The Secound Choice

The Secound Choice
Enam belas


__ADS_3

"Bagaimana keadaan mba dokter, Mas?"


"Alhamdulillah sudah lebih baik. Hanya saja tangan dan kakinya patah."


"Ya Allah ... kasihan sekali mba dokter. Salamku sudah Mas sampaikan?"


"Hm ... nanti saja kita cerita lagi. Mas sudah dibandara."


"Mau pulang, Mas?"


"Ya ... kenapa? apa kau lebih suka aku disini?"


Pertanyaan terakhir percakapan melalui pesan singkat itu hanya dibalas dengan emoticon tertawa disusul dengan kata 'hati-hati'.


"Aku pulang my princes ... semoga Tuhan memberikan mu seseorang yang mencintaimu lebih dari aku." Fauzi mantap melangkahkan kakinya memasuki pesawat yang sudah terparkir beberapa waktu lalu


Duhai pemilik semesta, ambillah seonggok daging yang kau berikan rasa cinta yang hanya untukknya ini. Tempatkan ia ditempat yang paling tinggi sehingga tidak ada yang bisa melampauinya.


Nanti ... jika Kau sudah mengizinkan, aku ingin cinta itu kembali bersama ku dan semoga kami menjadi satu .


-Fauzi-


Seolah menatap sesuatu dari jendela pesawat saja, padahal ingatannya jauh menerawang kemasa-masa indahnya dulu bersama pujaan hati.


Bukan hal yang mudah, tiga tahun mereka melalui pasang surut hubungan percintaan dimulai dari sahabat yang saling jatuh cinta, lagi sayang-sayangnya harus ldr pula saat kembali bisa bersama takdir justru memisahkan mereka selamanya.


"Om yakin sekali ... ketetapan yang mahakuasa pasti akan indah. Jika sesuatu yang terjadi sesuai dengan kehendak kita itu baik, jika sesuatu yang terjadi sesuai dengan kehendak Allah, itu pasti lebih baik. Jangan mengatur Tuhan, kita yang butuh Dia ... kita ini hamba, Nak. Pulang lah!


Om rasa, jika kau menemuinya justru akan menambah lukanya. Dia sudah bersusah payah melupakanmu, sampai harus membayar mahal dengan meng-istirahatkan kaki dan tangannya seperti itu.


Zi ... Om akan segera menikahkan Syifa. Mungkin dengan begitu ... Ah, Insya Allah bukan mungkin maksud saya, Insya Allah dengan dia menikah rasa cinta yang baru akan tumbuh dengan sendirinya seiring berjalannya waktu, dan cinta lamanya berangsur pudar" Fauzi terus mengingat ucapan papa Adzka,


\=\=\=\=


Akmal, Papa Adzka dan mama Juna saling bergantian memeluk Syifa. Enggan rasanya mereka meninggalkan gadis itu di negara yang sangat jauh dari tempat tinggal mereka.


"Fa sudah tidak apa-apa, Ma."


"Ya, mama sudah melihatnya. Tapi tangan mu dan kakimu ini? bagaimana mama bisa tenang meninggalkanmu. Ikut sajalah pulang, nggak usah lah sekolah jauh-jauh begini ...." Mama Juna kembali ragu


"Papa pulang sendiri saja ya." rengek mama Juna

__ADS_1


"Ma ... kesehatan mama juga harus di prioritaskan. Tangan dan kaki Syifa sebentar lagi juga sembuh kok, Ma.


Mama itu nggak boleh jauh-jauh dari dokter mama. Mama harus selalu cek jantung mama, Ok."


"Lagipula Natasha juga disini kok, Ma." Syifa meyakinkan mamanya kembali


"Iya, Tante. Natasha janji ... Sha nggak akan pulang ke Rusia sebelum Syifa benar-benar bisa berjalan sendiri." Natasha menunjukkan kedua jari telunjuk dan tengahnya.


"Kalau kakak mau Akmal juga bisa urus cuti kok!" timpal Akmal pula


"Nggak usah! kakak tau kau ada apa-apanya!" jawab Syifa ketus


"Ada apanya cemana? ish ... gini nih kalau sudah sehat kan."


"Alaah ... kakak itu kenal kau dari bayi!" gadis itu melotot


"Sudah sana pulang kau! kerja yang bener!"


