
Keputusan yang dilalui dengan penuh pertimbangan akhirnya memasuki final. Syifa mantap untuk pulang ke Indonesia.
Untuk mengaminkan keinginan sang Mama yang saat ini selalu ingin bersama dengannya, Dua tahun yang lalu dia menginjakkan kaki di negri orang untuk mengusir rasa duka karena berkorban demi senyuman seorang Ibu. Dan ia akan pulang, juga dengan pengorbanan demi memberikan senyuman untuk Mama dan ketenangan hati untuk Papa.
Flashback
Pagi hari waktu di Jerman, Syifa baru saja selesai mandi. Setelah mengeringkan rambutnya dengan hairdryer gadis itu mengambil ponselnya yang tadi masih mengisi daya.
Syifa menelpon sang mama yang setiap waktu ia cemaskan kesehatannya.
"Assalamu'alaikum, Ma. Selamat pagi" ucap nya penuh semangat
"Wa'alaikumsalam, Sayang." jawab mama Juna
"Mama sudah shalat Dzuhur?"
"Kamu ini bagaimana? tadi nyapa mama selamat pagi! kok sekarang nanya sudah shalat Dzuhur?"
"Haha ... perbedaan waktu kita ini unik ya, Ma."
"Iya! Anak gadis mama lagi apa? nggak ngampus, Nak?"
"Kampus, Ma. Satu Jam lagi. Ini baru selesai mandi."
"Papa belum pulang, Ma?"
"Kalau papa mu pulang jam segini, berarti beliau sudah mendekati pensiun itu!"
"Haha ... iya ya, Ma. Papa sih ... nggak mau buka praktek sendiri."
"Itu best nya Papa kamu. Jelek-jelek begitu Mama selalu menjadi prioritas utamanya. Kalau buka praktek diluar jam kerja di rumah sakit kapan dong punya waktu sama mama!"
"Iya! ya ...ya"
"Mama selalu doakan semoga Syifa juga mendapat suami yang sayang banget sama Syifa, seperti Papa ke Mama."
"Aamiin"
"Eh, tapi, Nak. Sepertinya akhir-akhir ini Papa kamu aneh deh. Banyak ngelamunnya. Kalau Mama tanya bilangnya nggak ada apa-apa. Apa Papa ada cerita ke kamu?"
__ADS_1
"Ngelamun gimana, Ma?"
"Ya ngelamun seperti orang punya banyak masalah. Beberapa kali juga Mama mergoki papa lihatin foto-foto kalian kecil. Kangen mungkin ya."
"Ya ... bisa jadi, Ma. Tapi kan kami memang selalu di luar. Waktu Syifa di Indonesia juga, Syifa dan Akmal nggak bareng sama Mama Papa kan."
"Iya, sih. Tau deh Papa mu itu. Apa sebenarnya umur Mama sudah nggak lama lagi ya? Mungkin ring jantung Mama ini bermasalah atau apa gitu?"
"Ah ... Mama jangan ngomong gitu dong! Mama itu sudah sembuh. Nggak pernah ada masalah kok, Ma. Insya Allah sekarang Mama sudah bisa aktifitas lagi seperti biasa, nggak ada masalah sama sekali jantungnya. Percaya deh.
Tapi, Ma. Sepertinya Syifa tau deh kenapa Papa begitu ...."
"Papa nggak setuju kalau Syifa dekat sama Adam ya, Ma?
Kemaren kan, waktu kita Vc Papa mukanya terus berubah gitu, sampe nyuruh Syifa pulang udah malam gitu katanya pas tau Syifa bareng sama Adam.
Sebelumnya Papa nggak pernah gitu kan, Ma. Papa setuju-setuju aja kalau Syifa dekat sama seseorang!"
"Hm ... Mama sebenarnya ngerasain itu juga sih. Malam itu tu waktu kamu selesai nelpon Papa itu kelihatan cemas, sedih gitu. Tapi, Mama nggak kepikiran sampe sana. Telpon aja deh Papa nya. Kamu tanya sendiri, Jangan nebak-nebak gitu!
"Apa Syifa memang beneran sama Adam?" selidik Mama Juna pula
"Biar Mama tenang, Ma. Disini ada Adam yang jagain." tambah gadis itu pula
"Mama akan tenang kalau kamu menikah! Jauh-jauh deh dari Mama nggak apa-apa. Asal yang jagain kamu itu suami kamu!"
"Kamu serius sama Adam? siap nikah sama Adam?"
"Hm ... nggak kepikiran sampai nikah sih, Ma. Nikahnya nanti aja deh, selesai kuliahnya dulu." rengek Syifa
"Katanya mau buat Mama tenang. Ya Mama tenangnya kalau kamu menikah, udah itu aja"
"Ya ... Mama. Syifa telpon Papa deh." gadis itu merengut, tapi Mama Juna tidak perduli, sebab beliau tidak melihat wajah jelek anak perempuannya tersebut.
"Mau ngapain?"
"Mau tanya Papa. Papa izinin nggak kalau Syifa menikah sama Adam." ucap Syifa, setelah mengucap salam. Syifa menjeda sebentar waktunya. Gadis itu menuang susu kedalam gelas berukuran sedang dan melapisi roti dengan selai coklat.
Sambil duduk menikmati sarapannya itu, Syifa kembali mengambil ponselnya dan menelpon cinta pertamanya.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Papa."
"Wa'alaikum salam. Ada apa, Nak? Papa lagi kerja!" ucap Papa Adzka datar
"Ini jam makan siang kan, Pa. Pasti Papa baru selesai shalat." tebak Syifa, gadis itu hapal betul jadwal kegiatan sang Papa.
"Hm" jawab Papa Adzka masih datar
"Pa ... Syifa salah apa?" ucap gadis itu menghiba
"Kenapa Papa nyuekin Syifa. Kalau nggak Syifa yang telpon, Papa nggak pernah telpon. Nggak biasanya Papa seperti ini. Kalau Syifa salah, Maafin Syifa ya, Pa ...." gadis itu mulai berkaca-kaca. Namun, lawannya bicara hanya diam saja tanpa berkata apapun
"Papa ... Apa ini karena Adam?"
"Papa nggak suka kalau Syifa dekat dengan Adam? Kenapa, Pa? Adam baik kan, Pa. Papa juga sempat kenal dengan Adam kan?" Syifa terus berbicara, gadis itu tau Papa Adzka pasti mendengarkannya
"Paa ...." rengek Syifa
"Jangan merengek begitu. Malu!"
"Nggak ada yang liat kok, Syifa masih di kosan."
"Tuh kan! Sudah malas-malasan ngampusnya!" akhirnya Papa Adzka bersuara lagi
"Nggak males kok, Pa. Syifa sebentar lagi berangkat. Ini lagi sarapan."
"Papa serahkan semuanya kepada Allah. Papa hanya bisa mendoakan semoga Allah memberimu yang terbaik. Cepat selesaikan sarapanmu dan berangkat ke kampus. Belajar yang benar, tidak semua orang beruntung bisa mengenyam pendidikan seperti kamu, Nak. Papa tutup dulu telponnya, sudah ada pasien yang menunggu." ucap Papa Adzka,
Dokter spesialis Jantung itu menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, matanya menatap foto keluarga yang ada di mejanya.
"Huuuuuuft!" Papa Adzka membuang nafas
"Panggil pasiennya!" perintahnya pada asisten
Disaat diam dan hanya berserah kepada Tuhan, dititik itulah muncul jawaban-jawaban dari setiap permasalahan hidup
__Syifa__
Flashback End
__ADS_1
\=\=\=\=