The Secound Choice

The Secound Choice
Empat belas


__ADS_3

"Nyari siapa sih, Fa! celingukan terus dari tadi?" Natasha menatap curiga, sejak tadi Syifa selalu melihat kearah pintu masuk.


Ini hari kedua sejak gadis itu sadar, namun beliau masih harus tetap berada diruangan tersebut untuk menjalani pengobatan.


"Sha! keluar yuk. Aku bosan disini."


"Mau kemana? ke kampus? atau mau ikut pengajian ke masjid?"


"Ck! kalau boleh ya ayo!" Syifa berdecak kesal, sepertinya Natasha tidak mengizinkannya untuk meninggalkan brangkar berlapis kain putih tersebut.


"Baiklah putri tidur! Duduk diam disini, kursi rodanya saya ambil dulu!" Natasha menarik kedua pipi Syifa yang sedang cemberut


"Daripada nanti tertidur lagi!! auto nggak jadi pulang kampung saya!" gerutu Natasha yang masih bisa ditangkap oleh indra pendengaran Syifa


"Eh, aku dengar ya! nggak ikhlas ...." ucap Syifa, Natasha hanya menunjukkan deretan gigi putihnya sampai menghilanh dibalik pintu.


Tak lama berselang Natasha kembali masuk dengan tangan kosong.


"Loh! mana?" Syifa heran, Natasha menunjuk ke arah pintu yang masih terbuka lebar


Kursi roda pun datang dengan buket bunga didalamnya. Seseorang mendorongnya dengan senyuman manis yang terus mengembang.


"Selamat pagi." sapanya, Syifa menjawabnya dengan senyum juga, tampak sedikit kekecewaan dari wajah gadis itu tapi entah apa sebabnya.


"Jangan terlalu lama ya. Jangan sampai kaki atau tanganmu terasa ngilu. Aku mau saat aku wisuda nanti kau sudah bisa berdiri saat kita berfoto bersama!" ucap Natasha sambil membantu Syifa membenarkan duduknya setelah Adam menggendongnya.


"Baik, Dokter!" jawab Syifa


"Maaf sudah merepotkan kalian." sambungnya lagi. Sedih kembali membingkai wajahnya


"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan. Karena ini semua salahku. Aku bersedia menjadi kaki dan tanganmu. Maafkan aku!" ucap Adam berlutut


"Ah, sudah! sudah! sekarang kalian pergilah! aku jadi ikut sedih nanti. Fa, sama Adam dulu ya. Masih ada yang harus aku kerjakan." pamit Natasha


"Oh ... ya. Hati-hati." Syifa melambaikan tangan


"Fa!" Natasha menghentikan langkahnya


"Ada apa?"


"Mau titip salam nggak?"


"Apa sih ...."

__ADS_1


"Oo, ya udah. Kali aja ada yang kangen sama teman ku." Natasha bicara sambil berlalu, Syifa memandangi punggung teman yang sudah menjadi sahabatnya tersebut sampai jauh.


"Kita jalan sekarang?"


Lamunannya buyar setelah Adam menggerakkan sedikit kursi roda yang Syifa tumpangi. Gadis itu pun mengangguk.


Setapak demi setapak mereka melalui koridor rumah sakit tanpa berbicara satu sama lain. Ada sedikit rasa canggung bagi Syifa untuk memulai pembicaraan.


Pintu lift terbuka, mereka pun masuk bersama dengan beberapa orang lainnya yang mempunyai keperluan yang sama.


Beberapa dari mereka yang memakai seragam rumah sakit menyapa Syifa dengan ramah. Perempuan berkulit putih itu menanyakan kabar gadis yang pernah ia pantau perkembangan kesehatannya itu.


"Saya duluan, Dok." ucapnya setelah pintu lift yang menunjukkan angka 3 terbuka. Syifa menjawab singkat sambil menunjukkan senyum manisnya.


Pintu bermaterial besi itu kembali tertutup, menghantarkan mereka ke taman. Sambil melangkah Adam membuka pembicaraan.