"Iya, iya ... Aku pulang dulu ya kak. Kalau perlu apa-apa telpon saja aku. Cusss langsung otw lah pokoknya." Akmal mencium tangan kakaknya


"Hah sok ok kau!"


"Namanya usaha ...." bisik laki-laki itu pula


"Pernikahanmu sudah akan papa persiapkan. Sepertinya menikah memang jalan keluar dari masalahmu ini. Papa sudah punya kandidat." bisik laki-laki paruh baya itu lalu mengecup kening anaknya


Akhirnya mobil Hafidzh membawa mereka pergi meninggalkan Syifa dan Natasha. Syifa melambaikan tangannya menatap mobil hitam itu sampai hilang dari pandangannya.


"Hafidzh baik banget ya ... nggak nyangka ternyata dia bisa sehangat itu sama orang lain."


"Memangnya biasanya dingin?" tanya Syifa


"Hm ... bukan lagi. Kutub Utara say."


"Kamu ingat nggak teman yang waktu itu aku ceritakan?"


"Yang mana?" Syifa mengingat-ingat


"Ooo ... jadi itu orangnya?"


"Iya sih, dingin banget orangnya. Dia juga tuh orangnya yang waktu itu ketemu di kantin."

__ADS_1


"Selamat siang nona-nona. Kita berangkat sekarang?"


"Lah ... kapan nyampeknya, Dam?" mereka berdua sampai tidak menyadari kehadiran Adam disana


"Lima menitan-lah. Ayo ... kita berangkat sekarang. Jadi mau terapi kan?"


"Jadi dong!" jawab Syifa dan Anastasha bersamaan. Mereka pun juga pergi menuju rumah sakit


\=\=\=\=


"Jadi mas nggak di izinin ketemu sama mba dokter?" laki-laki yang diajak bicara perempuan berjilbab panjang itu mengangguk


"Kenapa?"


"Empat hari tertidur tanpa sadar sedikitpun itu kata papanya adalah gangguan mental, namanya mas lupa. Intinya Syifa seperti itu karena tidak mau menerima takdir yang sudah terjadi padanya." jelas Fauzi


"Astaghfirullah ... ini semua karena Yoli, Mas. Maafkan saya." perempuan itu tertunduk, perlahan butiran-butiran krital jatuh dari sudut matanya


"Kamu tidak tau apa-apa, Dek. Ini semua karena aku yang tidak bisa tegas mengambil keputusan. Aku menyakiti dua perempuan sekaligus. Aku yang salah ... aku yang salah." Fauzi tersedu, tidak perduli seandainya Yoli mengatakan dirinya cengeng.


"Yoli ikhlas kalau mas mau menikahi mba dokter. Atau kalau memang yang terbaik adalah perceraian Yoli nggak apa-apa, Mas." ucap perempuan itu lirih sambil memeluk suaminya


"Jangan asal ngomong kamu." Fauzi terdiam, ia memegang kedua bahu istrinya. Walaupun dia masih belum bisa menerima istrinya tapi belum pernah terpikir untuk melakukan hal itu bahkan ini keluar dari mulut istrinya


"Yoli serius, Mas. Untuk apa kita menjalani semua ini. Mas hanya menyakiti diri mas sendiri. Yoli juga ingin punya suami yang juga mencintai istrinya, bukan bertepuk sebelah tangan seperti ini." Yoli masih menunduk, gadis itu tidak kuasa menatap mata suaminya


"Bertepuk sebelah tangan?" Alis Fauzi berkerut


"Kau mencintaiku?" tanyanya


"Yoli mencintai suami Yoli, Mas. Nggak salah kan? Allah memberikan rasa cinta ini saat namaku dan nama bapak ia sebutkan dihadapan penghulu. Allah malah memupuk rasa itu setelah aku menjalaninya dan tau kalau suamiku sangat menyayangi ibunya." airmata tidak berhenti menetes tapi saat bercerita Yoli selalu tersenyum bahkan menampakkan deretan gigi putihnya


"Maaf kan aku, Dek. Maaf ... aku benar-benar tidak menyadari itu" Fauzi memeluk istrinya yang sekarang tangisnya menjadi semakin kencang.


"Betapa egoisnya aku, Tuhan" umpat Fauzi dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


.


apakah Fauzi sampai dititik terakhirnya untuk move on dan menerima Yoli?


__ADS_2