
Fauzi mengemudikan motornya dengan sangat kencang. Yoli hany bisa mengeratkan pegangan pada pinggang suaminya, tanpa berani untuk protes. Laki-laki itu marah dengan keadaan yang menimpanya dan terkejut mendengar ucapan istrinya tadi.
Beberapa menit berkendara mereka kini sampai dirumah peninggalan nenek Yoli, Fauzi memarkirkan motor merah itu lalu kembali memegang erat tangan istrinya untuk masuk ke dalam rumah, seakan tidak ingin melepaskannya barang sedetikpun.
"Mba, tadi suami mba ...." Sari yang membuka pintu langsung menceracau seolah tidak tau kalau Yoli pulang bersama suaminya
"Loh, sudah ketemu ...." ucapnya lagi, gadis muda itu menatap pasangan suami istri itu bergantian.
"Sepertinya aku tidak boleh berada disini!" batin Sari
Detik jam terdengar jelas bahkan hembusan nafas pun akan kedengaran karena suasana yang begitu senyap dalam kamar yang kini dihuni suami istri yang saling diam.
Fauzi menatap istrinya yang masih belum juga melepas masker. Yoli hanya bisa menunduk airmatanya terus saja jatuh dalam diamnya.
"Apa kau sudah sangat membenciku, Dek. Bahkan bau badanku saja membuatmu mual?!" ucap laki-laki itu menghembuskan nafasnya kasar
"Mas mengakui ... Mas memang bukan suami yang baik, bahkan buruk! Mas memang pernah tidak menerima pernikahan kita. Mas minta maaf.
Tapi sekarang semuanya sudah jauh lebih baik. Mas mencintaimu, Dek. Mas menginginkan pernikahan ini kekal. Mas hanya ingin kamu yang menjadi istri mas di dunia ini bahkan di akhirat nanti!" ucap Fauzi, airmatanya mulai menggenang teringat segala perlakuan dinginnya pada awal-awal pernikahan.
"Maafkan aku, Dek. Tolong jangan pernah berfikir untuk kita bercerai ...." laki-laki itu memegang kedua tangan istrinya, dagunya ia letakkan diatas pangkal kaki Yoli yang masih menunduk diam. Cairan bening terus saja bercucuran
__ADS_1
Fauzi menghapus airmata itu, "Mas harap airmata ini adalah airmata cinta, Sayang. Mas berharap air yang terus jatuh ini adalah airmata kebahagiaan karena akhirnya istriku berhasil membuat suaminya jatuh cinta bahkan tergila-gila!" ucapnya tersenyum
"Yoli hanya ingin berkorban untuk Bunda. Supaya Bunda tidak terus merasa bersalah. Kalau menjadikan mba dokter istri ke dua rasanya tidak adil, Mas. Mba dokter statusnya juga harus diakui negara. Cara satu-satunya adalah dengan yang itu. Karena kalau Yoli masih jadi istri mas itu semua nggak akan bisa." jelas wanita itu menatap suaminya sendu
"Ck! Kali ini tolonglah pikirkan kebahagianku juga. Syifa sudah berkorban untuk Bunda, kenapa kau juga harus melakukan hal yang sama. Mas dan ayah sedang berusaha meyakinkan bunda kalau semuanya akan baik-baik saja, tolong bantu mas juga."
"Tapi, Mas!"
"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Jangan tinggalkan aku!" Fauzi memeluk Yoli, akhirnya kalimat sakti itu keluar dengan benar-benar tulus.
Yoli tidak membalas pelukan itu malah justru mendorong suaminya.
"Sayang, kamu kenapa?"
\=\=\=\=\=
"Nggak keluar bareng Giandra, Sayang?" mama Juna menghampiri Juna yang sedang duduk berdua dengan nek Lia di teras rumah
"Nggak, Ma. Ada kerjaan katanya. Mungkin nanti sore!" jawab Syifa menikmati buah potong dalam mangkuk yang ia pangku
"Kok mama rasanya aneh ya liat kamu, Yun. Kelihatan sekali kamu yang senang Syifa dekat dengan Giandra." nek Lia menatap anaknya intens
__ADS_1
"Nggak salah kan, Ma. Mudah-mudahan saja mereka cocok." jawab mama Juna sekenanya
"Haah!! Terserah lah, nenek akan bahagia melihat Syifa bahagia. Pokoknya semoga yang terbaik selalu buat kamu, Nak. Kalau nggak cocok nggak usah dipaksa. Umurmu baru 28, nggak usah diburu-buru lah mau kawin hanya karena Fauzi sudah kawin duluan!" oceh nek Lia
"Mama! 28 kok baru sih! Yuyun dulu umur segitu juga mama ayah papa bunda buru-buruin nikah!" cebik wanita paruhbaya itu pada sang mama
"Ya kalau kamu kan beda lagi ceritanya! Beda kasus!" komentar nek Lia menambah cebikan di bibir mama Juna
"Papa kamu kemana, Nak?" mama Juna celingukan mencari keberadaan suaminya
"Mancing, Ma. Sama kakek." jawab Syifa datar, nenek dan mamanya ribut karena dia sementara gadis itu tenang menghabiskan satu mangkuk buah naga.
.
.
.
.
like, vote komen ya. Makasi sudah mau baca 🙏😊
__ADS_1