
Wajah itu benar-benar pucat, tak terhitung berapa kali ia memuntahkan semua isi perutnya sehingga hanya menyisakan cairan tidak berwarna.
Fauzi tak henti memberikan perhatian, dimulai dari membalurkan minyak kayu putih ke bagian perut, tengkuk, bahkan ke telapak kaki istrinya. Menusuk-nusuk telapak kaki itu pula dengan jarinya sambil terus merayu istrinya agar mau dibawa ke dokter.
"Ayo lah, Sayang. Jangan seperti ini. Kalau tidak mau ke dokter setidaknya makanlah bubur yang sudah dibuatkan Sari ini." Satu mangkok bubur terletak di meja dekat tempat tidur.
Yoli yang sedari tadi hanya diam kini menunjuk ke arah pangkal kasur.
"Apa?!" tanya Fauzi tidak mengerti
"Bantal?!" tanyanya lagi, Yoli menggeleng sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Baju yang dibawah bantal itu, Mas ...." susah payah Yoli menjawabnya
Fauzi pun mengangkat bantal yang ada didekatnya dan mengambil apa yang diinginkan istrinya. Seketika laki-laki itu terkejut melihat benda dibawah bantal tersebut. Ia sangat mengenal baju itu.
"Ini!" tanyanya membawa baju tersebut mendekati Yoli yang duduk di ujung ranjang.
Yoli menyambarnya dan menutupkan mulutnya dengan baju tersebut. Dalam-dalam dia mencium aroma yang sangat ia sukai, berangsur-angsur rasa mualnya pun hilang. Suaminya menatap Yoli lekat-lekat, memandang penuh tanya dengan senyum yang semakin mengembang.
"Sering rindu, tapi kok tega meninggalkan aku!" ucap Fauzi menggoda sang istri yang tampak malu-malu mendengar ucapan suaminya ditandai dari senyuman yang membuat matanya menyipit.
Laki-laki itu mengikis jarak, keduanya pun kini duduk bersisian tanpa jeda.
"Mas bau! Sana!!" usir Yoli tiba-tiba lalu kembali menutupkan baju kaos yang ia pegang tadi ke seluruh wajahnya.
"Kenapa sih, Dek. Sama bajunya mau!"
"Iya, tapi bau mas nggak seperti biasanya."
"Mas ganti parfum ya?" ucap wanita itu lagi, Fauzi pun seperti berpikir
"Iya sih. Yang lama habis, mau beli merk yang sama nggak ada." terangnya
"Mas jauh-jauh deh. Adek nggak suka baunya!" Yoli kembali memuntahkan isi perutnya berlari ke kamar mandi.
"Sepertinya ada yang nggak beres ini." batin Fauzi, laki-laki itu meninggalkan istrinya dan berjalan menuju dapur menemui Sari
__ADS_1
"Sari!"
"Iya, Pak!"
"Tolong jemputkan bidan desa sini. Ini kunci motor nya." perintah Fauzi memberikan kunci motor yang masih ada dalam sakunya. Sari tidak bisa membantah walau sambil berjalan dia memikirkan alasan apa yang akan ia gunakan agar bidan desa mau ikut bersamanya.
"Sudah, Dek?" tanya Fauzi, memastikan bahwa Yoli baik-baik saja di dalam kamar mandi yang ia kunci dari dalam
"Hm!" jawab istrinya tersebut
"Mas mandi ya, Mas. Habis itu nggak usah pakai parfum itu lagi!" ucap Yoli keluar dari kamar mandi
"Iya iya, Mas mandi." laki-laki itu mengambil handuk dalam tas ranselnya dan buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.
Beberapa menit kemudian Fauzi terlihat lebih Fresh, baunya pun kini berubah menjadi bau sabun. Yoli menghirup aroma itu dalam-dalam.
"Sudah wangi?" tanyanya, istrinya tersenyum mengangguk
Tok!
Tok!
Tok!
"Mas panggil bidan kesini?!" tanya Yoli, Fauzi menjawab iya sambil bergegas membuka pintu
"Assalamu'alaikum!" ucap perempuan berbaju serba putih dengan hijab berwarna coklat muda masuk kedalam kamar tersebut.
"Wa'alaikumsalam, Bu. Silahkan." jawab Fauzi tersenyum ramah.
"Kenapa, Yol. Masih mual?" tanya bidan desa tersebut. Yoli mengangguk dan tersenyum malu-malu
"Biasa itu! Namanya juga masih hamil muda. Tapi ya di paksa makan juga dong." ucap bidan desa tersebut, menerka kalau mangkok bubut diatas nakas itu memang milik Yoli
"Enggak ketelan, Bu." jawab Yoli memelas
"Coba disuges pikirannya, yang didalam juga coba diajak interaksi. Ngobrol dalam hati saja, pasti sampai lah itu." cicit sang bidan.
__ADS_1
"Maklum ya, Pak. Memang kalau hamil itu bawaannya beda-beda, bapak sebagai suami harus banyak sabar. Kadang permintaannya juga bakal aneh-aneh." ucap bidan itu pula kepada Fauzi. Sementara laki-laki itu menatap istrinya dengan tatapan tidak bisa diartikan
"Saya kasi Vitamin saja ya. Saran saya coba Yoli minum susu, minum susu yang rasanya nggak buat Yoli mual saja, atau sekalian susu yang mengurangi rasa mual." ucap bidan itu memasukkan alat pengukur tekanan darah kedalam tasnya.
"Disaya ada kok susunya. Nanti saya berikan ke Sari." ucapnya lagi.
"Terimakasih ya, Bu. Maaf merepotkan." ucap Yoli bangun dari tidurnya dan kembali mengambil baju kaos berwarna Army dan menutupkannya kebagian mulut dan hidungnya.
"Hm ... Sepertinya obat mualnya hanya suaminya ini, Pak. Lihat apa yang selalu Yoli bawa-bawa itu." bidan desa tersebut tertawa berbicara kepada Fauzi, laki-laki itu pun ikut tersenyum
Perempuan yang berumur sekitar 40 tahunan itu pun pulang diantar oleh Sari. Kini hanya tinggal mereka berdua diruangan itu.
"Ini beneran, Sayang?" tanya Fauzi setelah menutup pintu kamar
"Kamu hamil?" Fauzi semakin mendekat dan tersenyum semakin lebar
"Iya, Mas. Alhamdulillah ...." jawab Yoli
"Alhamdulillah ya Allah." Fauzi memeluk istrinya dan mencium perempuan itu bertubi-tubi.
"Aku akan jadi Ayah!! Terimakasih, Sayang. Terimakasih. Adek ... Kamu baik-baik ya, Nak. Jangan buat mama kamu repot!" bisiknya pada perut yang masiy rata tersebut
"Hm ... Yoli maunya dipanggil Ummi saja."
"Oh, Ummi! Pasangannya Abi dong!" Fauzi menatap keatas melihat wajah istrinya yang berkaca-kaca lagi
"Iya, Abi!" jawab Yoli,
"Kenapa menangis lagi?"
"Nggak apa-apa, Mas. Yoli nggak nyangka mas segembira ini."
.
.
.
__ADS_1
.
Hm 🥰🥰🥰🥰