
Diam, Syifa lebih banyak diam hari ini. Ia hanya sesekali berbicara itupun kalau di tanya. Anna yang melihat hal yang tidak biasa dari Syifa pun bertanya setelah pengajian mereka bubar.
"Apa yang kau pikirkan, Fa? Kalau kamu tidak nyaman tinggal sendiri karena Adam, kau bisa tinggal bersama ku. Suami ku juga sedang keluar kota." Anna yang tampak semakin cantik setelah menikah itu menawarkan jasa
Anna pastinya tau masalah antara Syifa dan Adam, karena Anna juga lumayan dekat dengan dokter asal Indonesia tersebut.
"Ann, apa kau tau siapa saja orang yang mengajukan proposal ke ustadz?"
"Maksudnya? yang melamarmu?" tanya Anna pula,
"Kenapa cepat sekali kau melupakannya? atau jangan-jangan ...." Anna menatap Syifa dengan pandangan tajam, kedua tangannya kini berada di pinggang
"Kau tidak membaca profil mereka?"
"Satu pun?!!" suara Anna semakin meninggi,
"Sssst! pelan-pelan saja ngomongnya." Syifa menutup mulut Anna,
"Aku takut! Biasanya yang mau mengkhidbah itu kan orang yang soleh." Syifa menunduk, ujung jilbabnya ia main-mainkan
"Iya, Alhamdulillah kan. Semua wanita pasti ingin mendapatkan laki-laki yang soleh. Apa kau tidak? apa yang kau takutkan?"
"Hm ... aku takut suamiku menikah lagi."
"Puuuufft ... hahaha, astaghfirullah, Syifa!" Anna memegang perutnya menahan tawanya yang tidak bisa lagi ia tahan.
"Menikah saja belum, kenapa kau berpikir akan di madu. Ya Allah ...."
"Ih ... bukan begitu. Kebanyakan orang-orang yang ... ya, kau tau sendirilah maksud ku orang yang bagaimana. Istrinya kan lebih dari satu. Aku nggak siap ah ...."
"Sekarang begini. Kalau suami itu benar-benar jatuh cinta kepada kita, terus ... kitanya membalas dengan hal yang sama. Kita memperlakukan suami itu seperti cara Khadijah melayani Rasulullah. Saling berdoa satu sama lain semoga Allah menjaga hubungan pernikahan, berharap selalu bersama sampai surga ... Insya Allah, hal yang itu tidak akan terjadi. Kalau pun itu terjadi ... ya, ceritanya sudah ke qada dan qadarnya Allah. Tapi, rasanya nggak mungkin ada pernikahan yang diawalan sudah memikirkan untuk punya yang lain.
Fa ... dari semua teman-teman kita di liqa, yang paling banyak mendapat perhatian itu kamu! banyak yang ingin seperti kamu, Fa. Bahkan suami ku juga pernah berniat untuk mengkhidbah mu, tapi nggak jadi karena nggak enak sama ustadz Hafidzh." terang Anna panjang lebar
__ADS_1
"Jadi mas Hafidzh benar-benar ada diantara tiga laki-laki yang aku tolak waktu itu?" tanya Syifa. Anna pun mengangguk
"Aku nggak nyangka kamu seperti itu, Fa. Apa alasanmu hanya itu? Tadinya aku berpikir kau menolaknya karena Adam."
"Ya ... saat itu aku hanya berpikir seperti itu, aku juga merasa tidak pantas. Mereka pantasnya melamar gadis-gadis seperti mu. Lihat aku ... jilbab saja masih lepas pakai, bahkan lebih sering di lepas."
"Kalau ada yang mengklime dirinya sudah paling solehah, merasa ibadahnya sudah paling baik. Itu tanda-tanda kesombongan sudah ada padanya. Hanya Allah yang tau siapa hambanya yang bertakwa.
Semoga kita masih bisa terus menjalin silaturahim ini walau kita sudah berjauhan nanti ya, Fa. Saling mengingatkan satu sama lain. Yuk ... ku antar!" Anna merangkuk Syifa
"Aamiin" jawab Syifa mengadah tangan lalu menciumnya
"Jadi ke kosan mu dulu?" tanya Anna sebelum mobil yang ia kemudi melaju membelah kota
"Kalau tidak merepotkan mu, Iya. Tapi kalau repot antar aku ke rumah dokter Ehren saja."
Perjalanan mereka pun berakhir di depan rumah yang disewa Syifa beberapa bulan ini. Gadis itu mengepak barang-barangnya yang masih belum ia bawa.
Syifa membuka laci nakas yang terletak dibagian bawah. Beberapa kunci yang digabung menjadi satu dengan satu mainan bergambar ka'bah.
"Sudah, Fa?" Tanya Anna yang sedari tadi memainkan gadgetnya
"Sudah." jawab Syifa menggerakkan kotak berukuran sedang yang ia pegang
"Besok pesawat jam berapa?"
"Aku berangkat sore, soalnya pagi masih ada yang aku urus di kampus."
"Hm ... aku pasti akan merindukanmu, Fa." peluk Anna, gadis itu mendadak melankolis, mungkin pengaruh hormon karena Anna tengah hamil muda
"Aku juga. Nanti kalau dia sudah lahir kita Vc ya. Kalau ganteng nanti kasi aku ya."
"Enak saja. Pasti ganteng lah ... Babanya kan ganteng." puji Anna
__ADS_1
\=\=\=\=\=
Sudah tiga hari Syifa tinggal di rumah Ehren, Istri Ehren sangat senang dengan keberadaan Syifa.
Istri Ehren memperlakukan Syifa seperti adiknya sendiri. Dia merasa senang karena punya teman ngobrol. Maklum lah, sesama wanita yang mempunyai lebih dari dua ribu kata perhari akan di uji kewarasannya apabila memiliki suami yang super sibuk.
"Sudah pulang, Fa. Ini temanmu dokter juga?" tanya istri Ehren, melihat Anna keluar dari mobil yang ia kemudikan
"Assalamu'alaikum, Ukhti. Saya Anna temannya Syifa. Terimakasih sudah mengizinkan Syifa tinggal bersama ukhti." Anna mengulurkan tangannya, istri Ehren pun menyambutnya
"Wa'alaikumsalam. Saya malah senang ada Syifa disini, jadi punya teman. Bisa gantian jagain anak juga hahaha" ucap wanita itu bercanda
Mereka bertiga larut dalam obrolan, merasa satu frekswensi yang berakhir setelah si kecil sudah mulai bosan di oper sana sini oleh kedua perempuan yang belum memiliki bayi tersebut.
Mobil hitam masuk ke pekarangan rumah Ehren saat Istrinya, Syifa dan juga Anna berada diluar.
Ehren menurunkan kaca mobilnya, tamoak seseorang disebelah laki-laki itu.
"Assalamu'alaikum, Dokter." sapa Anna
"Wa'alaikumsalam. Habis ngantar Syifa?" tanya dokter Ehren ramah
"Iya, Dokter. Eh ... ada ustadz juga!" Anna melihat ke arah Syifa setelah menyapa laki-laki di sebelah Ehren. Laki-laki itu tersenyum
"Istrinya Ali." Ehren berbicara pada Hafidzh, laki-laki itu hanya membulatkan mulutnya
.
.
.
.
__ADS_1
Eh, ada yang nyusul tuuuu 🥰🥰🥰