The Secound Choice

The Secound Choice
Dua puluh Tujuh


__ADS_3

Fauzi tampak terburu-buru memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas ranselnya.


"Sudah, Pak?" tanya seseorang dari arah luar setelah melihat laki-laki bertubuh atletis itu


"Ayo kita berangkat!" ucapnya, Fauzi kemudian naik dari pintu belakang ambulance.


"Bertahan ya, kamu harus sembuh!" ucap laki-laki itu menggenggam tangan perempuan yang terbaring tidak sadarkan diri di depannya.


Selang inpus terpasang dilengan gadis tersebut. Wajahnya sangat pucat.


"Seharusnya sudah dari kemarin dia di rawat saja di rumah sakit. Kau terlalu menuruti ke inginannya!!" ucap seseorang yang ada disana


"Tidak perlu di bahas lagi, percuma! Aku hanya ingin menjaganya sebagai suami siaga!"


"Oh, kau sudah sadar! Baguslah ... semoga kesadaranmu ini tidak terlambat!!" laki-laki berseragam sama dengan Fauzi berbicara begitu tegas,


"Tolong berikan hamba kesempatan untuk memperbaiki semuanya ya Allah ...." doa Fauzi lirih.


Mobil Ambulance yang tidak menghidupkan sirinenya itu berhenti di sebuah rumah sakit berwarna hijau. Mereka berdua sigap keluar dari pintu belakang dan dengan hati-hati menurunkan brangkar.


"Kamu harus sembuh, Sayang. Kamu harus sembuh!" Fauzi mencium kening istrinya sejenak. Satu senyuman timbul dari wajah laki-laki yang tadi berbicara ketus kepadanya, sejenak! Kemudian wajahnya kembali kaku seperti sedang kecewa dengan temannya tersebut.


\=\=\=\=


"Kamu dimana?"


"Aku di pernikahan Anna, Dam. Kenapa?"


"Oh, bukan apa-apa. Kau pergi bersama siapa?"


"Sendiri, Naik Taxi. Ini masih di nikahan Anna. Baru saja selesai ijab qabul. Anna cantik banget loh, Dam. Maasya Allah!" kicau gadis bergamis hijau muda dengan jilbab yang lebih terang warnanya itu


"Oh begitu." jawab Adam datar


"Kamu kenapa, Dam. Kok sepertinya nggak semangat gitu. Kamu sakit?"


"Nggak kok. Aku hanya lapar!"


"Haha ... kalau makan ya lapar, Dam."


"Karena itu aku telpon kamu!"


"Duh ... aku makan siangnya disini. Jadi gimana dong?"

__ADS_1


"Ya sudah lah, makannya nanti malam saja. Nanti aku jemput kamu ya."


"Eh ... nggak usah, Dam. Aku juga belum tau pulangnya jam berapa, soalnya semua teman-teman pengajian kumpul nih disini!"


"Sudah dulu ya, Dam. Nggak enak di lihatin orang-orang. Aku mau ke Anna dulu."


"Ya sudah lah kalau begitu. Selamat bersenang-senang!"


Tut! Tut!


"Oke, memang senang kok disini!" ucap Syifa menatap telpon genggamnya, lalu kemudian memasukkan benda pipih itu kedalam tas mungilnya.


"Ih ... makin aneh deh!" Syifa bergidik ngeri. Gadis itu kembali bergabung dengan teman-temannya.


Pernikahan Anna berlangsung meriah, gadis itu tampak sangat bahagia menyapa semua tamu undangan, begitu juga dengan suaminya. Laki-laki itu begitu serasi mendampingi Anna yang cantik nan solehah.


Tempat duduk perempuan dan laki-laki dibuat terpisah. Walau suami istri tetamu harus mengikuti peraturan yang mereka buat.


Dari beberapa tamu undangan yang bersalaman dengan pengantin, dari kejauhan Syifa melihat dokter Ehren datang bersama dengan istrinya bersama bayi kecil yang ia gendong seperti anak Kangguru.


"Assalamu'alaikum, Dok!" sapa Syifa


"Hei, Syifa! Wa'alaikumsalam. Bagaimana kakimu?" tanya Ehren ramah perempuan disebelahnya juga tersenyum ramah


"Ih ... lucu sekali baby nya! Haloo!" Syifa memegang tangan bayi yang masih dalam gendongan. Bayi itu menggenggam telunjuk Syifa


"Eh! dipegang ... mmuah!" cium Syifa pula


"Namanya siapa, Kak?"


"Nama saya Qenan, Ibu Dokter." ucap istri Ehren dengan menirukan suara anak kecil


"Baby Boy??!"


"Ya ... Baby Boy!"


"Saya pikir perempuan, kau benar-benar laki-laki yang cantik, Sayang." ucap Syifa. Mereka berdua pun tampak bercerita. Istri Ehren juga orang yang gampang akrab, sementara Ehren membiarkan mereka, laki-laki itu memilih pergi menemui tamu undangan lain yang ia kenal


\=\=\=\=


"Baru pulang, Le." perempuan yang menggunakan mukena keluar dari kamarnya


"Iya, Eyang. Assalamu'alaikum!" laki-laki muda yang tampak lelag itu mencium punggung tangan wanita yang ia panggil dengan sebutan Eyang.

__ADS_1


"Eyang baru selesai shalat? Sudah makan?"


"Iya, mau ambil minum. Eyang mau baca Qur'an, tapi leher Eyang rasanya kering." ucap wanita sepuh itu memegang lehernya


"Hafidzh belikan obat ya, Eyang. Kalau nggak di obati nanti jadi batuk itu."


"Nggak usah, tapo Eyang sudah suruh si mbok buat minuman Herbal. Eyang ini sudah sepuh, kalau terus-terusan minum obat-obatan Kimia, Eyang takut nggak sempat lihat kamu menikah!"


"Ah ... Eyang ini! Eyang itu masih muda, masih cantik!"


"Lo iya, memang Eyang masih cantik! Tapi Eyang sudah tua, Le. Ayo dong ... sudah saatnya kamu menikah, Nak."


"Iya, Eyang. Kalau nanti saatnya tiba ... Hafidzh pasti menikah kok."


"Ya kapan saatnya itu?!"


"Ya nanti kalau Allah sudah menemukan Hafidzh dengan jodohnya Hafidzh dong, Yang."


"Eyang carikan mau ya?"


"Hm ... boleh! boleh! Tapi, kalau Hafidzh nggak cocok nanti Eyang jadi nggak enak sama mereka."


"Kamu itu! masih belum lihat siapa orangnya sudah bilang ndak cocok! kelihatan sekali kalau nggak mau!" ucap Eyang putri, pinggang Hafidzh menjadi sasaran cubitannya


"Aduh! sakit, Eyang ...."


"Halah! gitu saja sakit! Mandi sana, trus makan!" ucap Eyang putri sambil berlalu meninggalkan cucu satu-satunya itu.


"Siap, Eyang." ucap Hafidzh menatap punggung orang yang ia sayangi tersebut.


.


.


.


.


.


like ya 😁


"

__ADS_1


__ADS_2