"Maafkan saya. Karena saya kamu menjadi seperti ini." ucapnya


"Sebenarnya ... maaf ku sudah habis lo!" jawab Syifa datar.


"Coba ingat! sudah berapa banyak kamu mengatakan hal itu."


"Hahaha! becanda ... becanda. Aku sudah memaafkan kamu, Dam. Ini semua sudah takdir dari Allah." gadis itu menengadahkan kepalanya menatap Adam yang sedikit menyunggingkan senyum.


"Siap tuan putri. Sesuai perintah." ucap Adam dan mendorong kursi roda


\=\=\=\=\=


Derap langkah tergesa-gesa menggema di koridor rumah sakit. Laki-laki bertubuh tegap tampak seperti sedang cemas.


Saat berjumpa dengan seorang suster, laki-laki itu tampak seperti menanyakan sesuatu.


"Ok. Terimakasih." ucapnya dengan menggunakan bahasa Inggris.


Dari wajahnya tampak semburat senyum, raut yang tadi tampak cemas kini berangsur mengurai benang-benang kusut diwajahnya.


Saat ia sudah berada tepat di depan pintu yang ia tuju, laki-laki itu tampak menarik nafas panjang.


"Fa!" ucapnya setelah membuka pintu, tanpa salam apalagi mengetuknya terlebih dahulu.


Kosong! ruangan yang berukuran lumayan luas itu hanya menyisakan brangkar kosong. Laki-laki itu masuk kedalam, membuka kamar mandi namun hasilnya nihil.


Pintu kamar itu kembali terbuka, sepasang suami istri paruhbaya masuk kedalamnya. Mereka terkejut, sama halnya dengan laki-laki yang sedang mencari tersebut.

__ADS_1


"Om ... Tante! Syifa dimana?"


\=\=\=\=


"Sepertinya Syifa nunggu-nunggu loh. Semenjak dia sadar, kenapa kamu nggak pernah jenguk dia. Waktu Syifa tidur aja kalau boleh nggak kedip kamu pasti ngelakuinnya."


"Kan sudah ada Adam. Ada kamu juga. Aku juga ada keperluan. Mengurus hal ini juga kan memakan waktu."


"Iya aku tau." Natasha pun pergi dengan membawa papperbag berisi pakaian berwarna berwarna hitam lengkap dengan toga berwarna senada.


"Sha!" panggil laki-laki tersebut


"Ya ...."


"Bagaimana perkembangan kesehatannya?"


"Hm ... kalau bisa cari tau sendiri kenapa harus pakai perantara sih?" Natasha berkacak pinggang


"Gangguan psikosomatisnya akan hilang jika dia dikelilingi oleh orang yang perduli, yang membuatnya sibuk dan bisa membahagiakan dirinya sendiri. Aku berharap sebagian dari cara dia bahagia itu ada di kamu. Rasa cemas dan khawatirmu menunjukkan kalau itu sama besarnya dengan rasa cintamu."


"Jangan tunggu ada orang lain lagi yang mengisi hatinya. Aku sudah tau semua ceritanya dari mama Juna."


"Aku rasa menikahi perempuan yang belum mencintai itu nggak salah kok. Cinta akan datang seiring berjalannya waktu. Dia milik ayahnya, tidak ada hak sedikitpun pacarnya atau yang dekat dengannya. Dalam agama kalian seperti itu kan. Selagi dia tidak dalam lamaran orang lain boleh kan menikahinya?"


"Ah ... aku jadi banyak omong kan!" Natasha menghela nafas


"Haha, kalau nggak banyak omong bukan Natasha namanya!" ucap Hafidz tertawa


"Oke lah! aku mau ke rumah sakit lagi. Hanya ada Adam disana. Kalau dia di culik gimana!"


"Mau dibunuh Akmal dia!?" jawab Hafidz tersenyum pula


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Haiiii .... setelah tunuh purnama ni akhirnya nongol lagi 😁


__ADS_2