
"Papa mama mu apakabar, Nak?"
"Alhamdulillah, Om. Papa mama baik dan sehat. Mereka sedang di jepang untuk beberapa bulan ke depan."
"Apa papa dan mama-mu sakit?" mama Juna yang mendengar langsung ikut menimpali pembicaraan mereka. Peremouan paruhbaya itu tau betul kemana kiblat kesehatan keluarga Marchel.
"Enggak kok, Tan. Papa dan mama hanya liburan saja sekalian ada urusan bisnis kecil-kecilan disana." jawab Giandra tersenyum.
"Ternyata kalian sudah pada kenal, Syifa juga nggak pernah cerita ke mama!" tanya mama Syifa
"Sebenarnya kami sudah kenal lama, Tante. Dari media sosial. Lama ngilang eh ... sekalinya update status sedang di Makassar ya sudah Aku samperin aja." terang Giandra, papa Adzka manggut-manggut mendengar penjelasan anak muda itu namun pandangan yang sulit diartikan selalu ia tujukan pada Syifa
"Hm ... Boleh Syifa saya bawa keliling-keliling, Om?" tanya Giandra agak canggung
Respon papa Adzka agak lambat, membuat Giandra dan juga Syifa menjadi sedikit tegang.
"Nenek dan kakek Syifa juga orang sini. Memang dia sudah lama nggak berkunjung, lagipula ...."
"Ya sudah pergi sana. Tolong titip anak tante ya. Jangan macam-macam sama dia! Syifa itu bukan wanita sembarangan!!" jawaban papa Adzka terputus oleh ucapan istrinya yang tidak bisa dibantah dan tidak berani untuk ia bantah pula.
Mama Juna memegang lengan suaminya yang menatapnya berontak.
"Oke deh, Ma. Pa. Syifa pergi dulu ya." Syifa mencium punggung tangan kedua orangtuanya dan mereka pun semakin menjauh meninggalkan sepasang suami istri yang sepertinya kali ini tidak satu haluan itu.
\=\=\=\=
"Kalau ada yang mencari saya, tolong bilang saya tidak ada dirumah."
"Berarti sari bohong dong, Mba!"
"Tidak! Sebentar lagi saya juga pergi. Jadi, kamu nggak bohongkan." ucap gadis berjilbab biru muda tersebut
Motor yang sudah ia nyalakan mesinnya pun sudah ready untuk mengantarnya kemanapun ia mau asal dikemudikan dengan baik.
__ADS_1
"Mba Yoli mau kemana?!" tanya Sari sedikit berteriak karena Yoli sudah memacu motor 125 cc nya.
Yoli hanya melambaikan tangannya dan tersenyum mengangkat kaca helm yang ia gunakan. Sari hanya bisa membalas lambaian itu dan berbalik kembali masuk kedalam rumah meneruskan pekerjaannya.
Dengan hati-hati Yoli memacu motor dengan kecepatan sedang menuju tempat yang wajib ia kunjungi.
Beberapa menit dijalan raya, motor berwarna merah hitam itu memasuki jalan tanah. Beberapa pohon kamboja berbaris tumbuh diantara tanah wakaf.
Yoli mengucap salam dan beberapa sunnah yang diajarkan agamanya saat berjiarah kubur.
Nisan bertuliskan nama orang yang paling ia sayangi itu ia usap dengan air yang ia bawa, bermacam warna bunga pun ia sebarkan sepanjang kuburan tersebut.
"Nek ... Yoli datang. Apa nenek bahagia disana?" batinnya seolah berdialog dengan seseorang yang sudah tidak lagi sealam dengannya itu.
Hampir setengah jam gadis itu berdiam diri disana. Yoli sama sekali tidak merasakam seram, mungkin karena rasa rindunya yang teramat dalam, walaupun disekitar sana tidak ada pemukiman.
Akhirnya gadis itu meninggalkan pemakaman tersebut dan kembali memacu motornya, kali ini ia memakai jaket yang tadinya ia letakkan didalam bagasi motor tersebut.
