The Secound Choice

The Secound Choice
Delapan


__ADS_3

"Apa semua ini, Zi? kenapa kau sembunyikan semuanya dari bunda, Nak?" lirih perempuan itu, matanya terus mengawasi barangkali menantunya ada disekitar situ.


"Kenapa kau tidak menolak dan menjelaskan hubungan kalian ke bunda? Ayah juga! kenapa kalian semua berkorban demi aku ... hiks ... hiks, bagaimana Syifa sekarang?"


"Syifa sekarang di Jerman, Bun. Dia melanjutkan pendidikannya disana. Berulangkali Syifa menyuruh Zi melupakannya, Bun. Tapi ... Maaf, sampai saat ini belum bisa. Zi belum bisa membahagiakan bunda." laki-laki tampan itu menunduk.


"Lalu bagaimana sekarang, Yah? apa yang harus kita lakukan! Ada Yoli saat ini? Dia juga gadis yang sangat baik ...." selain merasa bersalah, bunda juga merasa kasihan kepada menantunya tersebut.


"Kalau menurut Ayah, lebih baik kau coba membuka hatimu, Zi! Percaya kepada takdir yang sudah ditetapkan oleh yang maha kuasa, ini bagian dari rukun iman! kau sebagai muslim harus bisa menjalankannya! Ijab Qabul bukan hanya sekedar ucapan, tapi janji kita kepada Allah. Tanggung jawabmu sudah bertambah, Nak. Baktimu bukan hanya untuk ibumu saja saat ini, tapi kau punya satu tanggung jawab lagi yaitu membahagiakan istri!


Mulailah dari menjadi temannya, semoga lambat laun perasaan itu berubah setelah kau lebih mengenalinya. Tapi jika kau tidak menemukan kenyamanan setelah di jalani nanti, Allah juga membolehkan hambanya untuk mengakhiri sebuah hubungan, meskipun itu suatu hal yang ia benci!"


"Kau sudah dewasa, wawasanmu juga luas, pengetahuanmu juga tidak sedikit! Ayah percaya kau bisa, Nak." Ayah menepuk pundak Fauzi


Tok ... tok ... tok!


"Assalamu'alaikum, Ayah. Bidannya sudah datang." Yoli membuka pintu setelah mengetuk dan mengucapkan salam terlebih dahulu. Dibelakangnya menyusul seorang wanita berusia 40-an membawa tas hitam kecil.


"Oh, Alhamdulillah sudah siuman. Ibu kenapa? Apa yang dirasakan, Bu?" tanya perempuan itu ramah


"Saya jadi ikutan panik tadi, kebetulan motor saya sedang dibawa suami mengantar anak saya mengaji di masjid. Jadi saya ikut si ibu guru ini, Masya Allah ... kemayu-kemayu gini bawa motornya seperti Valentino Rossi, Bu." sambung perempuan itu pula


"Hati-hati bawa motornya, Nduk. Jangan di ulangi lagi, Bunda tidak mau ada yang sakit lagi di keluarga kita ini." ucap bunda memegang tangan Yoli, menantunya itu kini berada disampingnya


"Namanya panik, Bun." jawab Yoli tersenyum


\=\=\=


"Cepat sembuh ya, Bu. Assalamu'alaikum." pamit perempuan itu.


"Mari, Bu. Saya antar. Janji deh kali ini nggak akan ngebut lagi hehe." ajak Yoli, gadis itu sudah memegang kontak motornya.


"Biar mas saja yang mengantar, Dek!" Fauzi mengambil kontak motor di tangan Yoli, darah Yoli berdesir, baru kali ini laki-laki itu memanggilnya dengan sebutan Dek.


"Tapi, Mas! Mas kan masih nggak enak badan."


"Sudah tidak apa-apa kok. Ayo, Bu. Kita berangkat sekarang!" ajak Fauzi kepada bidan tersebut.

__ADS_1


"Hati-hati, Mas!" Yoli mengantar suaminya dan bidan itu sampai ke depan rumah. Wajah perempuan itu cemas, mencemaskan suaminya. Takut kalau-kalau tiba-tiba kepalanya kembali pusing seperti tempo hari.


"Sudah, Nak. Masuk saja tunggu Zi di dalam. Dia sudah tidak apa-apa kok. Sana temani Bunda mu!" Ayah datang menghampirinya.


"Iya, Ayah. Astaghfirullah! Ayah kan belum makan! Ayo, Yah ... makan dulu. Biar makanan bunda Yoli bawa ke kamar saja!" perempuan berjilbab panjang itu bergegas menuju dapur,


"Kau benar-benar memperlakukan kami dengan baik, Nak. Semoga Allah segera membukakan hati anakku." Doa Ayah dalam hati.


