
Pagi
Syifa mengerjapkan mata memindai cahaya lampu temaram yang masuk ke indra penglihatannya. Lalu kembali menarik selimut untuk melanjutkan mimpinya yang sepertinya belum usai.
"Ck! Aku nggak bisa tidur lagi!" gadis itu bangun, duduk menyandar di sandaran tempat tidurnya sambil terus mengingat hal yang baru saja dia alami.
"Subhanallah! Subhanallah!" Syifa mengucap kalimat pujian kepada Rabb-nya
Mimpi itu
Syifa berjalan kaki sendirian, sepertinya tujuannya akan pulang kerumah. Tapi rumah tempat tinggalnya terasa sangat jauh walau bangunan itu sebenarnya tampak diujung jalan yang searah dengannya.
Melewati sebuah gedung seperti ruko bertingkat, ada sesuatu hal yang membuatnya tertarik. Ada beberapa pasangan muda berbaris disana seperti sedang mengikuti kompetisi, tapi entahlah. Dia juga tidak tau itu kompetisi apa, yang jelas Syifa dengan jelas mendengar hadiah uang yang akan didapatkan bernilai fantastis.
Syifa ingin ikut, tapi dia sadar kalau itu hanya bisa diikuti oleh para pasangan sementara dia hanya berjalan sendiri.
Syifa lalu melanjutkan perjalanannya. Letih! Sudah pasti tapi gadis itu ingin pulang dan akhirnya kembali menapaki jalan tanah yang sedikit berbatu.
Banguna putih dengan beberapa pilar berdiri dibeberapa sudutnya membuat rumah itu tampak sangat kokoh. Tapi sudah begitu dekat jarak antara Syifa dengab bangunan itu, tiba-tiba ada anak tangga yang harus ia lalui sebelum sampai ke pintu utama.
Anak tangga itu sangat banyak, berwarna putih bersih mengkilap. Tubuh Syifa pun serasa ringan dan melayang melalui puluhan anak tangga tersebut. Di bagian anak tangga yang paling atas, Syifa melihat sosok wanita berbaju pink dengan jilbab lebar berwarna senada, sosok itu sangat ia kenal. Perempuan yang menjadi rollmode, standart ke solehah-han seorang wanita, itu yang selalu ia pikirkan. Sosok itu adalah Ustadzah Oki, perempuan dengan kepintaran dan kesolehan yang selalu ia idolakan. Ia ... Syifa memastikan memang benar itu memang dia!
Tapi bukannya ia bisa duduk sejajar dengan wanita itu, justru ia melampauinya. Syifa melewati ustadzah tersebut dan justru duduk diposisi yang paling istimewa. Paling atas! Ya ... Hanya dia satu-satunya yang boleh masuk ke tempat itu.
Syifa yang menggunakan pakaian serba putih duduk bersimpuh menatap luasnya tempat yang tadinya ia kira rumah. Tapi tempat itu bukanlah rumah, melainkan sebuah bangunan seperti rumah ibadah.
Syifa menatap langit-langit bangunan itu, begitu takjub dengan keindahan bentuk dan juga ornamen yang menghiasinya. Satu dinding bermaterial kaca tiba-tiba berada disampingnya dan terdengar suara yang menjelaskan bahwa "Tempat ini adalah tempat yang dilewati matahari!" dan dengan dinding kaca tersebut Syifa dapat melihat matahari terbit begitu indah tanpa kesilauan sinarnya.
Subhanallah! Subhanallah! Kalimat pujian itu ia dengar dengan jelas.
"Subhanallah, matahari pun selalu berdzikir!!" ucapnya lalu mengikuti kalimat pujian itu juga.
Lalu tubuh itu pun terjaga dari mimpinya.
***
__ADS_1
"Apa maksud dari mimpi ku itu ya, Allah. Kenapa mimpi itu terasa begitu indah?" ucapnya sendirian. Ingin rasanya mengulang kembali, tapi bagaimanapun juga tidak akan pernah ada mimpi yang berjilid seperti sinetron.
Syifa pun akhirnya memakai sendal tipis berbulu, berjalan menuju jendela yang tertutup tirai dan membukanya.
"Hm ... Masih gelap! Belum subuh ya?! Eh ... Subuh?! Astaga ... Aku belum shalat!" ucapnya menepuk jidat dan berlari menuju pintu kamar mandi.
\=\=\=\=\=
Hari ke tiga papa Adzka berada dirumah mertuanya. Laki-laki itu sedang menikmati secangkir kopi dan dua buah roti berselai kacang.
"Pa!"
"Hm ... Kenapa, Sayang?"
"Papa jadi pulang?"
"Jadi lah. Besok kan Papa kerja."
"Hm ...." Syifa duduk disebelah papanya, kepalanya kini bersandar dibahu cinta pertamanya itu
"Syifa mimpi aneh ... Tapi indah!" ucapnya masih pada posisi semula
"Aneh kok indah!? Cerita dong ke papa!" ucap papa Adzka pula, lalu Syifa menceritakan mimpinya dengan antusias tanpa menskip satu bagian pun.
Setelah mendengar penuturan anaknya, papa Adzka tidak banyak berkomentar.
"Semoga mimpi mu itu pertanda baik. Mungkin juga kamu kurang berdzikir sehingga Allah mengingatkan nya melalui mimpi." ucap papa Adzka
Kopinya telah habis, namun roti selai kacangnya masih menyisakan satu lembar lagi.
"Tolong ambilkan papa air putih, Nak. Kopi papa habis."
"Iya." Syifa beranjak memenuhi perintah ayahnya
Mobil hitam memasuki area pekarangan rumah nek Lia. Kaca mobil pada bagian pengemudi terlihat turun setengah badan. Sehingga papa Adzka tidak perlu menerka-nerka siapa yang datang pagi-pagi begini.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Om!" sapa Giandra menghampiri papa Adzka.
"Wa'alaikumsalam, Ndra! Ayo sarapan." ajak Papa Adzka, Giandra pun duduk berhadapan dengan laki-laki paruhbaya tersebut, Syifa datang membawa dua gelas air putih dan meletakkannya diatas meja.
"Pas banget lagi haus! Tau aja kamu, Fa." Giandra mengambil satu gelas air putih tersebut dan meneguknya tandas
"Eh! Iiih ... Jayen, itu punya ku." cebik Syifa,
Memang benar, air putih yang ia bawa itu memang untuknya. Air putih dengan beberapa blok ice batu.
"Kan bisa ngambil lagi, Syifa. Nggak boleh gitu sama tamu!" ucap papa Adzka pula
Syifa melipat tangannya di dada, bibirnya maju beberapa centimeter, membuat kedua laki-laki beda generasi itu masing-masing mengulum senyum.
"Kamu persis mama mu, Sayang." batin papa Adzka teringat hal serupa pun sering dilakukan mama Juna dulu.
Seperti tidak memperdulikan ekspresi Syifa, papa Adzka dan Giandra malah berbincang.
"Kata Syifa, Om pulang hari ini?"
"Iya, Insya Allah. Siang nanti." jawab papa Adzka
"Kenapa ini? Apa mungkin dia ingin melamar anakku. Oh ... Aku harap jangan ya Allah. Dia memang pemuda yang baik, tapi rasanya aku tidak ikhlas melepas anak ku untuknya." batin papa Adzka
.
.
.
.
.
Like, vote, krisar ya please 🙏😊
__ADS_1