Menghabiskan waktu satu jam perjalanan akhirnya Yoli sampai digerbang sekolah. Gadis itu memacu motornya kembali setelah security membukakan gerbang tersebut.
"Iya, Bu guru. Selamat datang." jawab security berpakaian serba biru.
Baru saja Yoli memarkirkan motornya beberapa anak berseragam pramuka lari mendekatinya dan berhambur memeluk tubuh langsing itu.
"Ibu! Kami rindu!" ucap mereka hampir bersamaan
"Ibu juga sama, Sayang. Kalian apa kabar?" jawab Yoli tersenyum memandang mereka satu persatu
Masalah yang ia alami seolah hilang begitu saja begitu ia bercengkrama dengan para siswa dan guru-guru tempat ia bekerja dahulu. Sudah menjadi suatu hal yang wajib, Jika ada kesempatan untuk pulang kampung Yoli pasti tidak akan lupa untuk datang kesekolah yang menempanya menjadi seorang guru itu.
Sedang asik-asiknya mengobrol bel sekolah itu pun berbunyi, pertanda proses belajar mengajar akan segera di mulai kembali.
"Jam saya masuk di kelas 6. Apa kau mau menggantikan Ibu hari ini, Nak?" tanya ibu kepala sekolah yang dulunya juga ibu guru Yoli
__ADS_1
"Boleh, Bu?" tanya Yoli antusias. Wanita bertubuh semok itu mengangguk dan tersenyum
Yoli pun mengambil sebuah buku yang diberikan ibu kepala sekolah tersebut.
"Coba ajarkan mereka rumus termudah seperti yang banyak beredar di internet sekarang, semoga saja mereka bisa cepat tangkap dan besok tinggal saya yang belajar padamu." ucap ibu kepala sekolah tertawa, matematika yang dulunya mengerikan dan terkenal susah, semakin berkembangnya zaman menjadi semakin mudah dengan ditemukannya cara-cara baru.
Yoli dengan riang berjalan keluar dari ruangan bertuliskan 'kantor' sambil memeluk buku yang lumayan berisi itu. Sembari mengucap salam, Yoli masuk kedalam kelas dengan sambutan riuh dari murid-murid yang pernah menjadi asuhannya dulu.
Satu setengah jam hampir habis tanpa terasa berat, tinggal tersisa setengah jam lagi pelajaran selesai. Pintu kelas diketuk oleh ibu kepala Sekolah dan Yoli berjalan menghampiri ibu tersebut.
Sebelum Yoli bertanya, ibu kepala sekolah itu lebih dulu mengatakan hal apa ia datang kesana.
"Suami kamu!" ucapnya
"Yoli nggak izin suami dulu tadi kesini??" tanya si ibu dengan pandangan menyelidik, Yoli hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan itu
"Nggak boleh seperti itu, nggak baik. Sana temui dia, pulang! Dia juga tadi ibu lihat naik ojek." titah sang kepala sekolah.
"Tapi ... Belum selesai, Bu." elak Yoli
"Ck! Sudah pulang sana!"
"Terimakasih, Bu. Yoli pulang ya. Assalamu'alaikum." Yoli mencium punggung tangan pahlawan tanpa tanda jasa tersebut dan meninggalkan kelas dengan ragu
Yoli meremas jarinya, gugup dan bingung. Apa yang harus ia katakan begitu melihay wajah laki-laki yang masih saja bersemayam dihatinya itu.
Tubuh tegap laki-laki berkaos lengan panjang tampak berdiri membelakanginya, hati Yoli semakin tidak karuan antara ingin kembali lari menjauh atau lari mendekat dan memeluk nya.
.
.
.
__ADS_1
.
Like komen dan vote ya. Kritik dan sarannya juga ditunggu. Terimakasih yang sudah setia membaca, maaf kalau banyak typo soalnya nulis terus langsung lanjut nggak pakai revisi dulu 😁