
"Apa semuanya baik-baik saja, Syifa? Saya punya kenalan di KBRI, kalau perlu saya akan telpon beliau sekarang." melalui pesan singkat kata-kata seolah penuh perhatian itu dibaca oleh Syifa yang masih belum terpejam meski waktu sudah di penghujung malam
Syifa menyandarkan punggungnya pada bantal yang bertumpu di dinding kasur. Gadis itu menyusun kata demi kata yang terkadang ia hapus kembali
"Syifa rasa tidak perlu, Mas. Ini bukan masalah besar, rasanya malu kalau sampai minta bantuan KBRI segala" tulis Syifa dengan menyematkan emoticon senyum
Si pemilik nomor yang berstatus online itu pun tidak memerlukan waktu yang lama untuk membalas kembali pesan dari Syifa
"Apa dokter Adzka sudah mengetahui masalah ini? Apa pendapat beliau?"
"Papa nggak tau, Mas. Dan nggak harus tau juga. Nanti mereka jadi kepikiran. Apalagi Mama, kondisi kesehatan Mama sedang tidak baik sekarang. Takutnya nanti Papa, Mama langsung nyusul. Mau kesini juga tidak sedekat Medan-Jakarta kan, Mas. Kasihan! Tolong bantu Syifa dengan doa saja. Insya Allah mudah-mudahan Adam tidak se-mengerikan yang ditakutkan orang-orang." tulis Syifa panjang
"Aamiin, semoga saja. Tapi, tetap harus berjaga-jaga. Kamu bukan berada di negara mu."
"Iya, Mas. Terimakasih." balas Syifa disertai emoticon lagi
Tidak ada balasan apapun lagi dari Hafidzh, Syifa melihat tulisan dibawah nama laki-laki itu sudah tidak online lagi. Syifa melihat jam di nakas samping kasur,
"Oh, sudah subuh!" ucap gadis itu, selimut yang tadi hanya menutup bagian lutut ke bawah ia tarik sampai menyisakan bagian kepalanya saja
Syifa akhirnya berhasil menutup mata, terlelap dalam hitungan detik saja. Terlepas dari pikirannya yang menerka-nerka apa benar laki-laki yang baru saja bertukar pesan dengannya itu, pernah melamarnya.
\=\=\=\=
Sejak mendapat telpon dari Ehren sore tadi, entah rasa kemanusiaan saja atau sebenarnya rasa yang belum hilang, Hafidzh menjadi tidak tenang. Seketika penyakit insomnia menyerangnya,
Laki-laki itu pun memberanikan diri untuk ikut campur urusan seseorang yang sebenarnya sudah mulai dia coba untuk melupakannya.
Usaha memang perlu, doa juga masih belum sedikitpun mengendur. Tapi, kalau jodoh tidak ada mau bagaimana.
Ikatan kemanusiaan antara sesama mahasiswa perantau. Mungkin itu bisa dijadikan Hafidzh alasan jika pesan yang ia kirimkan melalui aplikasi hijau tidak terbalaskan atau direspon lama.
Ternyata, semua diluar dugaan. Syifa merespon dengan baik pertanyaan demi pertanyaan Hafidzh.
Waktu terus berjalan, Hafidzh meletakkan ponselnya dan meng-upgrade air wudhunya untuk melaksanakan shalat subuh.
Hafidzh turun dari kamarnya, menapaki susunan tangga berlapis vynil.
Rasa cemasnya sedikit berkurang karena tanggapan baik dari Syifa dan juga keberadaan gadis itu yang Hafidzh anggap aman karena dibawah pengawasan Ehren.
"Sudah shalat, mbok?" sapa Hafidzh, perempuan setengah sepuh itu tampak sedang beberes di dapur
"Belum, Den. La wong tukang Adzan nya masih disini." ucap perempuan itu, Hafidzh hanya tersenyum dan berjalan menuju pintu keluar rumahnya.
Aroma subuh menyeruak hidung, penuh dengan ketenangan. Memberikan semangat menemui pagi dan memulai hari baru yang lebih baik dari hari sebelumnya.
Motor tua berwarna merah terang ia keluarkan dari garasi lalu memacunya menuju arah menara masjid yang tampak menjulang tinggi diujung komplek perumahan.
__ADS_1
\=\=\=\=
Matahari mulai meninggi, suara berisik dari arah dapur membuat seseorang yang masih terlelap di dalam kamar pun akhirnya bangun.
Selimut yang menyelimuti tubuhnya ia singkapkan. Teman tidur yang biasa ada disebelahnya sudah tidak ada. Laki-laki itu bisa menebak apa yang sudah dilakukan seseorang itu.
