
Syifa terus menarik selimutnya rasa dingin terasa menusuk sampai ke tulang, tapi lagi-lagi selimut yang baru saja ia tarik kembali turun dari badannya.
Dengan rasa kantuk yang masih sedemikian rupa, sekali lagi gadis itu mencari keberadaan selimutnya dengan mata yang masih terpejam.
Terdengar suara tawa dari seseorang, membuat Syifa segera membuka matanya terkejut.
"Hahaha ... Sudah subuh! Narik selimut terus!" ucap Hafiz menatap Syifa lekat, laki-laki itu kini menggunakan jubah berwarna hitam, rambutnya pun masih menyisakan basah bekas air wudhu
"Astaghfirullah!" Syifa terperanjat, selimutnya ia tarik hingga menutup seluruh tubuh dan juga wajahnya. Beberapa saat terdiam seperti sedang mengingat sesuatu
"Sayang! Kita sudah sah jadi suami istri!" Hafiz membuka perisai yang Syifa gunakan, menatap wanita itu penuh cinta.
"Maaf! Tadi malam, Mas benar-benar nggak bisa menahan kantuk. Kenapa Syifa tidak membangunkan Mas?"
"Tidak masalah, Mas. Syifa kasian, Mas benar-benar kecapean." jawab Syifa menunduk
"Ya sudah, Shalat deh. Keburu terbit matahari. Setelah itu kita shalat dua rakaat sama-sama ya." ucap Hafiz, Syifa pun beranjak untuk mebersihkan diri dan menunaikan ibadah Subuh.
Selang beberapa menit, Syifa telah selesai menunaikan kewajibannya sambil memperpanjang Dzikir, Hafiz yang baru saja kembali masuk ke kamar itu menghampirinya.
"Ayo!" ucap Hafiz, sementara Syifa mematah jari jemarinya sehingga menimbulkan bunyi kretek
"Kenapa?" Hafiz dapat membaca kegugupan itu
__ADS_1
"Hm ... Syifa nggak tau niat shalatnya apa, Mas." Gadis itu benar-benar merasa bodoh dihadapan Hafiz
Hafiz menjawab dengan bibir yang tidak berhenti tersenyum. Tugasnya sebagai suami, sebagai imam dan membimbing sang istri dimulai sekarang. Walaupun profesinya sebagai dokter namun ilmu agamanya cukup mumpuni.
"Setiap pernikahan pasti menginginkannya untuk meneruskan keturunan kan? Segala perbuatan harus selalu di iringi dengan doa-doa yang baik pula. Ini salah satu cara kita untuk menjadi keluarga yang Samara, semoga Allah membimbing kita menjadi suami istri yang saling memahami, saling mengerti dan menjadi pakaian satu sama lain." Syifa mengerutkan alisnya saat kata-lata pakaian yang Hafiz ucap.
"Istri adalah pakaian Suami, Suami adalah pakaian istri. Maksudnya kalau Syifa tidak berpakaian, malu atau tidak? Sebaliknya kalau Mas tidak berpakaian, pasti Mas juga akan malu!
Jadi suami istri itu harus saling menjaga kehormatannya." terang Hafiz
"Sebenarnya ini alasan Syifa menolak lamaran waktu di Jerman. Syifa yakin, kalau yang melamar Syifa itu pasti salah satu jamaah pengajian yang Syifa juga berani zamin, pasti orangnya soleh-soleh, dan pengetahuan agamanya bagus. Nggak pantes sama Syifa yang nggak tau apa-apa ini." jelas Syifa, airmatanya mulai jatuh
"Hm ... Pantes! Tega sekali sih, Mas ngelamar ditolak, di lihat profilnya aja enggak!!" cebik Hafiz
"Eh, sudah! Jangan menangis terus. Kita shalat dulu ya, lama-lama bisa batal wudhu mas ini!"
"Iya" Syifa berdiri, mengambil satu sajadah yang ada dalam lemari dan membentangkannya untuk Hafiz
Dua rakaat sudah di kerjakan, sekali lagi Hafiz memegang kepala istrinya membacakan doa bermohon kepada Ilahi untuk menjadikan istrinya itu istri yang taat dan solehah.
Dikecupnya lembut kening istrinya, sangat lama.
"Maafkan, Mas. Karena dari tadi malam, Mas hanya bisa membuat Syifa meneteskan airmata. Insya Allah, Mas akan berusaha untuk memberikan segala hal yang membuat Syifa bahagia, karena kebahagiaan Syifa adalah kebahagiaan Mas juga."
__ADS_1
"Maaf! Mas hanya bisa memberikan maskawin yang sangat sederhana. Hanya itu uang tunai yang ada dalam dompet, Mas. Kalau tau tadi malam Mas akan menikah, Mas akan cairkan semua tabungan mas untuk mas kawin kita." ucap Hafiz merentangkan tangannya bersiap menerima sambutan pelukan dari sang istri.
"Ini bukan airmata kesedihan, Mas. Syifa rela terus menangis seperti ini karena tangisan ini tangisan bahagia. Syifa ikhlas menerima mas kawin sederhana yang mas berikan untuk Syifa, semoga Allah memberikan keberkahan dibalik kesederhanaan itu." Syifa berhambur ke pelukan Hafiz
"Ana Uhibbuki Fillah!" ucap Hafiz memeluk Syifa erat, sementara Syifa hanya diam tanpa membalas ucapan suaminya.
"I love u too, Mas." jawabnya kemudian,
"Syifa nggak ngerti jawabnya apa!!!Maksudnya itu kan, Mas?" Syifa sedikit ngambek dan malu, berfikir mungkin dia salah jawab
"Hahaha ... Iya nggak salah kok. I love you, Istriku." ucap Hafiz lagi, laki-laki itu bangun dan menggendong istrinya yang masih menggunakan mukena
.
.
.
.
Haduuuh, berasa ngontrak nggak sih kalian? 🥰
Maaf lama nggak update ya, Wifi saya kesambar petir 😂
__ADS_1
\=\=\=\=\=