The Secound Choice

The Secound Choice
Dua puluh satu


__ADS_3

Suasana duka begitu terasa, walau tidak banyak yang berpakaian serba hitam. Sosok perempuan berjilbab panjang tampak sedang membaca Al-Qur'an di depan jasad yang terbujur ditutupi kain panjang, sesekali menyeka air mata yang jatuh tanpa aba-aba.


Beberapa ibu-ibu berpamitan memeluknya dan memberikan kata-kata sakti untuk memberikan sedikit semangat dan penghibur.


"Assalamu'alaikum!" suara itu sangat ia kenal. Tidak bisa dipungkiri gadis itu memang benar-benar membutuhkannya saat ini.


"Mas ...." peluknya disusul tangis yang pecah. Laki-laki itu mengusap punggungnya.


"Ini sudah yang terbaik untuk nenek. Kita harus ikhlas." ucap laki-laki bertubuh tegap itu.


"Kamu sudah sampai, Nak?" ucap seseorang yang menghampiri mereka.


"Assalamu'alaikum, Bu." Fauzi mencium punggung tangan perempuan berjilbab navy.


"Wa'alaikum salam. Panggil mama! jangan Ibu. Saya ini mertua kamu." sambung wanita itu. Fauzi tersipu malu, hatinya mengutuk dirinya sendiri. Menantu macam apa aku ini!sudah lama menikah ini adalah kali kedua pertemuannya dengan wanita yang melahirkan perempuan yang saat ini sudah menjadi istrinya.


"Untung masih sempat ketemu nenek, Nak. Tapi suasananya sudah beda. Cuci mukamu dulu sana, letek!" ucap Bunda Fauzi, dia dan suaminya sudah sampai beberapa jam lebih cepat dari anaknya


"Iya, Ma. Tadi dari stasiun susah dapat mobil adanya cuma motor ya sudah."


"Kamar mandinya dimana, Dek? mas mau bersih-bersih." ucap Fauzi lembut, Yoli menyeka air matanya dan menggandeng suaminya.


"Eh, tas mas masih di depan."


"Mas masuk saja, handuk Yoli di dalam. Biar tas mas Yoli yang ambil." walau dalam keadaan berduka gadis itu mencoba memberikan senyuman terbaik untuk suaminya


"Terimakasih, Ya." balas Fauzi pula


Beberapa menit kemudian Yoli sudah berada dalam kamar utama rumah itu. Tapi, suaminya masih belum keluar dari kamar mandi.


"Mas! bajunya Yoli taruh diatas kasur ya. Mas mandi?"


"Hm!" dari jawaban singkat itu Yoli mengerti suaminya sedang apa didalam sana


"Yoli tinggal ke depan ya, Mas." ucap gadis itu lagi


\=\=\=\=


"Gitu doang? Hm ...." Syifa jadi uring-uringan, gadis itu menyesal karena menyempatkan waktu membuka email di laptopnya


"Aku ini kenapa sih? kok rasanya seperti berharap manusia es itu berubah bersikap hangat padaku!" ucap gadis itu sendiri


Ia kemudian menyudahi kegiatannya dengan laptop dan beralih untuk mengisi kekosongan waktu karena hari ini tidak ada jadwal kerumah sakit dan ke kampus.


Setelah selesai membersihkan rumah, Syifa merebahkan tubuhnya di kursi sudut berwarna abu-abu sambil memeriksa sosial medianya.


"Hah! bosen!" gadis itu memang sudah tidak tertarik berselancar di dunia maya


"Telpon mama ah!" ucapnya lalu mencari nomor ponsel yang dituju


"Assalamu'alaikum, Ma."


"Wa'alaikumsalam, Sayang. Apa kabarmu? mama kangen ...."

__ADS_1


"Syifa juga! Mama sedang apa?"


"Ow ... mama sedang rebahan ini di brangkar!"


"Apa? mama kenapa?"


"Syifa Vc ya!" tanpa menunggu jawaban gadis itu mematikan panggilan tersebut lalu menggantinya ke menu panggilan video.


Beberapa detik saja panggilan jarak jauh itu tersambung. Sosok wanita kuat yang ia kenal saat masih dalam rahim itu pun tampak pucat.


