
"Ziii ...." Air mata merembas mengalir dari sudut mata perempuan yang terbaring itu.
Hafidzh menyeka air mata gadis itu dengan tissue, menghentikan sejenak bacaan Al-qur'annya.
"Assalamu'alaikum!" dua orang masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Wa'alaikumsalam!" jawab Hafidzh tersenyum.
"Ada apa?" Papa Adzka melihat Hafidzh seperti baru saja bangkit dari duduknya
"Syifa menangis dan terus memanggil-manggil Fauzi!"
"Astaghfirullah ...." papa Adzka menghampiri sambil melihat monitor yang ada di sisi kanan.
"Syifa bangun, Sayang! Jangan seperti ini! kau bisa mendengar suara papa kan, Nak? Kau tidak boleh melawan takdir! Ini semua juga kan permintaanmu, dari awal Zi juga tidak setuju kan! Nasi sudah menjadi bubur, Fa. Sekarang tinggal bagaimana kau membuat bubur itu juga bisa di nikmati dan tidak terbuang sia-sia!" ucap papa Adzka, laki-laki itu berbicara lirih hampir berbisik.
Lagi-lagi air mata mengalir dari sudut mata Syifa yang terpejam.
"Paman!" Hafidzh melihat patient monitor yang berada di dekat papa Adzka. Papa Adzka menekan tombol darurat, Hafidzh tidak sabar ... laki-laki itu segera keluar dari ruangan tersebut dan berlari mencari dokter.
Detak jantung Syifa melemah. Semuanya panik, Akmal mengusap-usap tangan kiri kakaknya sambil terus memanggil nama gadis itu.
Dalam kepanikan Hafidzh terus mengucap asma Allah, tidak ada yang mampu melawan takdir-Nya. Laki-laki itu terus berdoa dalam hati untuk keselamatan seorang gadis bernama Syifa.
\=\=\=\=
"Siapa perempuan itu, Zi? sepertinya bunda sangat menyayanginya."
"Aku iri! beruntung sekali perempuan itu!" laki-laki yang diajak bicara oleh perempuan berbaju putih itu hanya tersenyum.
"Kau pergi lah! Lihat! bunda dan perempuan itu memanggilmu!" Laki-laki itu kini menggeleng.
__ADS_1
"Apa kau mendengar suara itu, Zi? suaranya merdu sekali, aku seperti berada di kota suci! Kau pergi lah, aku akan mencari dari mana asal suara itu!" Laki-laki tadi kembali menggelengkan kepalanya, tangannya terus saja menggengnggam tangan gadis tersebut.
"Lihat! mereka kembali memanggilmu, Zi. Pergi lah! nanti bunda marah. Aku juga harus segera pergi, suara itu semakin melemah aku benar-benar ingin mencari dari mana asal suara itu!"
"Aku sudah tidak takut lagi, Zi. Suara itu membuatku berani berjalan sendiri! percayalah, aku tidak apa-apa sekarang!" perempuan itu akhirnya melepaskan genggaman tangan mereka,
"Aku pergi ya!" perempuan itu pergi meninggalkan laki-laki yang terus saja menatapnya dengan tatapan mengiba.
Gadis berbaju putih dengan rambut lurus sebahu itu pun pergi dengan melambaikan tangannya.
***
"Paa ...."
"Papa ...." Hafidzh yang masih diatas sajadahnya berhenti membaca Alqur'an.
"Benarkah dia sudah sadar?!" Hafidzh meletakkan mushafnya dan mendekat. Papa Adzka tertidur persis di sebelah Syifa, kepalanya ia baringkan di kasur sedang badannya duduk di kursi.
"Pa ...." Syifa memanggil lagi, matanya sudah terbuka namun pandangannya masih saja menatap keatas.
"Iya, Nak. Papa disini, Sayang! kamu sudah sadar, Nak. Alhamdulillah ya Allah ...." Papa Adzka mencium putrinya, Syifa benar-benar membuka matanya kali ini.
"Kaki sama tangan Fa kok sakit, Pa." Syifa menggerakkan tangan dan kakinya bersamaan.
"Tangan Syifa patah ya?" Syifa bertanya pada laki-laki yang ada disebelah papanya.
"Sudah tinggal menunggu sembuhnya saja. Jangan di paksa bergerak." jawab Hafidzh mengangguk dengan senyum mengembang, membenarkan pertanyaan Syifa. Hafidzh sekilas menatap gadis itu, lalu kemudian menunduk-kan pandangannya.
Semua orang merasa sangat bersyukur dengan kabar baik yang mereka terima pagi ini. Dua perempuan berjalan berdampingan dengan wajah sumringah, langkah mereka cukup besar untuk ukuran wanita semua itu pasti karena mereka sudah tidak sabar untuk segera sampai ke ruangan tempat Syifa terbaring.
"Assalamu'alaikum!" Mama Juna masuk kedalam kamar dan langsung memeluk Syifa.
__ADS_1
"Alhamdulillajh, Nak. Akhirnya kau bangun juga." Mama Juna menangis bahagia, Syifa membalas pelukan itu.
"Anak gadis kok tidurnya lama sekali!" ucap mama Juna lagi dengan intonasi marah yang sebenarnya di buat-buat.
"Mama ...." rengek Syifa, gadis itu kembali memeluk perempuan yang melahirkannya.
"Selamat datang kembali putri tidur!" Giliran Natasha pula, kedua sahabat itu berpelukan.
"Hm ... berapa lama aku tidur?"
"Empat hari, Tuan Putri!" Natasha menarik hidung Syifa
Bukan hanya dari keluarga saja yang merasakan bahagia tapi dari pihak dokter juga merasakan kebahagiaan.
Semuanya berkumpul dalam ruangan itu, para dokter keluarga pasien, sahabat dan saat ini Adam juga ada. Laki-laki berkulit putih itu datang dengan membawa buket bunga dan juga buah-buahan segar.
Syifa menatap laki-laki heran. Gadis itu saling pandang dengan sahabatnya, Natasha membisikkan sesuatu yang membuat Syifa membulatkan mulutnya.
"Hai, aku Adam. Aku yang menyebabkan semua ini. Aku benar-benar menyesal dan mohon maaf." Laki-laki itu memberikan buket bunga lalu mengulurkan tangannya. Syifa menyambut uluran tangan itu dengan tangan kirinya.
"Maaf ya, tangan satunya sedang istirahat." ucap Syifa tersenyum, membuat Adam semakin merasa bersalah.
Beberapa menit berlalu semuanya asik saling bercanda, ketegangan antara Akmal dan Adam pun berangsur mencair. Laki-laki itu bisa menguasai dirinya.
"Saya permisi dulu ya, Tan. Paman. Ada urusan yang harus saya kerjakan. Oh, ya. Abi titip salam, maaf kalau tidak jadi mampir ke sini. Ada panggilan mendadak dari Indonesia, jadi Abi harus segera pulang."
"Oh, tidak apa-apa. Pasti ini juga berkat doa dari bang Dzaki. Terimakasih sudah banyak membantu kami ya, Nak. Maaf kalau kami merepotkanmu." ucap Juna, Hafidzh tersenyum dan menjabat tangan kedua orang tua tersebut.
"Cepat sembuh ya, Fa! Anastasha!" Hafidzh berpamitan dengan dua perempuan beda kewarganegaraan itu. Sementara dengan Adam, Hafidzh menepuk pundaknya saja.
\=\=\=\=\=
__ADS_1
Mood saya sedang berserakan gaeees, masih susah ngumpulinnya, segini dulu aja ya🤫