The Secound Choice

The Secound Choice
Tiga puluh Delapan


__ADS_3

Seseorang dalam ruangan gelap. Tubuhnya yang tidak bertenaga terkulai lunglai diatas kursi pijat yang tidak di aktifkan.


Tatapannya kosong, seolah tubuhnya saja yang berada disana tapi ruhnya sedang melanglang buana


Bahkan ketukan pintu tidak membuatnya berpindah dari posisinya.


Matanya menyipit kala kamar itu seketika menjadi terang.


"Matikan lampunya!!" ucapnya, namun langkah seseorang yang semakin mendekat itu seolah tidak mendengar ucapannya


Perempuan yang tampak lebam dibagian wajahnya itu tidak perduli dengan berontaknya tubuh kekar yang kini ia dekap.


"Jangan menghukum dirimu seperti ini, Nak?" ucap perempuan itu lirih. Tidak ada balasan pelukan ia dapat. Laki-laki yang tidak lain adalah Adam itu tetap berada diposisinya semula


"Adam ... Mama sangat sayang sama kamu. Cuma kamu yang mama punya. Tolong jangan seperti ini. Kalau kau menjadi lebih tenang dengan memukuli Mama, silahkan, Nak. Asal kau kembali baik-baik saja seperti biasa." ucap wanita itu, Adam bereaksi


Wajahnya menengadah menatap wajah penuh memar orang yang melahirkannya itu.


Tangannya gemetar memegang luka yang masih menyisakan warna biru gelap itu.


"Apa masih sakit, Ma?" ucapnya dengan mata berkaca-kaca


"Tidak, Nak. Ini sama sekali tidak sakit." jawab Veronika


"Ma ...." Adam memeluk Veronika, tangisnya pecah.


"Jangan menangis, Sayang. Jangan ...." Veronika pun ikut menangis melihat putranya yang menangis seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu


"Maaf kan Adam, Ma. Maafkan Adam ...." pelukan Adam semakin erat.


"Hey ... anak Mama tidak salah apa-apa. Mama baik-baik saja, Nak." Veronika memegang kedua pipi Adam


"Kenapa Mama melakukan semua ini ke Adam, Ma? Mama seharusnya marah kalau Adam melakukan hal seperti ini ke Mama." ucapnya dalam tangis


"Adam nggak salah. Mama yang salah, Nak. Semua yang Adam alami ini karena Mama. Mama yang seharusnya minta maaf. Mama nggak bisa buat kamu bahagia." tatapan itu begitu dalam, Veronika terbayang apa yang di alami anaknya sedari Adam kecil, anak laki-laki itu selalu mendapat masalah jika menyangkut hal orangtuanya


Beberapa waktu berlalu, Ibu dan anak itu saling memeluk dalam diam.


"Sudah ya nangisnya. Adam makan ya. Adam sudah dua hari nggak makan kan." ajak wanita itu, Adam bangkit mengikuti sang Mama. Adam seolah menjelma kembali menjadi anak laki-laki kecilnya Veronika.

__ADS_1


\=\=\=\=\=


"Sudah semua, Fa?" perempuan berjilbab hitam itu memeriksa lemari pakaian yang ada di kamar tamu rumah mereka.


"Sudah, Kak" jawab Syifa yang duduk diatas kasur melihat semua barang-barangnya yang tidak terlalu banyak


"Kalau kakak sih berharapnya ada yang ketinggalan. Jadi, mau nggak mau kamu harus balik lagi kesini." ucap istri Ehren tersenyum


"Hm ... kan bisa di paketkan, Kak." jawab Syifa


"Enak saja! Ya ... ngerepotin saya dong. Jemput sendiri lah!"


"Teganya ...." cebik Syifa, Istri Ehren malah tertawa melihat Syifa.


Beberapa hari saja Syifa tinggal dengan mereka istri Ehren benar-benar merasa kehilangan atas kepulangannya. Syifa sudah ia anggap seperti adiknya sendiri, ditambah lagi bayi semata wayangnya juga sudah dekat dengan gadis itu.


"Pokoknya kalau ada kabar baik, jangan lupa kabari saya. Semoga kabar baik itu secepatnya ya." istri Ehren kini sudah berada disebelah Syifa


"Kabar baik apa?"


"Ya ... menikah misalnya."


"Sama siapa, Kak?" belum ada calon."


