
Hembusan angin meruntuhkan pertahanan daun untuk tetap bersatu dengan ranting. Satu persatu dedaunan kering jatuh ke bumi.
"Apa kau bisa meninggalkan aku sendirian saja?"
"Tapi ... bagaimana caranya kau kembali ke kamarmu?"
"Setengah jam lagi kembali-lah kesini. Aku hanya butuh waktu menyendiri sebentar saja, atau jika Adam merasa tidak enak meninggalkan ku, pergilah duduk disana!" Syifa menunjuk kearah bangku taman yang ada di sebelah timur.
"Kalau perlu sesuatu cepat panggil aku."
Adam pun berjalan pergi meninggalkan Syifa. Menuruti ke inginan wanita yang harus mengistirahatkan tangan dan kakinya sementara waktu itu karena kecerobohannya.
Syifa menatap kepergian Adam dengan senyum. Perlahan ia putar ban kursinya dengan sebelah tangannya. Suara gemericik air yang mengaliri kolam ikan itu memberikan ketenangan untuknya.
Beberapa saat gadis itu menengadahkan kepalanya, menatap langit. Menghirup dalam-dalam udara bebas untuk memenuhi paru-parunya yang serasa kurang asupan oksigen langsung dari alam.
Ketenangan dan kenyamanan yang ia rasakan ternyata hanya berjalan beberapa saat saja.
"Ya Allah ... kenapa jantungku berdetak seperti ini. Aku merasakan hal seperti ini jika Fauzi berada di dekatku. Apa dia ada disini ... tidak mungkin!" Tiba-tiba perasaan yang selama ini terus ia lawan kembali datang. Syifa memejamkan matanya, melawan rasa rindu yang pantang untuk terobati. Rasa rindu ini sudah haram untuknya.
Gadis itu semakin terbawa suasana, ternyata menyendiri bukan hal yang baik untuknya. Kenangan masa lalu yang selalu ia coba untuk dilupakan seolah datang silih berganti. Kenangan-kenangan itu seperti kaleidoskop yang terus menerus di putar.
Buliran kristal bening mulai berjatuhan dari matanya. Lagi-lagi Syifa merasa berada di titik terendah dalam hidupnya. Meratapi takdir yang tidak sesuai dengan harapan.
Menangislah jika dengan itu rasa sesak dalam dadamu hilang. Berikan waktu untuk matamu membersihkan kotoran-kotoran atau debu yang melapisi kornea matamu. Setelah kau rasa cukup ... kembalilah bangkit! kembalilah ceria!
__ADS_1
Kata-kata yang dirangkai olehnya sendiri itu selalu menjadi penguatnya. Setelah tertunduk beberapa saat akhirnya Gadis itu menyeka sisa air matanya dengan cepat.
Syifa melihat sesuatu di dekat kolam. Benda berbentuk bulat yang berukuran sangat kecil itu terletak disebuah wadah transparan. Syifa memutar roda kursinya dengan susah payah untuk mendekatkan diri mengambil benda itu. Karena makanan ikan tersebut diletakkan di tempat yang agak tinggi membuat Syifa kehilangan keseimbangan.
"Tadi kan aku sudah bilang, kalau perlu sesuatu panggil aku!" Adam datang disaat yang tepat.
"Kenapa kau menangis? sakit ya? kita kembali ke kamarmu sekarang! nanti aku akan panggilkan dokter untuk memeriksa tangan dan kakimu!" Adam tampak panik melihat mata Syifa yang basah air mata hidungnya juga merah
"Eh ... nanti nanti! aku tidak apa-apa kok! aku hanya terbawa suasana saja. Nggak ada yang sakit kok, Dam. Kita disini saja dulu." Syifa menghentikan Adam yang sudah mulai mendorong kursi rodanya.
"Temani saja aku disini. Ternyata sendiri malah membuat aku semakin buruk, haha" tawa Syifa membuat Adam merasakan kepiluan
"Ditinggalkan itu memang sakit! tapi mau bagaimana lagi ... lihat aku! karena terus meratapi nasibku aku jadi mencelakai mu. Dan lihat kau sendiri, karena hal itu kau jadi putri tidur! itu hal yang sangat aneh ... baru kali ini aku melihat sendiri ada orang patah hati yang tidak mau bangun dari tidurnya!"
"Hm ... pelajaran buat kita semua! aku saja yang dokter baru percaya karena sudah mengalaminya langsung."
"Kenapa kau ditinggalkan?"
"Dia kembali bertemu dengan cinta pertamanya."
"Kau tau itu?"
"Ya ... aku tau. Sebenarnya aku melihat perubahan itu, tapi cintaku yang buta ini membuatku menepis pikiran itu. Aku meyakinkan diriku, pernikahan kami sudah terjadwal mana mungkin dia membatalkannya. Kami saling mencintai. Tapi ternyata aku salah. Cinta nya kepadaku tidak jauh lebih besar dari cintanya kepada cinta pertamanya itu" wajah Adam berubah pias
"Maafkan aku, Dam. Aku kembali mengingatkan kesakitanmu."
__ADS_1
"Aku justru merasa lebih baik menceritakan nya pada setiap orang. Rasanya hatiku yang tadinya sempit menjadi lapang. Karena bukan aku saja yang merasakan kesakitan itu. Aku sudah membaginya pada orang lain, hahaha" ucapan Adam diselingi dengan tawa renyah.
"Sekarang giliranmu. Ayolah ... bagi kesedihanmu juga padaku. Kau akan merasa lebih baik. Aku adalah pendengar yang baik, percayalah!"
Sedikit senyum diwajah Syifa mulai kelihatan, lama kelamaan terselip tawa diantata pembicaraan mereka. Ternyata Adam juga memiliki selera humor yang tinggi.
Kedekatan mereka berdua membuat seseorang yang dari tadi memperhatikan mereka meneteskan air mata. Dua rasa berkecamuk dalam hatinya. Cemburu dan sedih
"Dia pasti sangat merindukan ku!"
"Kami semua tau itu. Tapi ... jika kau menemuinya itu membuat masalah ini selesai?
Lihat pengorbanannya? Anak saya harus merelakan tangan dan kakinya patah untuk kembali bangkit dan menjalani takdir hidupnya yang tidak sesuai dengan harapan"
"Percayalah, Zi. Takdir Allah untuk hambanya pasti akan indah pada waktunya. Pulanglah! temui istrimu. Pilihan kedua juga bisa lebih baik kalau kita bisa mengikhlaskan ... melepaskan pilihan pertama kita.
Saya mohon ... jangan temui Syifa dulu." Papa Adzka bermohon. Sementara Fauzi memeluk laki-laki itu dengan tangis yang kian pecah.
.
.
.
.
__ADS_1
.
😊😊