The Secound Choice

The Secound Choice
Tujuh belas


__ADS_3

"Jangan terlalu dikejar, jika memang jalannya pasti Allah akan memperlancar , karena yang menjadi takdirmu akan mencari jalannya untuk menemukanmu"


_Ali bin Abi Thalib_


Kebahagiaan terpancar pada setiap wajah, bahkan tidak sedikit dari mereka yang meneteskan airmata sangkin bahagianya.


Kebahagiaan itu tak luput dari seorang perempuan yang duduk diantara banyaknya orang diruangan yang cukup besar tersebut.


Senyuman manisnya selalu terlukis diwajahnya yang ayu, setelah beberapa waktu menunggu akhirnya gadis itu mengambil kruk yang ada disamping kanannya, seorang laki-laki yang duduk dibelakangnya pun ikut membantu.


"Nggak apa-apa, Dam. Bisa kok!" Syifa meyakinkan Adam yang tampak mengkhawatirkannya


Tangan gadis itu sudah tidak lagi memakai penyangga, kakinya juga sudah tampak seperti orang normal pada umumnya.


"Disitu saja, biar aku yang kesana! kan sudah bilang tadi!" perempuan yang tidak kalah cantik sedikit berlari dari arah depan. Natasha tampak cantik dalam balutan jubah berwarna hitam lengkap dengan toga yang bertengger di atas kepalanya.


"Ini harinya kamu. Aku nggak mau jadi beban kalian! ayolah ... jangan menatapku dengan tatapan kasian begitu ...." cebik Syifa


Mereka pun saling berpelukan, kejadian itu diabadikan oleh seseorang tak jauh dari sana.


"Masak ambil fotonya juga sama kayak caramu mencintainya ...." ucap laki-laki berkemeja, wajahnya masih menyisakan ke-tampanan walau keriput sudah terukir pada beberapa bagian tertentu


"Nggak mau nyamperin, Abi nih yang nyamperin!" tegas laki-laki tersebut


"Ya sudah silahkan ...." jawabnya pula, benar saja Abi Dzaki berjalan ke arah dimana Syifa, Natasha dan Adam berada. Sementara Hafidzh malah sibuk mengabadikan momen beberapa orang yang ada disana.


"Assalamu'alaikum, Syifa " sapa abi Dzaki


"Wa'alaikumsalam" jawab ketiganya


"Saya abinya Hafidzh ...." terang laki-laki paruh baya tersebut


"Oh, iya. Pantes Syifa kok rasanya kaya pernah lihat. Om apa kabar?" Syifa yang tadinya mengingat-ingat siapa laki-laki yang menghampiri mereka akhirnya merasa terbantu atas penjelasan singkat abi Dzaki


"Panggi saya Abi saja, kok rasanya nggak enak dipanggil om." laki-laki itu tersenyum


"Alhamdulillah, Abi baik. Maaf kemarin waktu kamu di rumah sakit Abi nggak bisa jenguk, soalnya harus segera pulang ke Indonesia."


"Nggak apa-apa, Abi. Yang penting doa nya." jawab Syifa

__ADS_1


"Hafis mana, Abi?" tanya Natasha


"Tuh! mengabadikan sesuatu yang nggak abadi ...." ucap laki-laki itu asal


"Haha ... Abi bisa saja" jawab Syifa sambil tertawa


"Abinya begini ... kok bisa anaknya begitu ya" tiba-tiba saja Syifa teringat Hafidzh yang dingin, sedikit bicara dan banyak bekerja itu


Percakapan biasapun kian mengalir, semuanya tampak akrab tidak terkecuali Adam.


"Abi ... maaf, karena Syifa Abi jadi harus menginap di hotel."


"Loh ... kenapa minta maaf, Nak? nggak apa-apa kok. Kamu juga kan memang lebih baik tinggal di rumahnya Hafidzh dulu, katanya kosanmu itu dilantai 3 kondisimu kan lagi seperti ini juga. Nggak apa-apa kok, nggak usah merasa bersalah begitu ....


Ya kali aja latihan, awalnya tinggal di rumahnya semoga suatu saat nanti bisa jadi tinggal bareng anak Abi juga" canda Abi Dzaki


"Abi ... belum mau pulang!" Hafidzh yang baru datang merasa canggung mendengar candaan Abinya barusan


"Nanti lah masih enak cerita disini sama mereka ...."


"Kesinilah juga gabung-gabung."


"Inikan hari wisuda kalian, santailah sebentar ...." ucap Abi


"Iya, Fis." Natasha ikut menimpali


"Dokter Ehren itu dokter mu kan, Fa?" tanya Adam pada Syifa


"Dokter Ehren Darelano, Mas?" Syifa malah bertanya ke Hafidzh


"Iya." Hafidzh menjawab sangat singkat. Lalu mendekati Abinya untuk berpamitan


"Sebentar! Kita Foto dulu. Adam bisakah kau mengambil foto?" Abi memberikan kamera yang Hafidzh pegang


"Oh, boleh." Adam mengambil kamera itu dan mengambil gambar, Syifa tetap duduk sementara yang lain berdiri mengelilinginya


\=\=\=\=


"Maaf terlambat dokter." Hafidzh berlari menuju ruangan dokter Ehren

__ADS_1


"Hm ... hanya 15 menit, Dokter Hafidzh. Saya masih bisa memakluminya. Silahkan duduk!" dokter itu menunjuk kursi sofa yang ada diruangannya.


"Selamat atas kelulusannya. Semoga ilmunya berguna dan berkah."


"Aamiin, terimakasih." jawab Hafidzh


"Jadi, bagaimana perkembangan Syifa, Dok? memerlukan waktu berapa lama lagi sampai dia bisa sembuh total?" dokter Ehren geleng kepala mendengar pertanyaan Hafidzh yang begitu to the point tanpa memperpanjang basa-basi


"Aku benar-benar yakin, kau memang benar-benar cinta gadis itu. Tapi cinta gila!"


"Kenapa?" Dokter Ehren seolah-olah mengetahui isi kepala Hafidzh.


"Pasti kau akan bertanya kenapa aku mengatakan cinta gila kan?" ungkapnya lagi sementara Hafidzh hanya diam mendengarkan celotehan Ehren


"Dia sama sekali nggak tau perhatianmu sampai sebesar ini? Apa nggak segera kasitau aja, Fidzh?"


"Untuk apa?"


"Ya ela ... apa perlu saya selaku dokternya ini turun tangan? bilang saja itu sarat agar dia sembuh total hahaha"


"Dia juga dokter, Ren. Nggak bisa dibodohi sama orang bodoh kan, hahaha"


"Kau ini!" Ehren melempar bantal sofanya, Ehren dan Hafidzh sudah berteman sejak lama saat keduanya mengikuti seminar dulu.


"Seperti kata Sayyidina Ali Jangan terlalu dikejar, jika memang jalannya pasti Allah akan memperlancar , karena yang menjadi takdirmu akan mencari jalannya untuk menemukanmu"


"Aku tunggu kabar baiknya, semoga kali ini Allah menyatukan kalian tanpa halangan apapun lagi. Sudah sana pergi! aku ada pasien." usir Ehren


"Baiklah! jangan di modusin pasiennya ya, Dok. Ingat istri dirumah sudah mau lahiran." ucap Hafidzh sembari membenarkan lengan bajunya


"Hm ... ada sih niat modusin pasien yang terapi besok pagi." jawab Ehren


"Hey! jangan macam-macam ya!"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2