Langkahnya berhenti di meja makan dengan empat kursi mengelilinginya.
"Sudah bangun, Mas? Selamat pagi" ucap Yoli, apron hitam yang ia kenakan menjelmakannya seperti chef-chef yang ada di tv
"Hm ... pagi." jawab Fauzi dengan khas suara bangun tidur
Fauzi menyembunyikan wajahnya pada lipatan kedua tangannya.
"Kalau masih ngantuk ya tidur lagi saja, Mas." ucap Yoli
"Hm" jawab Fauzi singkat
"Mas mau mandi atau sarapan dulu?"
"Sarapan saja deh."
"Ow ... cuci muka dulu boleh lah, Mas."
"Mas mau makan!"
"Enak saja! Mas tidur nggak ngences ya! kamu tuu!"
"Haha ... Mas kan nggak tau ngences atau nggak, Mas kan tidur! Ya sudah ... Mau teh atau kopi?"
"Sarapannya apa?"
"Nasi goreng!"
"Oh ... teh saja lah. Kamu sarapannya apa?"
"Ya sama! Nasi goreng juga."
"Kan dokter bilang nggak boleh makan nasi goreng dulu."
"Apa salahnya nasi goreng, Mas. Dia tidak berdosa." ucap Yoli menatap sedih dua piring nasi goreng lengkap yang sudah ia siapkan di meja
"Ya ... kurang paham saya. Yang jelas Mas harus jaga kamu supaya nggak sakit lagi. Mas akan ikuti apa kata dokter. Kalau dokter bilangnya ini nggak boleh ... itu nggak boleh demi kesehatan kamu, ya Mas ikut saja." terang Fauzi
"Walupun mas nggak tau alasan nggak bolehnya apa?" selidik Yoli, Fauzi mengangkat kedua alisnya
"Taklit buta!" Yoli memanyunkan bibirnya, mengambil satu piring kosong lagi dan menyendok nasi putih yang ada di penanak nasi.
__ADS_1
"Pakai telur boleh kan, Mas? kerupuk?!" Yoli mengangkat satu persatu lauk yang ia masak untuk sarapan tersebut.
"Istri ku pintar!" ucapan sederhana Fauzi berhasil membuat pipi Yoli bersemu merah
Keduanya pun mengisi perut mereka, sesekali tampak bercerita, serius bahkan sampai tertawa.
Kesedihan Yoli mulai berangsur hilang seiring waktu dan pastinya seiring semakin dekatnya mereka.
"Hari ini, Yoli mau ke sekolah tempat Yoli ngajar dulu ya, Mas. Kangen sama guru-guru dan anak-anak." ucap Yoli sambil membasuh piring kotor
"Sekolahnya jauh dari sini?"
"Nggak kok, Mas. Cuman setengah jam doang naik motor!"
"Mas ikut ya!"
"Boleh! Nanti anak-anak pasti seneng bisa tanya-tanya sama tentara langsung, face to face! Soalnya dulu banyak yang cita-citanya mau jadi tentara."
"Mas mandi dulu deh kalau gitu. Ini sisa makanannya dipindah kelemari, Dek?"
"Iya, Mas. Sudah mandi saja sana. Ini kerjaan saya ...." larang Yoli, gadis itu mengambil dua piring yang ada di tangan kanan dan kiri suaminya. Mata mereka bertemu, Yoli langsung membuang pandangannya kebawah sementara Fauzi malah sebaliknya, Laki-laki itu semakin menajamkan tatapannya.
"Mandi sana, Mas!" Yoli menarik piring yang masih ditahan Fauzi
"Kamu cantik kalau malu-malu gitu." ucap Fauzi ditelinga Yoli sesaat membuat istrinya itu menjadi panas dingin.
"Mandi, Mas! nanti Yoli tinggalin loh" ucap Yoli sedikit mengancam yang sebenarnya hanya untuk menutupi degup jantungnya yang nggak karuan
"Oooh, jangan coba-coba keluar rumah tanpa izin saya ya." Fauzi bersikap serius, namun Yoli malah membalikkan tubuhnya, gadis itu melanjutkan menyelesaikan pekerjaannya
Karena merasa diabaikan bukannya malah mandi, Fauzi justru mendekati istri itu. Tubuh Yoli yang langsing membuatnya gampang untuk digendong.
Fauzi menggendong gadis berhijab hijau muda itu, sempat memberontak tapi percuma.
.
.
.
.
.
Hay hayyy ... Mari di komen say 😊
"
__ADS_1