"Mas Hafidzh kesini itu karena ada urusan di travel milik Abinya, Kak. Bukan karena khawatirin Syifa." jelas Syifa


"Nggak percaya deh." sela istri Ehren


"Sudah dua kali loh, Kak. Aku tolak. Terbuat dari apa sih hatinya kalau masih tetap baik dan care sama aku begini." ucap Syifa, ada penyesalan dalam hatinya dan lebih tepatnya lagi ... Malu.


"Ya kan belum tiga kali!"


"Ih ... nggak mungkin deh, Kak. Itu tu ... salah tu. Nggak bener. Mas Hafidzh itu sempurna. Nggak pantas sama saya yang banyak kurangnya ini.


Biasanya kan kalau yang soleh begitu, Hapal Qur'an lagi ... pastinya dapat yang sama gitu kan, Kak. Satu frekwensi."


"Oh ... sepertinya kakak mencium bau krisis kepercayaan diri ini. Tapi dimana ya?? dimana asalny?" Istri Ehren bertingkah seperti mencari sesuatu


"Kakak ...." Syifa memeluk perempuan beranak satu itu.

__ADS_1


"Kalau Syifa malu, kakak bersedia bilang ke Hafidzh, jelasin ke dia kalau sebenarnya kamu itu sama sekali nggak baca proposal yang dikasi ke kamu."


"Jangan, Kak. Kan Syifa jadi tambah malu. Nanti malah di pikir Syifa ini nggak menghargai orang yang sudah berniat baik lagi."


"Lah ... kenyataannya memang sudah seperti itu, Fa!"


"Mm ... nggak tau deh. Udah dong, Kak. Nggak usah bahas itu lagi. Syifa jadi tambah malu kalau ketemu Mas Hafidzh lagi."


"Haaah! baiklah ... baiklah. Sini peluk lagi!" istri Ehren membentangkan tangannya


"Maaf nggak bisa ikut ngantar ya, Fa. Kamu hati-hati! nanti kalau sudah sampai Indonesia kabari kami disini. Kalau ada kesempatan jangan pernah lupa mampir ke rumah kami lagi ya"


"Insya Allah." Syifa menyeka air matanya yang menetes, rasa syukurnya tidak berhenti karena banyak orang-orang baik yang ia temui selama hampir dua tahun tinggal di negri orang.


Mereka berdua pun akhirnya keluar dari kamar tersebut. Bayi kecil yang sedang bermain bersama dua laki-laki dewasa menatap mereka bersamaan.


"Sudah siap, Fa?" tanya Ehren, Syifa mengangguk. Manik matanya mencuri pandang melihat Hafidzh yang juga seperti bersiap untuk pergi, ada ransel hitam disebelahnya


"Mas Hafidzh mau pulang juga?" tanya Syifa


"Saya mau ke Madinah. Menggantikan Abi yang nggak bisa mendampingi jamaah umroh." jawab Hafidzh


"Sekalian diantar ke bandara juga, Fa. Sama kamu! nggak apa-apa kan?" tanya Ehren


"Duh ... tadi kan, Syifa sudah bilang nggak usah repot-repot ngantar, Dok. Syifa sudah banyak ngerepotin." Syifa benar-benar merasa tidak enak


"Apa sih. Kami justru nggak tenang sebelum mastiin kamu benar-benar meninggalkan Koln dengan selamat. Iya kan, Ummi?!" ucap Ehren, istrinya mengacungkan dua jempolnya


"Ayo kita berangkat! Ummi nggak apa-apa ya nggak ikut. Baba harus langsung ke rumah sakit soalnya."


"Iya, Ba. Nggak apa-apa!"


Syifa mengangkat bayi kecil yang sedang acuh bermain itu. Syifa memeluknya dan memberikan ciuman perpisahan.


"Qeenan ... aunty pulang dulu ya. Terimakasih sudah terima aunty di sini. Qeenan jadi anak baik ya, jangan nangis-nangis. Jangan repotin Baba dan Ummi." Bayi laki-laki yang ia pangku itu menatap Syifa tidak berkedip


"Lihat wajah aunty ya, Nak. Biar nggak lupa ... iya. Ih ... gemess." Syifa berulang-ulang mencium bayi gembul itu


"Bawa pulang aja ah!" ucap Syifa asal

__ADS_1


"Enak aja! produksi sendiri lah ...." jawab istri Ehren


\=\=\=\=\=


__ADS_2