The Secound Choice

The Secound Choice
Tujuh Lima


__ADS_3

Subuh ini sangat dingin, dengan malas Syifa beranjak dari tempat tidurnya berjalan sambil mengerjapkan mata menuju kamar mandi. Dinginnya air membuat matanya seketika terang, kantuk pun menghilang.


Alunan Adzan subuh memberikan efek senyuman yang tidak berhenti mengembang diwajah ayunya, suara itu membuatnya semakin merasakan jatuh cinta lagi dan lagi kepada laki-laki yang tengah mengumandangkan Adzan tersebut.


Selesai melaksanakan ibadahnya, seperti biasa Syifa membereskan tempat tidur dan mengecek barang-barang yang sayang untuk dibersihkan versi semua suami tidak terkecuali Hafiz suaminya. Ya ... Apalagi kalau bukan pakaian yang sudah dipakai tapi dibiarkan menggantung disetiap tempat yang bisa dialih fungsikan sebagai gantungan baju.


Setelah semuanya tampak rapi, Syifa mengecek telepon genggamnya. Tapi, ada sesuatu yang sepertinya tidak lengkap. Gadis itu mencari hape Hafiz yang biasanya juga bersanding diatas nakas bersama handphonenya tapi kali ini barang itu tidak ada.


"Kenapa ke Masjid bawa Hape?" gumamnya,


Tidak terlalu ambil pusing dan berusaha berpositif thinking, Syifa membawa bakul baju kotor turun ke bawah. Hal yang seharusnya dikerjakan oleh Art, tapi Syifa mau melakukannya sendiri. Rasanya, kamar itu adalah privasi, hanya dia dan suaminya saja yang boleh keluar masuk dari sana. Untuk orang lain bukan tidak boleh, tapi lebih baik tidak kecuali dalam keadaan darurat.


"Sudah shalat, Bi?" tanya Syifa dari atas tangga, melihat Art mereka sudah mulai beberes di dapur


"Eh ... sudah,Neng." jawab Bibi mengumbar senyum, senyuman yang penuh ke ikhlasan mengabdikan diri di keluarga Hafiz dari laki-laki itu masih dalam proses hadir kedunia.


\=\=\=\=


Syifa menutup mulutnya, agar suara tangisannya tidak terdengar. Setelah merasa cukup untuk berada disana, perempuan berpiyama hijau itu kembali naik menuju kamarnya.


Syifa menenggelamkan wajahnya pada bantal, menumpahkan segala kekesalan dan kesedihannya yang datang secara bersamaan.


Terdengar suara knop pintu bergerak, ucapan salam dari arah sana pun terdengar. Syifa duduk dan menjawab salam tersebut dengan wajah yang memerah, membuat Hafiz terkejut dan mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam! Kenapa Mas!! Kenapa Mas sejahat ini ke Syifa?!"


"Kenapa? Mas buat salah apa?" Hafiz ingin mendekat tapi gerakan tangan Syifa membuatnya mengurungkan niatnya


"Syifa tau, setelah akad nikah semua tanggung jawab Papa beralih ke suami Syifa, Syifa tau kalau semua yang ada pada diri Syifa termasuk kebebasan sendiri itu pun sudah menjadi haknya Mas. Tapi Syifa juga punya nyawa Mas, bukan boneka! Walaupun syifa seorang dokter tapi pilihan Syifa sendiri untuk tidak bekerja setelah Syifa menikah.


Aku sudah bahagia dengan keadaan ku sekarang, Mas. Hanya kurang anak saja! Kita memang belum punya anak! Aku belum bisa memberikan mu kebahagiaan itu ... Hiks ... Hiks" Isak tangis Syifa membuat Hafiz kembali ingin mendekat dan memeluk erat istrinya tersebut


Awalnya Syifa berontak, namun tenaga Hafiz pasti lebih kuat sehingga akhirnya gadis itu diam tanpa melawan membiarkan suaminya memeluk.


"Kenapa Mas mau kita berpisah? Kenapa Mas mau Syifa ke Jerman sendirian? Syifa nggak mau melanjutkan kuliah Syifa, Mas. Biarkan seperti ini saja!" rengeknya menatap suaminya sendu,


Hafiz akhirnya tau, kenapa istrinya tiba-tiba menjadi seperti saat ini. Ternyata pembicaraannya dengan profesor di teras rumah tadi di dengar oleh Syifa.


"Maaf kan, Aku. Aku memang tidak mengerti apa yang istriku mau. Maaf, Syifa! Aku memang tidak bisa berubah menjadi Fauzi yang sangat mengerti segala ke inginanmu."


"Angkat! Mungkin bicara dengannya membuat sedih mu hilang!" Hafiz mengambil ponsel Syifa yang tengah di isi daya. Laki-laki itu lalu pergi mengambil jas dan tas kerjanya, lalu keluar sambil membanting pintu.


Syifa menatap nanar ke arahnya, lalu beralih menggulir ikon telpon berwarna hijau di ponselnya


"Iya, Zi." ucapnya


Pembicaraan pun berlangsung, ternyata ada kabar gembira dari sana. Fauzi kini telah menjadi seorang ayah, Syifa ikut senang dan benar-benar senang mendengarnya.

__ADS_1


"Apa mamanya juga sehat?" tanyanya pula


Fauzi menjelaskan keadaan istrinya yang baik-baik saja, hanya saat ini ... Yoli sedang tertidur.


Syifa menyibak tirai kamarnya, melihat kebawah setelah mendengar suara gesekan pagar rumah mereka. Syifa melihat Hafiz pergi, laki-laki itu sempat melihat ke arahnya sekilas namun benar-benar pergi meninggalkan rumah mereka.


Ada rasa bersalah dalam lubuk hatinya yang paling dalam, namun rasa kesal karena Hafiz dengan sepihak ingin mengirimnya kembali ke Jerman pun hampir sama besar, sehingga kecemburuan Hafiz pun ia tepiskan, "Aku tidak ada apa-apa dengan Fauzi, kenapa cemburu kepadaku!" umpatnya dalam hati membela diri


Pagi itu kedua anak manusia yang telah sah dimata agama menjadi suami istri, hidup berlapar-lapar. Karena, dari masing-masing sama-sama ingin menyiksa dirinya sendiri atau mungkin sebenarnya mereka merasa hampa jika tidak makan bersama.


Di dapur, wanita yang hampir sepuh berulang-ulang melihat hidangan yang ada di meja makan.


"Kenapa tidak ada yang sarapan?!" pikirnya


.


.


.


.


.

__ADS_1


🥲🥲🥲🥲🥲🥲🥲🤭


__ADS_2