Dua puluh menit berlalu, Suara motor terdengar memasuki pekarangan rumah. Disusul ucapan salam.


"Ayo, Zi. Makan!" ucap ayah dari dapur, Fauzi menghampiri.


"Bunda belum makan?" tanya laki-laki itu, melihat yang ada disana hanya ayahnya seorang saja.


"Itu sedang makan di kamar, lihatlah! istrimu benar-benar memperlakukan bundamu seperti ibunya sendiri!" ucap sang Ayah. Fauzi hanya tersenyum kecil tanpa berkata apapun.


"Makanlah! masakan Yoli juga enak!" Ayah menyendokkan nasi ke piring Fauzi


"Ayah! Aku bisa sendiri!!"


"Hm ... kirain! setelah beristri kau terbiasa dilayani seperti tadi!" ejek ayah


"Memang raja! suami itu adalah raja! dan istri itu adalah ratu!" Fauzi kembali diam saja, malas menjawab ocehan ayahnya.


"Eh, sudah selesai makan bundamu?" ucap Hamish melihat menantunya keluar dari kamar.


"Sudah, Yah."


"Kalau begitu makan lah! kau sendiri belum makan kan?" Menantunya itupun mengangguk.


"Ayah temani bunda kalian dulu!" Hamish pergi meninggalkan anak dan menantunya berdua saja.


"Maaf, Mas. Jadi nggak ngurusi makan mas! Harusnya mas masih makan bubur nasi kan." ucap Yoli melihat suaminya


"Tidak apa-apa. Saya justru berterimakasih karena kamu sudah menjaga bunda."


"Tidak ada kata terimakasih untuk suatu kewajiban, Mas." Yoli menunduk sejenak lalu mengambil lauk untuk menemani nasi putih yang sudah memenuhi isi piringnya.

__ADS_1


"Enak nggak, Mas?! Bunda tadi yang ajarin buat supnya. Kata bunda, kalau mas sakit mas selalu minta bunda masakin sup ayam kampung begini."


"Hm ... enak kok." jawab Fauzi sekenanya


"Padahal aku tadi berfikir kalau ini yang masak bunda! rasanya malah jauh lebih enak dari yang bunda biasa buat!" ucap Fauzi dalam hati


\=\=\=\=


Siang hari di kota Clogne. Syifa melipat mukenya dan ia masukkan kedalam tas. Perempuan itu lalu keluar dari masjid.


"Assalamu'alaikum!" sapa kumpulan perempuan berjilbab.


"Wa'alaikumsalam." jawab Syifa canggung. Dia merasa malu karena tidak menggunakan kerudung di lokasi masjid.


"Sudah selesai shalatnya?" sapa salah satu dari kumpulan itu, perempuan berkulit putih dan berhidung mancung.


"Hari ini kita ada kajian. Kalau kamu mau, boleh loh ikut." ajaknya pula


"Emm ... bagaimana ya." Syifa menggaruk kepalanya


"Kami tidak memaksa kok, hanya mengajak saja. Sebagai sesama mahasiswa muslim sudah seharusnya kita saling mengajak dalam hal kebaikan kan." ucap salah seorang lagi.


"Tapi saya ...." Syifa mengangkat kedua tangannya, seperti orang-orangan sawah.


"Bawa mukena kan? tinggal pakai itu saja. Nanti selesai kajian di simpan lagi." ucap salah satu dari kumpulan itu lagi, semuanya terlihat benar-benar ramah dan tulus


"Baiklah." Jawab Syifa lalu gadis itu mengambil mukena dari dalam tasnya.


"Sudah rapi?!" tanyanya kemudian, tidak ada lagi rasa canggung. Syifa juga tipikal orang yang mudah bergaul


"Ayo kita masuk." ajak perempuan yang pertama kali menyapa tadi


"Bagaimana kau tau kalau aku mahasiswa?" tanya Syifa disela-sela perjalanan.


"Hm ... aku sering melihatmu di kampus. Beberapa kali kita juga pernah berpapasan! tapi kau tidak pernah memperhatikan orang di sekelilingmu! kau terlalu asik dengan buku-buku tebalmu itu! dasar dokter!" jawab perempuan itu


"Hey ... kalau begitu kau juga dokter kan!"

__ADS_1


"Ya! tapi aku bukan dokter kutu buku! hahaha ...."


\=\=\=\=


__ADS_2