The Secound Choice

The Secound Choice
Sebelas


__ADS_3

"Kenapa bisa seperti ini, Nak. Ya Allah. Syifa! bangun, Sayang. Lihat! Papamu ada disini!" mama Juna memeluk tubuh itu. Genap dua hari sudah Syifa terus saja tertidur.


"Apa kata dokter?" tanya Papa Adzka kepada Hafidzh. Pemuda itu pun menjelaskannya. Papa Adzka mendengarkan dengan seksama.


"Huuuuft, Qadaarullah!" Papa Adzka menepuk bahu Hafidzh lalu melangkah mendekat kepada anak gadis satu-satunya itu.


"Assalamu'alaikum, gadis cantik papa!"


"Bangun, Nak. Sudah dua hari tidurnya. Apa nggak malu sama teman-temannya disini nih!" Papa.Adzka melihat sekitar, beberapa perempuan berjilbab panjang tampak ada disana.


"Katanya kau sudah ikut komunitas muslim Turki! ternyata benar ya, Nak. Kamu memang benar-benar pede dekat dengan mereka. Lihat! mereka datang menjengukmu. Apa kamu tidak malu tidur terus, Sayang?" Papa bicara dengan sangat lembut. Semua orang yang ada disana yak kuasa menahan haru.


Papa Adzka tiba-tiba mengingat sesuatu. Ibarat bola pijar yang menyala, laki-laki itu tersenyum dan mendekati anaknya. Lebih dekat lagi.


"Apa kau sudah siap papa nikahkan? Papa sudah menemukan jodoh untukmu seperti yang kau minta!" bisik papa Adzka di telinga kanan Syifa.


\=\=\=\=


"Kami permisi, Akhi." Anna berpamiyan dengan Hafidzh setelah terlebih dahulu berpamitan dengan kedua orang tua Syifa, Akmal dan juga Anastasya.


"Terimakasih sudah datang. Mohon doanya semoga Syifa cepat di beri kesembuhan." Hafidzh menangkupkan kedua tangannya


Mama Juna melihat itu, dia benar-benar melihat sosok yang paling ia rindukan.


"Bagaimana pendidikanmu, Nak?" ucapnya setelah para jilbaber pulang.


"Eh, Tante. Alhamdulillah sudah selesai tinggal menunggi pengesahan saja." jawab Hafidzh sopan.


"Oh, Alhamdulillah. Sama dengan Natasya?" Mama Juna kembali bicara, melihat alis Hafidzh yang berkerut perempuan itu kembali bicara.


"Itu ... Anastasya!"


"Oh, Iya Tan! sama. Kami satu angkatan sewaktu ambil gelar dokter dulu. Sekarang juga sama hanua saja beda spesialis saja." Mama Juna mengangguk-angguk.


"Kalau saja waktu itu Syifa langsung lanjut mengambil spesialis mungkin akan segera menyusul kalian!"


"Semuanya sudah ada jalannya, Tan."


"Kau jadi dokter spesialis apa?"

__ADS_1


"Mm ... kangker, Tan. Hafidzh tidak mau lagi ada orang yang terlambat mengetahui penyakit itu. Walaupun kesembuhan hanya Allah yang menentukan tapi setidaknya usaha sedini mungkin itu menurunkan resiko kematian."


"Tante bangga sama kamu! Mila pasti bahagia punya anak seperti mu, Nak. Paket lengkap! Dunia sempurna, Akhiratnya maasya Allah ...."


"Tante bisa saja. Hafidzh hanya melakukan yang Hafidzh bisa untuk Umma."


"Mila dan bang Dzaki pasti sangat bahagia mempunyai anak sepertimu, Nak. Oh, ya ... bagaimana kabar Abimu?"


"Alhamdulillah, Abi sehat. Sekarang Abi sedang di Makkah. Kalau tidak ada halangan mungkin lusa Abi akan mampir ke sini."


"Kau masih belum punya ibu sambung, Fidzh?" laki-laki itu menggeleng, mendengar pertanyaan mama Juna.


