
Waktu terus melaju tanpa berhenti, sedetikpun tidak pernah terjeda apalagi mundur ke belakang.
Inilah kehidupan baru yang dijalani sepasang pasangan dewasa, mengukir masa depannya. Setiap pagi mereka sibuk namun saling membantu satu sama lain untuk menyiapkan sarapan sampai makan malam untuk mereka makan setelah pulang dari kuliah dan bekerja nantinya.
Hafiz kembali bekerja, mengabdi pada almamaternya tentu saja campur tangan bantuan dari sang profesor yang merekomdasikannya, Hafiz bukan lagi mengurus ijin belajar meninggalkan rumah sakit tempat ia bekerja biasa seperti rencana awal, melainkan ... Resign.
"Nggak sayang apa, Mas?" tanya Syifa waktu itu
Tapi dengan senyum, Hafiz menjawab penuh dengan keyakinan.
"Selagi niat kita baik, tulus. Allah akan permudah semua urusannya.
Ya ... Setelah melewati diskusi panjang, akhirnya Syifa mau melanjutkan pendidikannya untuk menjadi dokter spesialis kandungan. Nanti setelah semuanya selesai mereka berdua akan kembali dan mengabdikan diri di tanah kelahiran mereka, Medan.
Bukan tanpa alasan yang kuat. Keputusan itu akhirnya di sepakati karena dari keduanya sama-sama ingin dekat dengan orang tua mereka yang pasti sudah semakin tua. Hafiz juga mau tidak mau menjadi pewaris tunggal yayasan yang didirikan oleh Eyang kakungnya.
\=\=\=\=\=
"Nanti mas jemput."
"Iya, jangan lupa nanti pakai jaket ini ya." Syifa menyematkan baju hangat berwarna coklat tua.
"Ini tasnya!" Syifa juga memberikan tas berwarna senada dengan nya.
"Ini bukan tas kerja Mas." Hafiz memutar tas yang sudah ia pegang
"Itu baru Syifa beli kemarin."
__ADS_1
"Oo ... Barang-barangnya?" tanya Hafiz pula, membuka dan memeriksa isi dalam tas tersebut
"Sudah semua, Sayang" jelas Syifa
"Nanti jalannya agak slow motion gitu ya, biar kaya yang di drakor-drakor!"
"Ih apaan! Oo jadi semua ini biar Mas kelihatan seperti siapa itu song ...song! Ck ... Apasih?!"
"Dih apa, Song jongki?"
"Iya, Itu!"
"Bukan lah, kalau yang itu Syifa nggak suka."
"O, bagus itu!"
"Alah ... Apalah itu, Mas berangkat ya. Jangan lupa kunci pintunya." Hafiz mencium kening Syifa dan pergi meninggalkan rumah mereka. Rumah yang dulu pernah mereka tinggali bersama dalam kebisuan.
"Aku bahkan lebih tampan dari pemain love struck in the City itu! Eh ...." umpatnya, tanpa sengaja Hafiz hafal dengan judul drama korea yang sedang di minati istrinya.
\=\=\=\=
Tubuh langsing Syifa terhuyung, hampir jatuh. Sosok laki-laki yang berlari dari arah belakang menabraknya dengan sengaja. Memberikan pelukan kepada gadis itu.
Aksi slowmision antara Hafiz dan Syifa dari ujung lorong, terganggu.
Syifa hanya bisa diam tidak bergerak apalagi membalasnya. Di sisi lain laki-laki berjaket coklat sudah mengepalkan tangan.
__ADS_1
"Aku tidak percaya ini! Kau kembali, Fa!" ucap laki-laki itu yang kini memegang kedua pipi Syifa. Tentu saja laki-laki itu adalah Adam.
Adam sangat gembira, wajahnya benar-benar mencerminkan semua itu.
Syifa mengikis jarak, Hafiz yang berada agak jauh pun mendekat.
"Maaf, Adam. Aku sudah berjilbab, tolong jaga sikapmu." ucap Syifa
"Maaf! Maaf! Aku terlalu bahagia melihat mu. Apa kau tau, Fa. Satu tahun ini aku sangat merindukanmu. Banyak yang ingin aku ceritakan."
"Oh ... Ya, Mulai dari Ibu mu. Apakabar ibu?" tanya Syifa, memberikan lirikan kepada suaminya agar tetap tenang disana.
Hafiz juga tau tentang masalah kepribadian yang dialami Adam tempo hari.
"Ibu ku sedang sakit. Makanya aku disini."
"Innalillahi, Sakit apa Dam? Diruangan apa?"
"Nanti kita sama-sama kesana ya. Ibu ku juga pasti akan senang bertemu lagi dengan mu." Adam masih antusias, rindunya benar-benar terpancar dari bola matanya yang berkaca-kaca.
.
.
.
.
__ADS_1
🤦🤦🤦