The Secound Choice

The Secound Choice
Tujuh Sembilan


__ADS_3

Syifa menikmati tetasan hujan yang membasahi kedua telapak tangannya. Rintik hujan tersebut seolah terapi akupuntur untuk mengembalikan tenaga yang banyak terbuang menjadi ratu sehari kemarin.


Kini mengumpulkan energi untuk kembali menjelma menjadi ratu dalam acara tasyakuran di pesantren milik keluarga suaminya.


Syifa menghirup aroma hujan, tidak seharum hujan di hutan atau pegunungan, tapi lumayanlah ... Walau ditengah kota pohon-pohon kecil yang ditanam disetiap sudut apartemen itu mampu menyuplai beberapa liter oksigen. Liter?


"Pffft! Hambar!!!" ucap Syifa, disusul tawa dari laki-laki berkaos putih yang bersandar dipintu balkon. Laki-laki itu tentu saja Hafiz, lucu rasanya melihat tingkah aneh istrinya yang meminum air hujan


"Kalau mau manis air hujannya kasi gula dulu, Sayang." ucap hafiz tertawa


"Mas sudah bangun? Sini yuk, kita main hujan!" Syifa tertegun lalu mengajak dan menarik tangan Hafiz


"Iya, tapi pakai ini dulu" Hafiz memasukkan kain berbahan kaos pada kepala istrinya itu, membenarkan posisinya pada posisi yang pas. Syifa memang selalu abai dengan penutup kepala yang sekarang menjadi wajib untuk ia pakai


"Nggak ada orang disini, Mas. Kita dilantai berapa ini ... Orang dari seberang juga nggak bakalan jelas lihat kita, Ck"


"Dibiasakan ya, Sayang."


"Terimakasih sudah mau berusaha tidak menambah banyak dosa Mas. Ana uhibbuka Fillah, Ukhti Syifa!" ucap Hafiz sambil memeluk istrinya dengan penuh cinta dan mengecup ubun-ubun yang kini tertutup kain


Dan keduanya pun sibuk menadah air ditangan masing-masing. Saling memercik, berlarian saling mengejar satu sama lain. Mereka benar-benar sangat menikmati momen-momen ini.


"Mas!"


"Hm"


"Nanti ... Syifa pakai baju apa? Apa acaranya juga pakai pelaminan?" Syifa menatap keatas, melihat wajah Hafiz yang memeluknya dari belakang

__ADS_1


"Kamu pakai baju apa saja cantik kok. Nggak pakai baju juga cantik."


"Ih, Mas ih ... Mesum!"


"Haha ... Eyang sudah menyiapkan bajunya. Tenang saja. Sepertinya nggak pakai pelaminan-pelaminan segala lah, hanya tasyakuran kecil-kecilan kok. Kan kenalan Abi juga sekalian diundang di resepsi semalam."


"Oo ... Ya udah yok. Kita siap-siap. Nanti Abi dan Eyang menunggu lama." Syifa ingin melepas pelukan itu


"Bentar dulu!" jawab Hafiz, enggan melepas pelukannya


\=\=\=\=\=


Laki-laki berseragam coklat dengan baret biru berlari mengejar seseorang. Jangkauan larinya begitu mudah melampaui target yang ada dihadapannya.


Gadis bermata biru dengan jilbab berwarna orange itu pun mau tidak mau menghentikan langkahnya.


"Aku sama sekali tidak bercanda!" jawab laki-laki tadi, gadis dihadapannya hanya tersenyum miring sesaat


"Masih banyak perempuan lain yang lebih layak untuk mu."


"Layak atau tidaknya aku yang menilainya! Dan aku mau kamu!"


"Haaah!" gadis itu membuang nafas


"Aku serius, ini hari terakhirku. Tugas kami sudah selesai."


"Oh ... Selamat tinggal kalau begitu."

__ADS_1


"Ck ... Please! Aku benar-benar ingin menikah dengan mu. Aku serius!"


"Kau yakin?"


"Ya ... Insya Allah."


"Walaupun usia kita ...."


"Aku tidak memperdulikan itu. Usia tidak membuktikan kedewasaan seseorang!" ucapan itu membuat gadis berjas putih tertegun. Matanya berkaca-kaca menatap laki-laki berseragam dengan lambang negara dibagian lengan kanannya.


Laki-laki itu berlutut, melepas ransel yang ia bawa, mencari sesuatu di dalam sana.


"Aku tidak punya cincin! Aku punya ini! Mau kah kau menikah dengan ku dan ini menjadi maharnya?" ucapnya dengan mata yang juga berkaca-kaca


Mungkin tidak akan ada yang pernah membayangkan akan dilamar atau melamar dengan keadaan seperti mereka.


"Ya ... Aku mau. Bimbinglah aku untuk lancar membaca ini dan mengamalkannya ...." jawab gadis itu menangis setelah mengambil al-quran kecil berwarna hitam yang diberikan Akmal.


.


.


.


.


🥰✌️

__ADS_1


__ADS_2