"Kata Abi, kalau Abi mau melakukannya seharusnya sejak Hafidzh masih kecil, Tan. Mahabbah Abi tidak pernah hilang kepada Umma. Abi menginginkan Ummalah yang menjadi bidadari nya di syurga kelak." mata mama Juna berkaca-kaca mengingat perempuan solehah yang pernah ia kenal dulu.


"Aamiin ya, Allah ...." Mama Juna mengamini ucapan anak dari sahabat nya tersebut.


"Bisakah kau antarkan tante mu ini ke kosan Syifa, Nak? Tante mu sebenarnya sedang tidak sehat." Papa Adzka datang menghampiri mereka.


"Ih, apa sih mas ini. Siapa yang sakit!"


"Sayang, Jangan bandel! Jantungmu itu fikirkan! kau harus banyak istirahat. Sudah ada aku dan Akmal disini, Hafidzh juga slalu stanby, yakan Fidzh!" Papa Adzka tersenyum, Hafidzh menggaruk kepalanya yang tak gatal


"Tapi kalau ada apa-apa cepat kabari aku!"


"Ayo, Nak. Kita pulang dulu. Nanti aku akan datang membawa makan malam!" ucap mama Juna


"Tidak usah! Jangan kemana-mana. Malam ini tidurlah di kosan Syifa dengan Natasya. Biar papa yang jaga Syifa disini. Jangan membantah!" Papa Adzka langsung mengucapkan kata-kata sakti yang membuat istrinya itu tidak berkata apapun lagi.


"Biar Akmal saja yang antar boleh ya, Pa. Bang! Akmal pinjam mobil abang ya." Akmal menatap papa Adzka dan Hafidzh bergantian.


"Kau kan tidak tau kosan kakakmu dimana!"


"Kan ada Natasya, Mama."


"Baiklah, mana kuncinya, Nak? sepertinya paman juga perlu berbicara serius pada mu." Papa Adzka meminta kunci mobil milik Adzka.


"Mau bicara apa, Mas?" bisik mama Juna kepada suaminya


"Ini urusan laki-laki!" bisik papa Adzka tapi penuh dengan penekanan.

__ADS_1


\=\=\=\=


Memasuki hari ketiga, Syifa masih belum memberikan respon apapun.


"Psikosomatis! mungkin pasien pernah merasakan sesuatu yang membuatnya sampai kehilangan harapan."


"Apa anda pernah mendengar istilah ini, Pak? Saya tau anda juga seorang dokter kan?" dokter yang menangani Syifa berbicara dengan papa Adzka.


"Ya ... aku pernah mendengar hal itu. Dan itu memang benar, dulu aku berpikir itu hanya pura-pura saja, tapi sekarang aku melihat sendiri! tidak mungkin anakku bertahan pura-pura tidur sampai tiga hari." Dokter tadi mengangguk-angguk mendengar penuturan papa Adzka.


"Saran saya, cobalah ajak dia bicara! seperti orang yang sedang koma, mereka bisa mendengar apa yang kita ucapkan. Semoga nanti anak anda memberikan respon yang baik!"


"Saya permisi!" Dokter itu pun keluar dari ruangan.


"Jadi apa yang harus kita lakukan, Mas?"


"Apa aku minta tolong saja agar Fauzi datang kesini?" Mama Juna mengambil ponselnya


"Untuk apa?!!"


"Apa kau rela menjadikan anakmu istri kedua dan pemenyebab keretakan rumah tangga orang?" Papa Adzka mengambil ponsel istrinya. Mama Juna menggeleng.


"Seperti nggak ada laki-laki lain saja!" jawabnya


"Nah itu tau!"


"Ajak saja Syifa bicara apapun. Mamanya kan paling jago kalau di ajak bicara! Aku mau ke kantor polisi!"


"Ya sudah lah. Mas pergi dengan siapa?"


"Hafidzh, dia sudah menunggu di bawah."


"Oh, ya. Dari tadi dia belum kemari ya."


"Dia sibuk mengurus kelulusannya. Nanti juga kalau sudah selesai kesini."


.


.

__ADS_1


.


Terimakasih like dan komennya teman2🙏


__ADS_2