"Jantung mama kambuh lagi?" ucapnya sedih. Mama Juna hanya mengangguk


"Kalau Vc begini kita nggak bisa lama-lama ngobrolnya, Sayang. Mama nggak kuat megang hp nya!"


"Mama sendiri?"


"Papa sedang keluar sebentar. Akmal masih dalam perjalanan."


"Akmal pulang? kok mama nggak bilang kalau mama lagi sakit sih. Tuh Akmal pulang lagi ...."


"Loh, adiknya pulang bisa temenin mama kok malah dicemberutin gitu sih!"


"Hm ... Syifa iri nggak bisa jagain mama."


"Ya sudah kamu pulang sini. Mama memang pengennya Syifa nggak jauh-jauh dari mama."


"Tapi nggak usah dipikirin lah, Sayang. Akmal juga kebetulan kok mau kesini. Bukan khusus datang karena mama sakit! darurat dong kalau gitu! Insya Allah mama masih kuat kok, Nak. Semoga Allah masih berikan Mama umur panjang bisa lihat mantu-mantu Mama. Kalau boleh sampai cucu. Aamiin ya Allah." ucap mama Juna panjang lebar membuat Syifa bertambah sedih


"Aamiin ya Allah. Mama pasti sembuh kok. Kita masih membutuhkan mama. Tapi, Maaf. Syifa masih belum bisa pulang, Ma." tidak tertahan lagi air mata Syifa pun akhirnya tumpah juga


"Iya, Ma. Mama semangat ya, Ma. Mama pasti kuat! Syifa sayang, Mama. Sayaaang banget! Assalamu'alaikum!"


Syifa kembali terisak, walaupun dia seorang dokter, tapi manusiawi jika rasa takut kehilangan kini menghantuinya.


"Ya Allah ... berikan kesembuhan kepada Mama hamba ya, Allah." ucapnya lirih,


Telepon genggamnya kembali ia gunakan, wajahnya berubah menjadi sangat serius


"Halo, Papa. Apa hanya pemasangan ring jalan satu-satunya untuk mama bertahan?" ucapnya setelah panggilan itu tersambung


"Salam dulu kek, Fa!"


"Papa! jawab dulu pertanyaan Syifa!"


"Kamu tau darimana kalau Mamamu sakit?"


"Papa!!!"


"Iya iya. Sepertinya memang seperti itu! kasusnya berbeda dari almarhum kakekmu."


"Lebih parah, Mama?"


"Ya. Mungkin berpengaruh dari pola hidup. Kakekmu dulu rajin olahraga, menjaga pola makan juga karena tau ada penyakit turunan dari orangtuanya. Kalau mama kamu hm ... tau sendiri kan!"

__ADS_1


"Kalau transplantasi, Pa?"


"Mana yang paling beresiko?"


"Dua-duanya punya resiko pastinya. Yang jelas kalau di Indonesia sangat susah untuk tindakan itu. Papa juga tidak mau seandainya ada pendonornya!"


"Kenapa?"


"Jantung Mama mu sudah beda! Ya Papa nggak mau lah. Papa maunya ya Mama seutuhnya, nggak ada campur orang lain!"


"Papa ih ... becanda! Syifa serius ini ... hiks ... hiks"


"Loh ... nangis?"


"Paapa ...."


"Eh ... dokter nggak boleh gitu ah. Malu dilihat orang!"


"Nggak ada yang lihat kok! Syifa dirumah ...."


"Siapa tau Hafidzh pasang cctv."


"Nggak ada!" Syifa celingukan melihat setiap sudut rumah


"Ya sudah, Papa sudah mau masuk ke rawat Mama mu nih. Sudah dulu ya, pokoknya Syifa jangan putus doa!"


"Iya, Pa. Pasti. Akmal sudah sampai mana, Pa?"


"Masih dibandara katanya. Syifa sudah sampai mana?"


"Apa Papa mau Syifa juga pulang seperti keinginan Mama, Pa?"


"Hm ... semuanya terserah, Syifa."


"Titip Mama ya, Pa. Syifa sayang kalian. Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumsalam warahmatullah."


.


.


.


.


.


Jangan lupa komen kalau suka, nggak suka komen juga 😁


"Oh, iya ... ya, Ma. Mama


\=\=\=\=

__ADS_1


"


__ADS_2